728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 17 Februari 2017

    Jangan Salah Beli, Merek #Ahok Sudah Teruji

    Produk’ Bermerek AHOK  itu ibarat sebuah merek atau brand. Dulu umpamanya, apapun yang berbranding Sony pasti akan dicap produk bermutu tinggi. Sekarang apapun yang ada kaitannya dengan Samsung, pasti akan dianggap oke banget dan punya kualitas tak tertandingi. Orang akan segera tahu kualitas berdasarkan merek.

    Pada pemilihan Gubernur DKI tahun 2012 lalu, branding Jokowi begitu menggema, hampir dipastikan Jokowi terkenal sampai ke ujung Nusantara dan tidak hanya di Jakarta saja, padahal waktu itu ia mencalonkaan diri sebagai Gubernur bukan Presiden. Ahok saat itu belum begitu dikenal. Pada pemilihan Presiden yang lalu pun saat Jokowi maju, gegap gempita menyambutnya, dia melampaui nama besar Prabowo. Baju kotak-kotak ada dimana-mana. Salam dua jari bergema sampai ke luar negeri. Jokowi tiba-tiba menjadi pusat perhatian dan pusat pemberitaan. Brand Jokowi memang luar biasa.

    Kini, ada brand baru yang sangat laku keras di pasaran. Adalah brand ‘made in China’ tapi kualitas Indonesia, kualitas lokal terdepan, beda dengan brand dua  ‘A’ yang lain itu. Nama brand ini adalah #AHOK. Brand Ahok ini sudah teruji. Uniknya lagi, Jokowi dan Ahok sangat identik dengan ‘2 jari’ dan baju kotak-kotak. Ah, memang kalau jodoh nggak kemana-mana sih. Jodoh sebagai pemenang yang dicintai rakyat barangkali. Their victory is our history!  Itu.

    Brand Ahok sudah siap untuk kembali dilepas ke pasaran. Menurut hasil survey dan hasil putaran I PILKADA DKI, ternyata brand bernama Ahok ini masih sangat laku dipasaran dan berada di tempat pertama. Meski tentu ada pesaing yang membuntutinya dengan ketat.

    Lalu kemudian kita bertanya, apa ciri khas produk #Ahok ini? Kenapa ia begitu dibenci, tetapi juga amat dicintai? Banyak jawabannya. Akan butuh lebih dari satu kitab tebal untuk melukiskan atau menggambarkan produk satu ini. Yang pasti dia sensasional dan fenomenal, bukan hanya tampak luarnya saja namun isinya juga. B T P adalah tagline utama produk berbranding AHOK ini. Bersih, Transparan dan Profesional. Pernak-perniknya adalah dia itu tegas (sebagian menganggapnya tukang marah), dia tak mau kompromi dengan para bandit dan begundal ibukota, serta selalu melayani dengan hati.

    Lagi-lagi, produk ini sudah teruji kualitasnya. Ini yang paling penting untuk kita ketahui, sebab seperti kata Prabowo dalam suatu kesempatan kampanyenya, “Jangan beli kucing dalam karung…”. Tentu, Ahok-Djarot bukanlah kucing dalam karung itu oleh karena mereka sudah terbukti bekerja . Bukan sekedar beretorika dan membius orang dengan kata-kata manis nan sedap didengar. Mereka tidak menebar janji, tapi memaparkan bukti. Mereka tidak mengobral kata namun memberi hasil.

    Mereka adalah produk kualitas unggul. Ketika Anda akan membeli sebuah produk, tentu dengan melihat brandnya dulu kan? Ooh jelaslah harus demikian supaya tidak salah beli. Harganya terlalu mahal kalau sampai salah beli produk yang akan menetukan nasib dan kesejahteraan Anda selama bertahun-tahun ke depan.

    Kalau hari ini Anda pernah mendengar janji bahwa ada yang tidak akan memberimu kail, tidak juga ikan, tetapi orang ini bakalan memberimu kolamnya sekaligus, maka itu dipastikan bukan Ahok ya. Sebab Ahok tidak akan pernah menjanjikan apa yang tidak mungkin dia lakukan. Tidak juga dengan memberimu janji rumah tanpa uang muka, uang kontan, atau janji manis lainnya. Sama sekali bukan begitu cara Ahok-Djarot meyakinkan calon pembeli. Mereka tidak mungkin berjanji hanya sekedar supaya sedap didengar telinga para pendengar.

    Mau memberi ‘kolam’, mau memberi rumah, mau memberi uang untuk modal….waduh, semoga saja kita semua masih sehat-sehat saja ya jikalau kita masih saja percaya dengan gampangnya bahwa itu semua dapat terwujud, menjelma menjadi kenyataan seperti apa yang tersampaikan dalam setiap kali jualan. Sungguh kita harus memakai akal sehat dan logika berpikir orang terdidik dalam mencerna semua janji-janji, apapun itu.

    Merek A H O K

    Oleh American Marketing Association, merek didefinisikan sebagai suatu nama pembeda. Nah, pembeda ini tentu saja ditandai juga dengan istilah, tanda, simbol, desain, serta bisa juga gabungan beberapa di antara semua itu. Itulah pengertian merek secara sederhana dan gampang. Ambil contoh HP, walaupun sama secara fisik (bentuk), tapi toh setiap konsumen di Malaysia atau Singapura, atau yang di Lombok, Manado, pun yang di Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan semua tempat lainnya di muka bumi ini pastilah masih bisa membedakan HP yang ada di pasaran itu berdasarkan masing-masing merek.

    Kita lalu membedakannya lewat nama dan juga lewat tampilan serta kualitas produk tersebut.  Umpamanya kita tentu mengenal ada Shell, Petronas, BHP, Esso dan sebagainya. Masing-masing mereka tentu punya branding tersendiri, kualitasnya pun pasti berbeda-beda. Tidak sama.

    #AHOK ini suka atau tidak, sebetulnya telah menjadi merek yang layak dibeli dan amat populer. Ia adalah merek yang sangat jauh berbeda dengan merek-merek lainnya di pasaran. Bila merek lain ada yang sangat cinta korupsi, maka Ahok amat membenci itu. Bila ada merek lain yang menutup-nutupi segala seuatu, Ahok sangat terbuka dan transparan dalam banyak hal. Ia lalu mengaku, “Saya ini hanyalah admisitrator, yang berusaha menciptakan keadilan …boss saya itu ya bapak ibu, warga masyarakat…”

    Ibarat emas dan tembaga atau kuningan, terlihat sama namun kualitasnya bak langit dan bumi. Apakah ada brand yang bisa menandingi  atau menyamai #Ahok? Mungkin saja. Pembeli yang harus hati-hati. Dari luarnya bisa saja ada yang nampak mirip, tetapi kualitasnya belum tentu sama. Sebetulnya tidak terlalu sulit membedakan emas dan kuningan. Atau membedakan berlian dan batu kapur. Asal kita gunakan kesadaran kita dan menempatkan  rasionalitas kita di atas emosional kita, maka dengan mudah kita bisa membedakannya.

    Sebagai Gubernur, Ahok adalah seseorang yang punya kekuasaan, namun ia mau ‘merendahkan’ diri untuk hanya menyebut dirinya sebagai administrator. Ketulusan pengabdiannya jelas hanyalah demi terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta. Orang lalu kemudian melihatnya dari beragam perspektif dan persepsi. Terserah penilaian masing-masing sih. Ada yang emosional melihatnya, lalu memasukkan unsur SARA lantas penilaiannya menjadi tidak objektif lagi. Mereka kerap menisbikan esensi dan acap kali memutlakkan keyakinan mereka sendiri (yang belum tentu benar) hanya semata berdasarkan faktor emosional keagamaan yang kaku dan terbata-bata.

    Nah, apakah merek sebagus ini tidak akan dibeli orang? Demo bertubi-tubi, lalu bermacam serangan diarahkan kepadanya. Fitnah ini dan itu. Apapun dilakukan lawan atau pesaing untuk menjatuhkan dirinya. Merek yang lain ingin mendulang kepercayaan warga dengan memainkan emosi warga. Anda lihat sendiri, produk unggulan ini masih tetap tegar menghadapi semua serangan ke arah dirinya. Dengan langkah mantap dan tak goyah, ia memasrahkan dirinya hanya dalam tuntunan tangan Tuhan yang ia yakini dan percayai. Dia percaya, kalau ia sudah melakukan apa yang benar, dan apa yang terbaik buat warganya, maka tak ada lagi yang perlu ia takutkan.
    “You just do the best, and God will do rest for you…”
    Strategi Marketing Gaya Kepemimpinan Dalam Kampanye


    Mari kita telusuri lebih lanjut. Berdasarkan definisi dari para ahli, maka marketing sosial (social marketing) pada dasarnya adalah merupakan aplikasi strategi pemasaran komersil untuk “menjual” gagasan dalam rangka mengubah sebuah masyarakat. Nah, ini landasan utama dan titik tolak mereka. Yaitu bagaimana merubah pandangan sebuah masyarakat yang sudah lama terkukung dan terbelenggu oleh status quo. Ahok Djarot paham betul hal ini. Mengubah mindset orang tidak mudah, tetapi harus dimulai.

    Masyarakat saat ini sudah sadar, bahwa selama bertahun-tahun sebelum kehadiran Jokowi dan Ahok, diri mereka  sudah terpidana oleh janji-janji kosong yang tak pernah berhasil menjelma menjadi kenyataan. Para calon pemimpin hanya terus-terusan menjanjikan janji yang manis, tetapi kenyataannya pahit, mereka tak pernah berupaya mewujudkan janji-janji tersebut.

    Syahdan, setelah seorang ‘raja’ terpilih, mereka hanya duduk di menara gading, menikmati kekuasaannya dan sekejap lupa akan janji-janji yang pernah terucap. Lumrah sudah. Raja yang tadinya berkoar-koar dengan semangat tingkat dewa akan menyejahterakan rakyatnya bila kelak terpilih, justru setelah terpilih mereka hanya sibuk dengan kerakusan mereka membuncitkan perut sendiri. Lalu mereka menebalkan dompet sendiri. Dan tentu tak lupa membesarkan rumah mereka sendiri. Ini gila!

    Dalam perjalanannya masyarakat lalu menjadi begitu muak dan antipati terhadap yang namanya penguasa dan pemimpin, sampai akhirnya tibalah Jokowi dan lalu kemudian Ahok. Dua pemimpin yang telah memporak-porandakan semua tatanan kepemimpinan yang selalu berpihak pada kepentingan pribadi dan kelompok, diubah menjadi berpihak pada kepentingan masyarakat dan warga yang dipimpin.
    Makanya jangan heran, dua figur fenomenal ini menjadi bahan perbincangan dimana-mana. Pemimpin yang mampu merasakan apa yang warga rasakan. Pemimpin yang mampu mendobrak pakem-pakem kaku yang sudah lama membuat jurang pemisah, dan tembok pembatas yang begitu kentara antara pejabat dan rakyat biasa.
    Ahok sigap dan jeli melihat realitas tersebut. Inilah strategi pemasaran dan cara menjual gagasan yang jitu. Satu hal yang pasti, Ahok-Djarot tentu menawarkan apa yang sudah dirasakan khasiatnya oleh begitu banyak orang, bukan sekedar menjual mimpi.

    Ahok juga menjual paradigma baru, sasarannya tentu untuk mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini hilang kepercayaan terhadap pejabat dan penguasa negeri yang dituding tamak, rakus, dan tidak dapat dipercaya. Pejabat yang korup dan mencuri uang rakyat. Bahwa ternyata masih ada pejabat yang jujur dan berpihak pada kebenaran.  Mereka menjual gagasan, konsep, program, serta visi dan misi. Tapi di saat yang sama mereka tidak menawarkan ‘janji isapan jempol’, hal mana nantinya bakalan mengecewakan setiap pembeli. Mereka menjual apa yang sudah pernah mereka raih dan lakukan, dan terbukti berhasil. Ini fakta yang tak bisa dibantah oleh siapapun.  Rakyat ingin melihat karya nyata. Rakyat membutuhkan bukti.

    Pada putaran kedua nanti, Ahok-Djarot harus kembali memasarkan dengan gencar dan tepat sasaran. Kita mengenali dengan baik sembilan elemen dalam pemasaran. Itu harus bisa diterapkan Ahok-Djarot.  Sebut saja segmentasi pasar (misalnya sasarannya untuk pemilih pemula yang jumlahnya tak kurang dari 700.000 orang di Jakarta), target, positioning, diferensiasi, marketing mix, selling, brand, service dan process.Dalam politik strategi ini bisa jadi maknyuss, semaknyuss bakso bulat.

    Mereka harus mampu memilih pasar sasaran, yang mereka dekati bukan orang-orang kaya, penguasa berduit, sebab berapa sih jumnlah di Jakarta ini? Utamakan untuk turun ke kampung-kampung, pasar-pasar, ke bantaran sungai, itu menurut saya adalah tempat yang tepat. Di sanalah lumbung-lumbung suara paling banyak di Jakarta.

    Lantas bagaimana dengan target? Oh, itu sudah pasti. Mereka memiliki target jelas, dan target itu diperjuangkan secara tulus. Target kemenangan adalah hanya demi kesejahteraan rakyat. Mereka juga mampu memposisikan diri sebaik-baiknya. Mereka memposisikan diri sebagain bagian dari rakyat, bukan diktaktor bertangan besi yang memisahkan diri dari rakyat.

    Sama sekali tidak boleh ada jurang pemisah antara pemimpin dengan warga yang dipimpin. Jangan heran, Balaikota selalu terbuka untuk umum dan setiap pagi Ahok setia menanti kedatangan warganya untuk didengarkan setiap keluhan-keluhan mereka. Posisi itu mereka pelihara secara tegas. Posisi dalam melawan status quo dan membongkar pakem kuno juga terus diperjuangkan mereka. Mengenai service juga sudah jelas. Motif kerja mereka adalah untuk melayani. Bukankah pemimpin itu sesungguhnya adalah pelayan rakyat?

    Pakar pemasaran Hermawan Kertajaya pernah mengatakan bahwa marketing sebenarnya adalah sesuatu yang sederhana. Ia mengumpamakannya sebagai seni “menjual” diri (self selling). Selain menjual produk kita mesti mampu menjual diri kita sendiri (dalam artian positif). Artinya, kita harus mampu menjual gagasan-gagasan, namun juga kelebihan dan keunggulan diri kita. Misalnya saja, apakah kita orang yang mampu bekerja atau yang hanya jago berkata-kata. Ini juga jangan dianggap remeh. Apakah diri kita sebagai pemimpin dapat dipercaya atau tidak.

    Sekarang, tinggal bagaimana Anda sebagai warga akan memilih. Apakah pilihan Anda akan jatuh pada seorang pekerja yang mampu mengadministrasikan keadilan sosial, demi kesejahteraan warga. Atau pilihan akan jatuh ke tangan orang yang hanya jago membangun mimpi indah, menghipnotis Anda dengan kata-kata, tetapi belum tentu sanggup mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan. Pilihan yang tentu akan Anda syukuri selama 5 – 20 tahun ke depan, atau justru sebaliknya, pilihan yang akan Anda sesali dan membuat Anda menderita 5 – 20 tahun ke depan.

    Pesan saya begini, memilih secara emosional itu oke saja, tetapi jauh lebih baik memilih secara rasional. Anda hanya akan merasakan kenikmatan emosional sesaat tatkala calon yang Anda dukung secara emosional yang menang. Tetapi Anda akan menikmati hasil yang luar biasa serta bertahan lama bila pilihan rasional Anda yang menang.

    Sejarah juga sudah membuktikan, membangun Jakarta tak pernah cukup hanya dengan sekedar kata-kata manis dan santun. Membangun Jakarta harus dengan kerja keras tanpa pamrih dan dengan ketegasan sikap tanpa kompromi terhadap kejahatan.

    Ahok – Djarot telah memasang standard yang tinggi untuk menilai diri mereka dalam memimpin Jakarta. Bekerja di bawah standard tersebut, berarti mereka gagal. Inilah pemimpin yang luar biasa. Bukankah seorang yang terkenal di jamannya, bernama Ray Kroc pernah mengatakan begini, “The quality of a leader is reflected in the standards they set for themselves”.  Semoga Jakarta menjadi Jakarta yang lebih baik lagi di tangan dua orang ini.

     Penulis : Michael Sendow   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jangan Salah Beli, Merek #Ahok Sudah Teruji Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top