728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 27 Februari 2017

    Kepemimpinan Raja Salman yang Menakutkan dan Potensi Keuntungan Indonesia

    Sebentar lagi Indonesia direncanankan akan kedatangan tamu kenegaraan dari Arab Saudi. Kunjungan yang bersejarah, karena merupakan kunjungan pertama kenegaraan sejak 46 tahun lalu saat Saudi masih dipimpin rajanya yang termasyur, Faisal bin Abdul Aziz.

    Raja Salman bin Abdul Aziz, adalah raja Saudi yang baru menjabat 2 tahun lalu, menggantikan sang kakak yang meninggal dunia (Raja Abdullah) pada 2015.  Meskipun baru menjabat 2 tahun, kepemimpinan Raja Salman sudah membawa pengaruh di iklim geopolitik dunia.  Mulai dari kebijakanya untuk ambil bagian dalam intervensi militer di Yaman, dan secara terbuka mengakui bahwa negaranya merupakan pendukung dan penyandang dana gerakan pemberontak di Suriah yaitu Jaish al-Fatah. Kumpulan beberapa gerombolan pemberontak yang terafiliasi dengan Al-Qaeda.

    Beberapa kasus (pelanggaran)HAM juga mengemuka selama pemerintahanya yang belum lama. Di antaranya adalah vonis hukum mati berupa penyalipan dan pancung untuk 2 orang remaja Saudi yang baru berumur belum cukup umur. Ali Mohammed Baqir al-Nimr dan Dawoud al-Marhoon adalah 2 orang remaja yang ikut serta di aksi protes pada Februari 2012. Khusus terhadap Ali, dakwaan yang yang ditujukan sebenarnya sangat konyol, yaitu “Ikut mendukung dan menyerukan demokrasi melalui Blackberry”.

    Keduanya memang memang belum di eksekusi karena menunggu pengesahan dari Raja Salman. Tetapi dengan menilik model kepemimpinanya, hukuman mati sepertinya adalah kepastian.

    Contoh lain adalah eksekusi terhadap seorah tokoh ulama Syiah, Nimr Baqir Al-Nimr pada tahun 2016. Kasus yang dimulai sejak 2012 ini sempat memperuncing tensi antara Sunni dan Syiah di seluruh dunia. Indonesia pun tak luput menjadi medan proxy war antara Sunni vs Syiah. Sejak awal, penanganan kasus ini menuai kecaman dari penjuru dunia. Perlakuan yang tidak manusiawi berupa siksaan selama masa penahanan, minimnya pendampingan hukum dan bahkan setelah di eksekusi pun mayatnya tidak dikembalikan ke pihak keluarga.

    Kasus Nimr sebenarnya hanyalah salah satu dari serangkaian eksekusi masal di tahun 2016. Total sebanyak 47 orang di eksekusi, dimana 43 diantaranya dihukum penggal, dan sisanya sedikit manusiawi melalui regu tembak. Mayoritas adalah orang-orang Saudi sendiri yang didakwa melakukan terorisme.

    Dari sepak terjang dan gaya kepemimpinan Raja Salman, tentu banyak yang menduga-duga ada agenda tersembunyi.  Kekhawatiran terhadap efek tertentu yang ditakutkan akan mengurangi budaya toleransi yang selama ini menjadi wajah Islam Indonesia pada khususnya.

    ****

    Arab Saudi, satu-satunya negara di dunia yang namanya diambil dari nama keluarga. Nama dari sebuah dinasti yang  didirikan oleh Muhammad Ibn Saud (meninggal 1775). Kerajaan yang bercorak Monarki Absolut, dimana keputusan raja bersifat mutlak, tidak terbatas dan kekuatan hukumnya di atas segala aturan lain yang berlaku. Di dunia internasional, kerajaan Saudi identik sebagai negara dengan level pelanggaran HAM terburuk di dunia. Pemerintah melalui penerapan hukum Syariah yang ketat, bersifat sangat represif terhadap segala sesuatu yang dianggap melawan atau berpotensi menimbulkan kegaduhan.

    Indonesia ibaratnya adalah antitesa dari Saudi Arabia. Indonesia adalah sebuah negara yang menganut sistem demokrasi dan berpenduduk Islam terbesar di dunia. Negara yang setelah fase reformasi menjadi sangat terbuka dalam kebebasan berpendapat dan berekspresi. Negara yang sangat dinamis dalam memandang perbedaan, meskipun friksi  tentang agama dan SARA masih terjadi. Tetapi itu lebih bermuatan politik, sebagai kendaraan segelintir golongan dalam mencapai tujuan.

    ****

    Keuntungan bagi Indonesia.

    Daripada paranoid, mendingan kita ber-husnuzon dan menggali hal positif apa yang bisa membawa keuntungan bagi Indonesia.

    EKONOMI –  Sejumlah kerjasama ekonomi sudah diagendakan. Diantaranya adalah investasi Arab Saudi melalui perusahaan asal  Saudi, yakni Aramco, dengan nilai sebesar 6 miliar dolar AS di Indonesia. Di tengah kelesuan bisnis perminyakan, nilai investasi sebesar ini akan sangat menguntungkan. Saya adalah termasuk orang yang terkena imbas dari fluktuasi harga minyak dunia. Jadi sangat berharap Indonesia bisa mencapai kesepakatan dalam pengembangan kilang minyak domestik.  Selama ini, volume impor minyak olahan dari segi nilai lebih besar daripada nilai export minyak mentah. Sebuah kerugian besar bagi Indonesia, situasi yang selama ini menjadi bancaan bagi para mafia migas seperti Petral.

    Lebih lanjut, dalam pembicaraan bilateral nanti Jokowi juga berharap bisa mencapai kesepakatan yang berpotensi menarik investasi potensial sebesar 25 miliar dolar AS.

    Di sektor non-migas, saat ini Indonesia tengah dalam proses negosiasi alot dengan Freeport. Pemerintah bisa memanfaatkan momentum kedatangan Saudi ini untuk menaikan posisi tawar. Freeport sepertinya tidak akan gampang menyerah, jadi apapun hasilnya kelak akan lebih baguis bila Indonesia punya rencana cadangan. Melihat potensi keuntungan, saya pikir Saudi akan tertarik untuk berinvestasi .

    PERLINDUNGAN WNI – Harapan untuk perlindungan yang lebih terjamin bagi WNI di Saudi. Ciri khas pengadilan di sana adalah minimnya pendampingan hukum bagi terdakwa. Pemerintah diharapkan bisa bernegosiasi untuk mendapatkan prioritas jaminan hukum bagi WNI. Seperti diketahui, Indonesia sudah mengeluarkan moratorium untuk untuk pengiriman TKI baru ke Saudi sebagai buntut kekerasan fisik dan seksual yang masih saja terjadi. Harus ditemukan kesepakatan yang saling menguntungkan, karena bagaimanapun TKI adalah salah satu tambang devisa.

    ALUTSISTA –Arab Saudi adalah salah satu negara dengan kekuatan militer terbesar di Timur Tengah. Belanja militer kerajaan Saudi termasuk terbesar di dunia, dengan nilai 10% dari total pendapatan domestik bruto (PDB). Data terakhir, tahun 2013 nilai belanja Saudi untuk militer sebesar 67 miliar dolar AS. Sebuah potensi besar yang bisa dimanfaatkan Indonesia melalui Pindad, yang sudah terbukti bukan jago kandang di industri alutsista.

    PARIWISATA – Membuka keran wisatawan dari Timur Tengah. Bukan dari segi kuantitas, karena kalau dibandingkan dengan negara dari kawasan Asia dan Eropa jumlah wisatawan dari kawasan Timur Tengah jelas kalah. Namun para Emir minyak dan saudagar dari jazirah Arab sangat terkenal royal dalam menghamburkan uang. Sebagai negri mayoritas muslim, tidak sulit bagi Indonesia untuk memperbanyak spot wisata berkategori Syariah (spt: ketersediaan masjid, makanan halal, dsb) .

    ****

    Tetap harus waspada

    Politik Indonesia adalah bebas aktif dengan prinsip Non-Blok. Penolakan Indonesia atas ajakan Saudi untuk bergabung dalam Aliasi Militer Islam  pada 2015 lalu menjadi bukti. Keputusan Indonesia dinilai sangat tepat, karena aliansi ini hanya demi keuntungan strategis Saudi dalam menghadapi Irak, Yaman, dan Suriah.  Jokowi harus tegas seandainya dalam pertemuan nanti terselip ajakan untuk bergabung dalam pakta militer. Indonesia harus tetap konsisten dalam menempatkan diri sebagai negara Non-Partisan.

    Saudi juga royal dalam mengucurkan dana bantuan kemanusiaan maupun untuk kepentingan dakwah. Tetapi jangan lupa, bangsawan dan keluarga besar Bani Saud adalah penganut faham Wahabi-Salafi . Tidak terhitung jumlah bantuan Saudi ke bangsa kita. Bantuan untuk pembanguinan ratusan masjid, dan juga bantuan-bantuan kemanusiaan korban bencana alam. Bukan bermaksud untuk tidak tahu diri dalam menyikapi bantuan, tapi pemerintah tetap harus waspada. Bukan mustahil di antara aliran dana tersebut ada yang masuk ke kantong-kantong organisasi radikal pecinta Khilafah.

    Hilangnya identitas Nusantara?

    Ekses dari naiknya volume wisatawan Timur Tengah, dikhawatirkan akan muncul Puncak-Puncak lain di Indonesia. Sudah menjadi stereotype bila kawan-kawan dari jazirah Arab merupakan penjahat kelamin. Kawasan Puncak adalah di bukti nyata hilangnya kearifan lokal dan budaya asli akibat Arabisasi yang masif. Tempat dimana kawin kontrak sejatinya adalah prostitusi yang berbalut stempel Halal. Jangan sampai negeri ini hanya terkenal sebagai kawasan wisata birahi yang bersyariah.

    ****

    Kedatangan rombongan Raja Salman sebaiknya tidak menjadikan polemik. Kekhawatiran terhadap ancaman Arabaisasi dan budaya intoleransi memang wajar, tapi jangan sampai menghilangkan objektifitas kita terhadap pihak-pihak yang berseberangan.  Justru ini adalah peluang untuk menunjukan jati diri bangsa Indonesia yang sebenarnya.


    Penulis : Saefudin Achmad  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kepemimpinan Raja Salman yang Menakutkan dan Potensi Keuntungan Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top