728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 27 Februari 2017

    Makna Penting Kemenangan Ahok-Djarot Di Putaran Pertama

    Banyak dari pendukung paslon nomor urut 2 Ahok-Djarot yang menginginkan pasangan ini menang satu putaran. Saya termasuk salah satunya. Apalagi, kemenangan satu putaran ini akan membuat Ahok bisa dengan segera melanjutkan proses perbaikan merealisasikan Jakarta Baru.

    Sayangnya, usaha itu harus kandas. Kini, Pilkada DKI akan memasuki putaran kedua karena paslon Ahok-Djarot tidak mencapai suara lebih dari 50 persen. Berdasarkan hasil pleno penghitungan suara Pilgub DKI paslon Ahok-Djarot meraih 42,99 persen, Anies-Sandi 39,95 persen, dan Agus-Sylvi 17,05 persen.

    Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta Sumarno, berdasarkan hasil penghitungan tersebut, menyatakan bahwa Pilgub DKI Jakarta berlangsung dua putaran. Pernyataan tersebut dia sampaikan saat menutup rapat pleno terbuka tingkat provinsi hasil perhitungan suara Pilgub DKI Jakarta 2017.

    “Sebagaimana diatur dalam pasal 36 ayat 1 dan 2 peraturan KPU No. 16 tahun 2016, jika tidak ada pasangan calon yang meraih lebih dari 50 persen maka dipastikan Pilgub DKI dilanjutkan dengan putaran kedua,” ujarnya di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (26/2/2017).

    Meski tidak menang satu putaran, kemenangan Ahok-Djarot ini menjadi sangat krusial dalam menghadapi putaran kedua. Keunggulan Ahok terhadap suara paslon lain membuktikan bahwa Ahok-Djarot masih diinginkan untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

    Kemenangan ini juga menjadi bukti bahwa lebih dari 50 persen wilayah Jakarta menghendaki Ahok-Djarot untuk melanjutkan Jakarta Baru. Dalam pencoblosan yang dilakukan pada tanggal 15 Februari memang dimenangi dengan mutlak oleh Ahok-Djarot dibandingkan dengan pasangan lain.

    Ahok-Djarot unggul di empat wilayah dalam rekapitulasi yang dilakukan KPUD DKI Jakarta, yakni Kepulauan Seribu, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat. Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristiyanto menjelaskan, kemenangan Ahok-Djarot dikarenakan kepercayaan warga terhadap kepemimpinan Ahok-Djarot.

    “Ini modal yang sangat kuat ya. Kemenangan empat wilayah itu menunjukkan besarnya dukungan, harapan rakyat bahwa Jakarta harus dipimpin oleh orang yang tidak kompromi, tegas, anti korupsi,” ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (24/2/2017).

    Menang dalam perolehan suara, juga menang dalam jumlah wilayah di Jakarta adalah bukti sahih Ahok masih dinginkan menjadi Gubernur DKI. Hal ini juga menjadi bukti bahwa warga DKI sudah dewasa dalam berpolitik. Isu agama dan SARA tidak berhasil mengalahkan kepuasan publik terhadap kinerja Ahok.

    Ahok kalah di 2 wilayah, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Ada indikasi kuat bahwa kekalahan Ahok pada 2 wilayah ini bukanlah karena kinerjanya. Ahok kalah diduga kuat karena pada 2 wilayah ini, isu SARA masih sangat kuat mempengaruhi pola pikir pemilih.

    Hal ini diungkapkan oleh anggota Tim Pemenangan Basuki-Djarot Bidang Korda Jakarta Selatan Gembong Warsono yang menyampaikan, setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Jakarta Selatan dimana Ahok-Djarot kalah dari Anies-Sandi disebabkan karena daerah ini lebih hijau.

    Dia mengakui, suara Basuki-Djarot di Jakarta Selatan kurang maksimal. “Karakteristik pemilih di Jakarta Selatan itu kan di tingkat perkampungan relatif lebih hijau begitu lho. Hijau itu maksudnya Muslim kuat, banyak di Selatan (warga) yang Muslim-nya sangat kuat,” kata Gembong, kepada Kompas.com, Sabtu (25/2/2017).

    Meski isu SARA masih sangat mempengaruhi, pada dasarnya tetap saja kepuasan publik kepada Ahok sangatlah besar. Itulah yang membuat kemenangan Ahok pada putaran pertama menjadi sangat penting maknanya. Hal inilah yang membuat kubu lawan harus kembali memeras otak untuk menghasilkan strategi baru demi menjegal Ahok.

    Tidak heran pada akhirnya muncul spanduk berisi tulisan tidak mensalatkan jenazah pembela penista agama. Spanduk bernada politis ini terpasang di 3 Masjid yang ada di Karet Jakarta Selatan. Tindakan ini menjadi wajar terjadi karena di Jakarta Selatan terkenal lebih hijau dan Ahok-Djarot terbukti kalah di Jakarta Selatan.

    Majelis Ulama Indonesia merespons beredarnya spanduk tolak mensalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama di sejumlah masjid di Jakarta. MUI mengimbau umat Islam tidak melampaui batas.

    “MUI mengimbau kepada semua umat Islam agar bersikap proporsional, tidak melampaui batas,” kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi kepada dalam keterangannya kepada detikcom, Sabtu (25/2/2017).

    Pihak Dewan Masjid Indonesia (DMI) juga sudah menerima informasi soal terpasangnya spanduk penolakan mensalatkan jenazah pembela penista agama di sejumlah masjid di Jakarta ini. DMI meminta warga tak memasang spanduk seperti itu di masjid.

    “Sebaiknya spanduk-spanduk tidak usah dipasang karena itu menimbulkan ketidakutuhan di kalangan umat. Sebaiknya umat mengedepankan silaturahmi, sehingga lebih bersifat pembicaraan hati ke hati, juga tukar-menukar pemahaman dalam keagamaan lebih mendalam,” kata Sekjen DMI Imam Addaruqutni kepada wartawan, Sabtu (25/2/2017).

    Isu SARA akan tetap menjadi sebuah usaha untuk menjegal Ahok untuk melanjutkan kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kenapa?? Karena memang hanya itulah yang bisa dipakai lagi untuk menjegal Ahok. Kinerja dan program Ahok tidak bisa diserang karena hasilnya dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh warga Jakarta.

    Kemenangan Ahok-Djarot adalah kemenangan atas isu SARA. Kemenangan yang menjadi bukti bahwa warga DKI sudah dewasa dalam berpolitik. Isu Sara diyakini akan kembali diusung pada putaran kedua. Isu yang sudah dipakai sejak Pilkada 2012 untuk menjegal Ahok dan saat ini kembali harus ditaklukan.

    Putaran kedua kembali akan menjadi perlawanan warga Jakarta terhadap isu SARA. Memenangkan Ahok-Djarot bukan lagi persoalan siapa yang menjadi Gubernur atau tidak, melainkan menjadi perjuangan tegaknya demokrasi tanpa SARA. Perjuangan yang sebenarnya sudah diparipurnakan saat Pancasila disahkan.

    Selamat berjuang warga Jakarta. Jangan biarkan isu SARA menjadi sebuah penentu siapa yang memimpin Jakarta 5 tahun ke depan. Jakarta harus menang melawan isu SARA supaya gaung kemenangan tersebut menyebar ke seantaro negeri. Supaya bangsa ini kembali dirajut dalam tenun kebangsaan dengan jembatan bernama Ahok-Djarot.

    Salam NKRI.


    Penulis : Palti Hutabarat   Sumber : Seword .COm
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Makna Penting Kemenangan Ahok-Djarot Di Putaran Pertama Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top