728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 22 Februari 2017

    Masih Ngeyel Bilang Aksi 212 Tidak Bernuansa Politis?

    Saya sering bertanya-tanya, mengapa demo seringkali melenceng dari tujuannya. Tidak ada bedanya dengan demo 212 (21 Februari) kali ini. Pimpinan FPI Rizieq yang katanya tidak datang ternyata datang juga untuk menyemarakkan aksi 212. Kali ini Rizieq memiliki impian yang sama yang dari dulu belum pernah terwujud yaitu menyuarakan seruan yaitu penjarakan Ahok dan hentikan kriminalisasi ulama. “Siap bela negara? Siap bela agama? Siap ganyang PKI?” tanya Rizieq yang disambut takbir peserta 212.

    Rizieq kemudian menambahkan bahwa aksi 212 ini bukan termasuk makar, tidak ada niat untuk makar, atau ingin menggantikan rezim, apalagi membuat negara baru. Ini agak kontradiksi dengan pernyataan salah satu orator yang mengatakan begini, seperti dikutip BBC, “Kalau Ahok tidak ditahan juga, maka jangan kaget kalau Jokowi yang kita tumbangkan. Sudah tiga kali diingatkan dengan damai, jika tidak didengarkan maka kita revolusi,” kata sang orator.

    Orator juga bertanya ke massa, “Siap menginap?” Ah, untungnya ini tidak terjadi. Memangnya gedung DPR itu hotel? Saran saya lebih baik menginap di hotel atau di rumah masing-masing, lebih enak ketimbang hujan-hujanan dan sakit.

    Jokowi kembali diseret-seret. Ujung-ujungnya memaksakan agar aspirasi didengar dengan ancaman menumbangkan Jokowi. Apakah ini yang dinamakan aksi damai? Apakah ini tidak termasuk main ancam? Memang bukan makar, tapi ucapan tersebut terindikasi mengarah ke sana. Saya bingung dengan mereka yang terus berteriak revolusi, dan saya yakin mereka tidak mengerti makna dari revolusi itu sendiri. Berteriak lantang untuk cari sensasi dan didengarkan. Tolong jangan asal teriak revolusi kalau tidak mengerti. Benar-benar memprihatinkan.

    kalau memang tujuannya Ahok, kenapa malah ancam Jokowi? Nah, dengan begini malah terlihat jelas tujuan dari aksi ini. Pura-pura menyoroti Ahok tapi ujung-ujungnya mengarah ke Jokowi juga. Kalau kata orang ada udang di balik batu, ini udangnya malah keluar dari batu dan kelihatan.

    Sebelumnya ketua MUI Ma’ruf Amin sudah mengimbau dan melarang umat untuk mengikuti aksi ini. “Saya berulang kali menyampaikan hal ini bahwa saya tidak pernah dilibatkan dan melibatkan diri ikut demo 212, karena demo itu sangat politis,” katanya. Dia juga telah menyampaikan larangan itu di depan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Nyatanya ucapan dan imbauan Ma’ruf Amin tidak didengarkan juga. Demo jalan terus, tidak peduli meski hujan. Satu pertanyaan penting untuk para peserta, kenapa ucapan Ma’ruf Amin yang sebagai ulama dan kiai tidak juga didengarkan? Hanya mereka yang tahu jawabannya.

    Komisi III DPR menemui massa aksi 212. Ini nih yang lucu. “Hari ini, di hadapan Saudara, saya didampingi Wakil Mulfachri dari PAN dan PDI Perjuangan,” kata ketua Komisi III Bambang Soesatyo di depan gedung parlemen. Begitu mendengar ada wakil dari PDIP, massa bereaksi dan meminta perwakilan PDIP turun dari mobil komando.

    Bambang melanjutkan orasinya, “Hampir seluruh fraksi hadir menerima perwakilan Bapak Ibu sekalian, kita semua sepakat menerima aspirasi. Pertama adalah permintaan penonaktifan saudara Ahok. Kedua, menghentikan kriminalisasi pada ulama. Ketiga, hentikan penangkapan.”

    Terkait permintaan kedua, saya kurang mengerti karena kurang detil. Apakah ulama yang dimaksud mereka adalah Rizieq? Kalau benar begitu, maka saya hanya ingin bertanya. Ahok terkena kasus, sedang disidang, itu pun masih dipaksa dan minta ditahan. Apakah menurut mereka itu kriminalisasi pada Ahok? Tentu saja bukan kriminalisasi, saya berani jamin 100%. Tapi Rizieq yang terkena kasus berlapis-lapis, dilaporkan sebanyak (kalau tidak salah) 11 atau 12 kali, masih dalam tahap pemeriksaan saja sudah berteriak kriminalisasi ulama. Di mana letak keadilan itu sendiri?

    Lantas bagaimana jika, misalnya, contohnya, ada ulama yang terindikasi melakukan sesuatu yang salah? Bukan bermaksud menuduh, tapi misalkan nih, kita berandai-andai sedikit, ada seorang ulama, yang setelah diperiksa atau apa pun itu, diduga melakukan kesalahan, apakah tidak boleh diproses secara hukum karena bertentangan dengan semangat Stop kriminalisasi ulama? Jadinya ulama malah kebal hukum karena kalau diproses, itu berarti kriminalisasi. Ini yang jadi kontradiksi. Bukankah itu yang mereka suarakan pada Ahok di mana Ahok tidak boleh kebal hukum dan harus dipenjara?

    Massa yang ancam-ancam akan tumbangkan Jokowi, yang berorasi bertanya apakah siap nginap, berteriak menyuruh wakil PDIP turun dari mobil komando. Apakah ini benar-benar murni bela agama? Sepertinya saya tidak perlu jawab lagi, larangan dari Ma’ruf Amin sebelumnya sudah cukup untuk menjawab. Lagipula menurut saya massa lebih baik membela Indonesia melalui kasus Freeport yang sedang memanas. Ternyata masalah Ahok jauh lebih penting daripada membela Indonesia. Ini kalau bukan politis, apa lagi? Prihatin.

    Bagaimana menurut Anda? Suarakan komentar Anda!


    Penulis : XHardy   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Masih Ngeyel Bilang Aksi 212 Tidak Bernuansa Politis? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top