728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 02 Februari 2017

    Jokowi Disadap Tidak Ribut, SBY Baru “Merasa” Disadap Sudah Konfrensi Pers

    Kemarin, Rabu (1/2/2017), Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono melakukan konfresensi pers terkait adanya tuduhan bahwa SBY terlibat percakapan dengan ketua MUI Ma’ruf Amin pada 7 Oktober 2016 yang isinya dikaitkan dengan kasus Ahok. Kesimpulan dari tudingan itu, SBY MERASA disadap teleponnya.

    Karena merasa disadap itu, SBY berharap bisa berjumpa dengan Jokowi untuk meminta penjelasan. SBY yang tidak paham maksud Ahok, malah terlihat ngebet jumpa dengan Jokowi. Dugaan sadap ini diharapkan bisa jadi jalan masuknya, (Baca >>> https://seword.com/politik/sby-menuduh-dirinya-disadap-ternyata-ada-udang-dibalik-batu-ini-faktanya/)

    Dalam tulisan saya mengenai tudingan SBY disadap tersebut, ada seorang yang mengingatkan bahwa Jokowi juga pernah disadap. tetapi reaksinya tidak seperti SBY. Jokowi hanya diam saja dan baru mengemukakan hal tersebut ketika PDIP membukakannya.

    Menariknya penyadapan dilakukan di rumah dinas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Jalan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat dan di kantor Jokowi di Balaikota Jakarta. Hebatnya, Jokowi yang memang bukan tipikal orang yang suka curhat tidak mau membukakan hal itu ke publik.

    Jokowi bahkan pada saat itu hanya mengadakan memorandum of understanding (MoU) dengan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) untuk mengamankan dokumen-dokumen penting di tempat tersebut.

    “Saya minta MoU dengan Lemsaneg untuk mengamankan dokumen di sini karena (dokumen) itu, kalau saya enggak penting,” ujarnya.

    Alasan Jokowi bahwa dia tidak penting mengisyaratkan bahwa urusan di rumah dinasnya tidak ada data-data penting yang perlu diselamatkan. Karena Jokowi tidak ada melakukan pembicaraan penting di rumah, hanya pembicaraan-pembicaraan biasa saja.

    “Saya cerita sudah Desember yang lalu, tapi saya bilang enggak usahlah diributin. Yang disadap dari saya apa sih? Saya juga kalau di rumah kalau ngomong dengan istri ngomong yang enteng-enteng aja. Ngomong makanan, itu-itu aja,” ujarnya.

    Beda bukan?? sangat jauh malahan. Kualitas meresponi sebuah masalah memang menentukan kualitas pribadi dan kepemimpinan seseorang. Itulah yang menyebabkan SBY seperti tenggelam dan terus terkena bully dari warga. Bukan tidak menghormati SBY sebagai mantan Presiden, tetapi SBY sendiri yang melakukan sesuatu yang tidak menghormati statusnya sebagai mantan Presiden.

    Dari awal peristiwa 212, SBY juga melakukan blunder dengan konfrensi pers karena MERASA dituduh. Padahal tidak ada yang menuduh dia dari pihak pemerintah. Pemerintah, dalam hal ini Jokowi, malah menemui Prabowo. Terbukti memang karena pada akhirnya ada Fadli Zon ikut dalam demo tersebut.

    Perasaan SBY yang terus MERASA dituding sebagai orang yang membuat kegaduhan diresponi dengan cara-cara yang kurang tepat dan bahkan penjelasannya pun salah. Bayangkan saja, belum tahu jelas apa yang dimaksudkan oleh Ahok dan pengacaranya, SBY sudah tampil dan menyampaikan sesuatu yang aneh-aneh.

    Padahal, dalam penjelasannya, kuasa hukum ahok menyatakan tidak ada rekaman dan transkrip dari penyadapan, melainkan ada pemberitaan yang menyebutkan hal tersebut. SBY malah MERASA diri disadap dan ingin meminta penjelasan dengan Jokowi. Salah alamat kalau begitu namanya.

    Tetapi apa mau dikata. SBY sebenarnya ingin punya panggung di politik kita saat ini. Panggung yang 10 tahun dia miliki. Tetapi bukankah SBY sendiri yang memang tidak mau masuk dalam pertempuran politik pasca Pilpres?? Pilihan Demokrat tidak memilih menjadi partai oposisi atau pendukung pemerintah dan menjadi abstain adalah posisi politik jelas keluar dari panggung politik.

    Lalu kenapa sekarang menyesal dan ingin dilibatkan?? Bagaimana jalannya, Jokowi menjumpai SBY sedangkan SBY tidak memiliki posisi politik apapun. Dimintai pendapat sebagai mantan Presiden pun tidak ada yang bisa didapatkan. Apa iya Jokowi mau tanya bagaimana kiatnya memangkrakan proyek?? Atau bagaimana pencitraan yang bagus?? Jokowi tidak butuh pendapat SBY dan terbukti bisa berbuat lebih baik dari SBY.

    Saya tidak tahu apalagi yang akan dilakukan SBY. Mantan yang iri melihat Indonesia sekarang punya kekasih yang hebatnya luar biasa. Lebih cekatan, lebih hebat. Membuat rumah Indonesia semakin cantik dan diperindah. Apalagi saat jamannya, perbatasan yang adalah teras Rumah Indonesia tidak pernah diperhatikan.

    Sudahlah Pak SBY. Duduk tenang dan nikmatilah waktu senggang bersama cucu. jauhilah politik, karena anda tidak cocok jadi orang politik. Anda hanya tampil dengan pencitraan dan sepanjang 10 tahun Indonesia hidup dalam pencitraan. sekarang eranya kerja nyata. Tidak perlu lagi pencitraan.

    Salam Sadap.

    Penulis : Palti Hutabarat  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi Disadap Tidak Ribut, SBY Baru “Merasa” Disadap Sudah Konfrensi Pers Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top