728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 28 Februari 2017

    Kenapa Ngotot Bilang Kami Munafik?

    Saat Jumatan kemarin posisi saya sedang di Bandung, sholat Jum’at di sebuah mesjid megah yang dibangun oleh seorang pengusaha sukses dengan inisial CT.

    Interior mesjidnya sangat indah, sampai-sampai cukup banyak pengunjung yang foto-foto disana. Sebuah lampu gantung besar terpasang dibawah kubah masjid, dinding depan yang dihiasi nama-nama Allah, tiang-tiang tinggi menjulang menambah kemegahan masjid tersebut.

    Adzan dikumandangkan, lalu tak lama khotbah Jumat pun dimulai. Khatib membuka dengan “Ada lima tingkat haram!” Ujarnya, saya langsung tahu kemana arah ceramah dia ini. Dan benar saja ada tingkat kesekian dan contohnya adalah haram memilih pemimpin non muslim. Juga lagi-lagi dia menggunakan Qur’an terjemahan Departemen Agama. Ingin rasanya saya protes dan mengatakan bahwa hanya di Indonesia auliya diterjemahkan sebagai pemimpin. Tapi sayang ini bukan ruang kuliah, gak boleh protes.

    Kemudian dia lanjutkan “Pilih pemimpin itu bukan soal membangun jalan tol, membersihkan sungai, mengatasi banjir, tapi pilih pemimpin yang seakidah.” What?! Memang setiap kali saya tanya dengan orang yang sejenis itu, kenapa harus muslim, tidak ada yang bisa menjawab dengan logis. Padahal banyak yang meng-klaim bahwa Islam itu agama yang bisa dijelaskan dengan logika, seperti yang di-klaim oleh Zakir Naik. Islam bukan dogma tapi kita diharuskan untuk berpikir. Dan tidak ada satupun jawaban yang logis, kenapa harus muslim? Jawabannya pasti karena perintah Allah, dan itu dogma namanya.

    Lagi pula memilih pemimpin itu ya memang soal membangun infrastruktur apalagi di negara berkembang seperti Indonesia yang infrastrukturnya tertinggal. Singapura, Malaysia, sudah bertahun-tahun memiliki subway, Indonesia baru dibangun itu pun setelah 26 tahun perencanaan! Mengatasi banjir, membersihkan sungai, membangun jalan, jelas semua adalah salah satu tugas pemimpin. Lah kita kan cari pemimpin administrasi bukan imam sholat. Memangnya kalau Gubernur muslim maka setiap kali sholat dia harus ada di mesjid untuk jadi imam lalu semua warga berbondong-bondong sholat disana? Mesjid lain sepi dong.

    Saya merasa ada upaya menutup-nutupi kebenaran. Sudah banyak orang mengingatkan bahwa terjemahan Departemen Agama itu kurang tepat. Banyak yang bilang bahwa hanya di Indonesia kata auliya diterjemahkan menjadi pemimpin. Tapi kebencian terhadap suatu kaum membuat mereka buta dan tidak adil. Mereka tetap ngotot menggunakan terjemahan Departemen Agama dan menutupi kebenaran. Lalu saya teringat K-F-R yang membentuk kata Kafir juga dapat diartikan orang yang menutup-nutupi….apakah mereka termasuk kafir? Entah lah biar Allah yang menilainya.

    Saya tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada saudara-saudara se-iman. Gunakan akal kita, Allah pun menyuruh kita untuk menggunakan akal kita dan itu tersebar dimana-mana dalam Al’Quran. “Tidak kah kamu berpikir”, “Maka tidakkah kamu berpikir?”, “Apakah kamu tidak berpikir?”, “Maka tidakkah kamu memahaminya?”, dan masih banyak lagi ajakan untuk berpikir. Islam tidak mengenal dogma, Islam menyuruh kita berpikir karena Allah telah memberikan akal kepada kita. Dalam Islam akal itu digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, bukan ditutup. Maka berpikirlah. Bagaimana mungkin memegang satu terjemahan sementara terjemahan lain kita tutup-tutupi?

    Apakah kita sudah berpikir atau hanya karena kebencian semata? Begitu fokus pada satu ayat yaitu Al Maidah 51 sementara lupa dengan Al Maidah yang lain?

    “…Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka)…” [Al Maa-idah 2]

    “… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [Al Maa-idah 8]

    Kalau gak percaya soal terjemahan auliya, silahkan cek di situs http://www.islamawakened.com/ Situs tersebut mengumpulkan lebih dari 40 terjemahan Al’Quran yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris agar kita semua dapat mengerti. Tidak ada satupun yang menterjemahkan Auliya sebagai pemimpin.


     

    Saya juga mendapatkan informasi dari Nadirsyah Hosen, PhD seorang ahli hukum syariah di Australia. Bahwa terjemahan Qur’an cetakan Saudi tidak menterjemahkan auliya sebagai pemimpin. Juga arti auliya pada Qu’ran terjemahan (Habib) Prof Quraish Shihab. Qur’an terjemahan Ust. Aam Amiruddin milik saya pun tidak menggunakan kata pemimpin untuk menterjemahkan auliya. Jadi siapa yang sebenarnya munafik? Siapa yang sebenarnya kafir? Saya tidak mau menuduh-nuduh karena itu hak Allah. Akan tetapi coba berpikir gunakan akal karena akal itu ciptaan Allah, syukurilah dengan menggunakannya.

    Lalu banyak yang ngeles, “kalau teman, wali, sahabat saja tidak boleh apalagi pemimpin!”. Sungguh ini adalah upaya menambah-nambahkan Qur’an dan itu dilarang. Pada hakikatnya seorang pemimpin itu berbeda dengan teman, wali, sekutu, atau sahabat. Lagi pula jika kita boleh melakukan hal seperti itu maka saya juga bisa melakukan hal yang sama untuk ayat ini “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS Al-Mu”minun: 5-6). Menggunakan pola menambah-nambah Qur’an seenaknya maka saya bisa berkata bahwa budak yang gratis aja boleh apalagi yang bayar. Tentu hal tersebut tidak bisa karena melenceng dari makna sebenarnya demikian juga cara ngeles soal auliya.
    Selain itu, melabeli munafik dan kafir adalah hak Allah. Manusia yang tidak memiliki kekuatan untuk tahu persis mana yang benar-benar munafik mana yang kafir. Oleh karena itu Allah memberikan ciri-cirinya agar kita waspada bukan untuk melabeli sesama muslim. Seperti yang di-ingatkan oleh Imam al-Ghazali.
    Tidak mau memilih Ahok silahkan saja tapi membawa-bawa agama dan meng-klaim sepihak itu yang membuat umat Islam gerah. Apalagi meng-klaim bahwa pendapat tersebut paling benar dan memaksa semua umat Islam harus mengikuti. Lalu meng-klaim bahwa suara mereka adalah suara umat Islam. Kemudian disusul dengan melabeli sesama muslim dan ditambah upaya menakut-nakiti umat, dan mencap kelompok lain sebagai munafik dan kafir. Jelas lah bahwa mereka yang ingin memecah belah umat Islam. Satu pesan dari saya untuk mereka, jika kalian tidak mau memilih Ahok ya sudah tidak usah memilih, pergi sana yang jauh dan tutup mulut kalian. Jangan paksa kami yang ingin memilih Ahok karena kami pun memiliki dasar yang kuat untuk boleh memilih Ahok. Seperti fatwa ulama mesir, fatwa MUI tahun 2012, tafsir (Habib) Prof Quraish Shihab, fatwa NU, dan masih banyak lagi. Mereka semua adalah orang-orang berilmu tinggi, lalu siapa kalian yang berani mencap orang-orang tersebut munafik?!

     Penulis :  Gusti Yusuf Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kenapa Ngotot Bilang Kami Munafik? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top