728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 11 Februari 2017

    Inilah Kelakuan Jubir FPI, Masihkah Anda Percaya Ormas Ini?

    Tugas juru bicara adalah penyambung lidah, artinya ia mewakili sebuah lembaga/kelompok untuk memberikan keterangan resmi kepada masyarakat mengenai lembaga/kelompok yang dipegangnya, baik melalui konferensi pers ataupun wawancara dengan wartawan dan media. Jika yang dipegangnya sebuah Ormas, maka ia bertugas menerangkan kebijakan atau hal apa saja yang dilakukan oleh Ormas tersebut. Mengingat pentingnya peranan juru bicara, maka orang yang ditunjuk haruslah orang yang paling paham tentang organisasi tersebut. Ia haruslah orang yang pandai, baik tutur kata dan akhlaknya, dan bisa menjadi panutan atau suri tauladan anggotanya.



    Ialah Munarman, orang yang menjabat sebagai juru bicara Front Pembela Islam (FPI) sekaligus Panglima Komando Laskar Islam. Wow luar biasa sekali memang pangkatnya. Saya yakin FPI menunjuknya sebagai penyambung lidah karena etos kerjanya yang dianggap paling baik. Begitu pula jabatannya sebagai panglima komando  karena dinilai sebagai personal yang patut diteladani dan disegani. Dan saya baru tahu ternyata struktur kepungurusan FPI tak kalah dengan TNI, hehe.



    Setelah bergabung dengan FPI namanya memang terkenal dan sering muncul di layar TV. Ironisnya, kemunculannya di layar kaca malah membuktikan ia adalah orang yang bersikap penghasut, arogan, angkuh,  dan tidak ber-etika. Dari sumber  //id.wikipedia.org/wiki/Munarman, saya rangkum akhlak pemimpin Ormas Islam yang tak satu pun pantas ditiru ini:



        Perampasan kunci kontak

    Pada bulan September 2007, Munarman ditahan di Polsektro Limo, Depok. Ia menjadi tersangka kasus perampasan kunci kontak, SIM dan STNK sopir taksi Blue Bird dengan pasal 335 KUHP tentang perbuatan yang tidak menyenangkan, dan pasal 368 KUHP tentang perampasan. Sepulang mengantar istrinya dari rumah sakit terjadi kecelakaan antara mobil Grand Vitara miliknya dengan Taksi Blue Bird. Munarman lalu mengambil kunci kontak, SIM dan STNK sopir taksi, Paniran (40). Pihak Blue Bird lalu melaporkan kasus itu ke Polsketro Limo.



        Menyembunyikan klakson di tengah kemacetan

    Pada bulan November 2012, Munarman dikeroyok dua orang lantaran membunyikkan klakson berkali-kali di tengah kemacetan saat keluar dari kediamannya di kawasan Pondok Cabe dengan menggunakan mobil Mistubishi Pajero berwarna merah ke arah Cinere. Kedua pengendara sepeda motor yang tidak menyukai tindakannya lalu turun dan terjadi cekcok di tengah kemacetan. Untungnya hal itu dapat dilerai masyarakat.



        Insiden Monas

    Munarman menjadi salah seorang penentang keberadaan Ahmadiyah di Indonesia bersama beberapa tokoh-tokoh Islam lainnya yang ada di Indonesia. Tanggal 1 Juni 2008, sekitar 500 orang dari FPI dan Laskar Islam memukuli massa AKK-BB (Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) di Monas. Mereka juga merusak sejumlah kendaraan bermotor.

    Munarman lalu menyatakan akan bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sayangnya setelah itu ia menghilang sehingga menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang). Dalam pelariannya Munarman mengirimkan sebuah rekaman video yang mengajukan syarat untuk dikeluarkannya SKB (Surat Keputusan Bersama) oleh Pemerintah Indonesia tentang pembubaran Ahmadiyah di seluruh Indonesia. Ia kemudian  divonis bersalah dan dihukum satu tahun enam bulan atas insiden itu.



        Insiden penyiraman terhadap narasumber

    Tanggal 28 Juni 2013, ketika tampil dalam acara Apa Kabar Indonesia, TV One, tentang pembatasan jam malam tempat hiburan di Jakarta, Munarman menyiram muka Sosiolog UI, Tamrin Amagola, dengan segelas teh setelah terjadi silang pendapat antara keduanya. Untungnya Tamrin menolak untuk melaporkan tindakan tersebut ke polisi dengan alasan tidak mau melayani tindak premanisme.



        Menghina Pecalang Bali

    Saat datang ke kantor Kompas TV di Jakarta, Munarman mengatakan jika di Bali ada Pecalang yang melempari umat Islam dan melarang mereka sholat Jum’at. Oleh karena itu para tokoh, pini sepuh dari Perguruan Sandi Murti,  beberapa budayawan, serta tokoh Muslim Bali,  melaporkan dirinya ke Polda Bali. Pernyataan Munarman dianggap telah merusak citra Pecalang Bali yang selama ini tidak pernah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum, apalagi merusak kurukunan dan kebhinekaan di Bali.



    Itulah beberapa tingkah buruk Munarman selaku jubir FPI sekaligus Panglima Komando Laskar Islam. Jika pimpinan organisasi nya saja menunjukkan akhlak kurang terpuji, lantas bagaimana dengan anggota yang dibinanya? Layakkah organisasi ini disebut organisasi pembela Islam, sedang akhlak para petingginya sudah membuat resah masyarakat? Dan Ironisnya mengapa masih saja ada orang yang membela FPI atas nama agama?



    Saya kira organisasi Islam yang baik akan dinahkodai oleh orang-orang yang baik pula. Masih ada Ormas Islam lain yang ulamanya mampu mengayomi umat serta kepribadian para petingginya menunjukkan pribadi yang taat beragama serta baik pada sesama. Contohnya : Nahdlatul Ulama.



    Ayo lah kawan, Jangan sampai kita tertipu oleh slogan ‘nahi munkar’, lantas membiarkan perilaku premanisme di dalamnya.  Saya setuju dengan pendapat putri Saudi, Ameerah Al Taweel, yang mengatakan “Terrorists shout Allahu Akbar before destruction, but we say it before celebrating our occasions, during every prayer, whenever we see beauty, and when we are weak, scared, and happy”.



    Itulah yang juga terjadi dengan Ormas yang mengaku Islam, FPI. Mereka teriak “Allahu Akbar” sebelum memulai provokasi,  sedangkan bagi Muslim yang baik kalimat “Allahu Akbar” justru dipakai kapanpun saat ia melihat keagungan Tuhan. Lalu masihkah Anda percaya dengan Ormas ini?


    Penulis : Anisatul Fadhilah  Sumber : Seowrd .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Inilah Kelakuan Jubir FPI, Masihkah Anda Percaya Ormas Ini? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top