728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 23 Februari 2017

    “ Memaknai Tragedi Agama ”

    Setiap kali terjadi kekerasan yang mengatas namakan agama,secara serentak  tokoh-tokoh agama di negeri ini kerap mengumandangkan ujaran, bahwa agama-agama di Indonesia  tidak pernah mengajarkan kekerasan, dan kekerasan yang dilakukan atas nama agama itu tidak memiliki landasan teologis dari agama-agama yang diyakini masyarakat Indonesia.

    Tapi, pertanyaan sekarang, mengapa masyarakat begitu toleran terhadap ujaran-ujaran kebencian yang dikumandangkan dengan mengatas namakan agama, dan dalam menangani konflik yang bernuansa agama aparat kepolisian kerap bersikap lunak, jika tidak ingin dikatakan bersikap tidak netral?

    Kita tentu setuju, mengukur keberagamaan seseorang adalah sesuatu yang sulit, bahkan bisa dikatakan tidak mungkin. Memang ada banyak indikator yang dimunculkan para peneliti untuk mencoba mengukur keberagamaan seseorang, namun tetap saja hasilnya tidak bisa menjadi sebuah ukuran absolud. Hasil pengukuran mengenai keberagamaan individu itu biasanya hanya digunakan sebagai instrumen untuk pembinaan individu atau kelompok agama.

    Kita tidak bisa mengatakan bahwa pemahaman agama yang mendalam cenderung menjadikan orang eksklusif dan dekat dengan tindakan kekerasan, apalagi perasaan superioritas yang menjadikan seseorang eksklusif sesungguhnya bertentangan dengan ajaran agama yang menjujung kerendahan hati, dan kesediaan untuk hidup damai dengan sesama. Demikian juga, kita tidak dapat mengatakan bahwa orang yang pemahaman ajaran agamanya rendah dekat dengan tindakan kekerasan.

    Usaha membuktikan bahwa agama tidak punya andil dalam kekerasan yang mengatas namakan agama, biasanya  dengan meneliti  orientasi beragama seseorang. Orientasi beragama ini menjadi referensi bagaimana cara seseorang mempraktikkan atau hidup menampakkan kepercayaan dan nilai religiusnya.

    Orientasi religious ini terbagi dua, yakni orientasi-intrinsik dan orientasi ektrinsik. Orientasi intrinsik sebagai motivasi untuk mencapai tujuam agama itu sendiri, orang yang termasuk tipe orientasi religious ini, hidupnya menampakkan keyakinan agama untuk kepentingan yang diyakininya. Komitmen terhadap nilai yang diyakini lebih penting dibandingkan ibadah yang tampak. Orang religious bertipe ini secara mendalam terlibat keyakinan dan nilai yang dianut dengan cara mau berkorban bahkan mengalahkan kepentingan dirinya sendiri . Motivasi agama pada orang tersebut menjadi inspirasi langkah-langkah kehidupannya. Orientasi religious –intrinsik  mengimplikasikan agama sebagai motivasi dan sumber yang memberi pengharapan dalam menjalani kehidupan.

    Sementara orang yang tergolong religious ekstrinsik menggunakan agama sebagai alat mencapai yang bukan tujuan agama. Motif orientasi religious ekstrinsik hanya sebatas nilai dan keyakinan social atau yang tampak. Tipe ini adalah gambaran orang yang mengejar tujuan untuk kepentingan pribadi dan menggunakan agama untuk mencapai kedudukan sosial dan kekuasaan. Religius ekstrinsik dikatakan sebagai pertanda kurang dewasanya dalam beragama dibandingkan yang intrinsik.

    Dengan demikian  jelaslah bahwa kekerasan yang mengatas namakan agama dipengaruhi oleh orientasi agama yang ekstrinsik, yakni menggunakan agama sebagai alat mencapai tujuan yang bukan tujuan agama melainkan kepentingan pribadi dan menggunakan agama untuk mencapai kedudukan sosial dan kekuasaan. Tepatlah jika tokoh-tokoh agama di negeri ini sepakat mengumandangkan bahwa kekerasan yang diklaim sebagai atas nama agama tidak memiliki pembenaran agama apapun. Bahkan kekerasan merupakan musuh kemanusiaan, musuh semua agama dan harus dijauhkan dari kehidupan manusia beradab yang beragama.

    Perlu tindakan tegas

    Pemerintah, aparat keamanan harus dapat memaknai setiap kekerasan yang diklaim dilakukan atas nama agama secara tepat.  Tidak ada satu agama pun di negeri ini yang toleran terhadap tindakan kekerasan. Karena itu pemerintah, aparat keamanan harus tegas dalam menangani konflik, kekerasan yang mengatasnamakan agama apapun. Semua tindakan kriminal, siapapun aktor yang melakukannya harus ditindak dengan tegas. Demikian juga aktor yang mempropagandakan ujaran-ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama harus ditindak dengan tegas sesuai dengan hukum yang berlaku.

    Aparat keamanan tidak perlu ragu-ragu dalam menangani konflik atau kekerasan yang dilakukan  individu atau kelompok yang memakai atribut agama tertentu, karena kekerasan yang dilakukan oleh siapapun harus diberikan sanksi yang setimpal. Jika supremasi hukum ini ditegakkan maka, siapapun dia tidak akan berani membenarkan tindakan kekerasannya dengan mengatasnamakan agama.




    Penulis :  Dr. Binsar A. Hutabarat    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: “ Memaknai Tragedi Agama ” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top