728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 19 Februari 2017

    Kembalinya Aksi Masa berlabelkan Agama Mewarnai Wilayah DKI Jakarta

    Usainya Pilkada DKI putaran pertama dengan hasil kemenangan Ahok-Djarot menurut hasil quick count beberapa lembaga survey sekitar 42 persen, menandakan hampir setengah penduduk DKI Jakarta masih sangat mempercayai kepemimpinan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta.

    Syarat Pilkada DKI yang mengharuskan untuk dilakukan putaran kedua (50%+1), yang akan kembali digelar waktu pencoblosan pada 19 April 2017, dengan menyisahkan penantang pasangan calon yakni nomor urut tiga (Anies-Sandi), dengan masa dukungan dominan dari partai berbasis Islam (PKS), dan Sandiaga Uno yang diusung oleh Gerinda.

    Semakin semaraknya pesta demokrasi pastilah akan menjadi “bumbu-bumbu” keseharian di Ibukota Jakarta menjelang Pilkada putaran kedua tersebut. Pengerahan dan mobilisasi masa sepertinya akan tetap menjadi bagian dari konstestasi Pilkada tersebut. Aksi massa, memanfaatkan media sosial dan kemungkinan adanya permainan politik uang akan berpotensi untuk dimainkan oleh paslon peserta, mengingat keterbatasan waktu yang lebih singkat dalam masa kampanye tersebut.

    Jika maraknya aksi masa pada putaran pertama dan menghantarkan Ahok menjadi pemenang, apakah sebaiknya aksi masa tersebut dihentikan atau tetap diteruskan ?, ini menjadi pertanyaan menarik…dilain sisi aksi masa adalah sah saja sebab diatur oleh undang-undang dalam menyampaikan pendapat dimuka umum memang diperbolehkan.

    Aksi masa yang membawa tuntutan yang sangat berbau “politik ” yakni menurunkan, memanjarakan dan mencopot jabatan Gubernur Ahok, guna kepentingan Pilkada akan tetap dimainkan, namun terkesan guna kepentingan untuk memenangkan salah satu pasangan calon dalam aksi yang memobilisasi masa dengan atribut, teriakan serta membawa-bawa Agama sangat tidak “sehat”.

    Apa yang akan didapat dari aksi-aksi mobilisasi kecuali “kebodohan”, layaknya aksi dibangun haruslah dengan kesadaran masa aksi, sehingga penyampaian pendapat di muka umum tersebut memang pantas disebut sebagai penyampaian pendapat dan bukan sebagai aksi masa yang mungkin berisi “masa bayaran” atau hanya “ikut-ikutan” sebab diperintah oleh pemuka agama, yang juga manusia dan bisa saja salah, tanpa mengetahui alasan dan maksudnya aksi tersebut diselenggarakan.

    Aksi masa yang direncanakan  akan dilangsungkan pada 21 Februari 2017 di kawasan gedung DPR/MPR dengan membawa beberapa aspirasi tuntutan diharapkan agar berlangsung tertib  ujar Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Boy Rafli Amar mengatakan siap mengamankan aksi damai tersebut. Namun pihaknya belum bisa memastikan berapa banyak personel yang akan dikerahkan dalam aksi yang dilakukan ormas Islam itu

    Aksi perdana setelah usainya Pilkada DKI pada putaran pertama yang akan dilangsungkan di gedung DPR/MPR dengan agenda tuntutan yang menuntut, mencopot dan memenjarakan Ahok sebagai Gubernur DKI sementara semua tengah berjalan sesuai dengan hukum dan peraturan perundang-undangan apakah ini disadari oleh massa peserta aksi…, atau sebenarnya yang mereka tahu adalah ngga suka aja sama Ahok….kenapa? karena bukan muslim…terus apa hubungannya.., ya ngga mau, pokoknya harus muslim…kan jelas mihak pasangan calon lainnya, yakni Anies-Sandi……sebab dalam peraturan perundang-undangan Negara Republik Indonesia tidak ada larangan bahwa Lurah, Camat, Gubernur  dan pejabat pemerintahan bahkan Presiden sekalipun harus beragama Islam….

    Ancaman terhadap menentang dan melawan undang-undang yang berlaku banyak pasal yang akan menjeratnya, jika hal ini disadari oleh pelaku aksi hal ini dapat disebut melakukan makar, namun jika tidak disadari oleh aksi masa ini namanya mobilisasi masa dengan para elit yang melakukan “pembodohan” dengan bersenjatakan atribut-atribut agama.

    Untuk rakyat kebanyakan yang masih harus berjuang tiap harinya untuk sekedar mencari sesuap makan apakah tidak sebaiknya diisi oleh kegiatan yang lebih mengandung besarnya manfaat untuk pemenuhan kebutuhan tersebut.

    Ketika suara tidak lagi di dengar  yang ada adalah aksi jalanan..….ini biasanya adalah slogan dan salah satu alasan, namun jika proses peradilan dan pesta demokrasi yang sudah berjalan (memenangkan Ahok) apakah tidak berhak mendapatkan penghormatan kita sebagai masyarakat yang tunduk kepada hukum…..dan hasil Pilkada DKI  (putaran pertama) yang memenangkan Ahok-Djarot dalam pesta demokrasi bukanlah layak menghormatinya…paling tidak menghormati masyarakat DKI yang telah memilihnya yang berjumlah hampir setengah dari jumlah penduduk DKI Jakarta..….…


    Penulis : dudi akbar   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kembalinya Aksi Masa berlabelkan Agama Mewarnai Wilayah DKI Jakarta Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top