728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 05 Februari 2017

    Jokowi Kehilangan Daya Tekan? Tenang, Perang Baru Akan Dimulai

    Hiruk pikuk dan euforia menjelang pikada pasti membuat sobat bertanya-tanya, “apakah semua akan berjalan lancar atau akan chaos?”. Pun saya.

    Tanpa disadari, sampai di sini kita telah menerima gambaran tentang political ethics; tentang bagaimana moralitas membina politik. Ingat sikap Jokowi menghadapi 7 juta orang di Monas pada 2 Desember tahun lalu?

    Nah, coba sobat bayangkan, jika benar 7 juta orang, tidak kurang dari setengahnya adalah orang yang mungkin memenuhi wall social media dan zikirnya dengan mancaci-maki Jokowi. Sebagai sikap komunal, tentu itu tekanan. Tapi apa Jokowi membalasnya? BIG NO!

    Itulah mengapa saya katakan, Jokowi tertekan, tapi tak menghilangkan daya tekannya. Daya tekan tak selamanya harus dengan menjerit dan mengumpat kan sobat? menangkap oknum yang terduga makar serta menguasai panggung publik di hadapan 7 juta orang juga daya tekan tentunya.

    Roda politik bergulir makin liar hari ini, ada yang kehilangan  pattern. Seperti seorang mabuk yang mengendarai kendaraan besar “Import” dan mulai bermasalah dengan tombol-tombol kendalinya. Di lain sisi, ia tak mau menanggung resiko ini sendirian. Setidaknya, kendaraan besar ini tak menabrak sesuatu yang tanpa arti.

    Kita bisa asumsikan, kendaraan besar ini awalnya trial and error. Seiring berjalannya waktu banyak onderdil yang harus dibongkar, yang rusak harus diganti baru, yang kendor harus dikencangkan dan juga perlu suku cadang orisinil agar operasionalnya tak terhambat. Ternyata biaya perawatan kendaraan Import ini terlalu besar untuk dianggap hanya sebatas “trial and error“.

    Kendaraan besar yang begitu sadis dan menggila ini dihentikan Jokowi hanya dengan beberapa kalimat basa-basi dan kalimat sakti sebagai penutup berupa “Allahu Akbar”. Siapa yang bisa terima hal ini, sobat? Ini bukan sihir. Tapi ini lah daya tekan Jokowi.

    Bila sebagian dari kita menganggap bahwa kekuatan 212 adalah kekuatan terakhir yang dimiliki oleh oposisi. Saya dengan tegas katakan “TIDAK”. Tidak sampai di situ sobat. Ada kekuatan yang lebih besar dari itu. Bila gerakan 212 terkontrol dalam pantauan Polisi dan TNI itu memang karena aksi 212 adalah gerakan damai yang sangat menjunjung tinggi kaidah Konstitusional.

    Saya mengira, aksi selanjutnya yang terkesan serupa sudah tidak seperti kemarin-kemarin. Saat ini ada masalah di supir dan tombol kendalinya. Sepertinya kendaraan besar setelah ini diarahkan bukan untuk mengantarkan, tapi memporak-porandakan. Dan bukan untuk meyampaikan aspirasi, tapi untuk aneksasi.
    Ditambah jelasnya perkawinan silang antara Cikeas dan Cendana yang sepertinya merapatkan diri pada gerakan selanjutnya. Ini bisa kita bayangkan seperti satu frame yang menggambarkan cerita seekor katak yang dikepung oleh banyak ular.

    Sobat, jangan khawatir!

    Negri ini bukan sekedar cerita tentang katak yang dikepung oleh sekawanan ular, melainkan megadrama tentang katak yang menyandera banyak ular. Ular-ular itu berada dipinggir watergate (Skandal besar) dan mereka mengira sang katak gemetaran. Katak yang dianggap tak berdaya itu saat ini sedang menepi pada sisi ter aman dari watergate dan memberikan kesempatan pada ular-ular itu menari dan bersenandung di atas tanah yang memanas dan perlahan terbakar.

    Apa sobat sudah dapat kabar tentang Prabowo Subianto yang menyindir Cagub titik-titik? Simpel. Kalimat Prabowo hanya nasihat untuk para kader dan paslon utusan partainya agar jujur dalam berpolitik. Tapi tak berhenti sampai di situ, sindiran itu adalah bukti bahwa kekuatan politik di belakang Paslon titik-titik tercium oleh Prabowo dan sudah melampaui kaidah Konstitusional.

    Prabowo tak peduli Jokowi apalagi Ahok. Prabowo juga tak peduli kekuatan besar di luar sana yang mengatasnamakan gerakan Bela Islam. Prabowo hanya sangat mengerti bahwa gerakan ini keluar dari rel etik yang akan membahayakan banyak pihak termasuk dirinya. Jadi sangat memungkinkan bagi Prabowo yang secara personal tak berpihak pada Jokowi, demi menghadapi masalah ini, ia merapat pada Jokowi.
    Seperti gambar yang saya jadikan banner pada artikel ini.

    Penampakan menakjubkan yang mungkin akan jadi tontonan masyarakat DKI khususnya dan rakyat Indonesia secara umum bisa jadi adalah parade kekuatan besar antara Jokowi dan Prabowo beserta seluruh partai koalisinya untuk menghalau serangan mabuk dari “kendaraan politik import” terbesar di Indonesia.
    Sebentar lagi Jokowi akan menorehkan sejarah baru, di mana solidnya kekuatan pemberontak atas nama Agama ia tumbangkan dengan Etika Politik yang menjunjung tinggi persatuan tanpa menciderai nilai-nilai kemanusiaan. Semoga Allah melindungi Negara ini dan Presiden kita berserta seluruh rakyat Indonesia. Amin.

    Begitulah kura-kura.

    Penulis :  Acin Muhdor   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi Kehilangan Daya Tekan? Tenang, Perang Baru Akan Dimulai Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top