728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 01 Februari 2017

    Firza Husein, Saksi Kunci yang Harus Diselamatkan Polri

    Belakangan ini publik dihebohkan dengan maraknya peredaran pesan dan gambar yang mengaitkan seorang wanita yang bernama Firza Husein (Firza) dengan Rizieq Shihab (RS). Sudah bukan isu baru bahwa keduanya diduga terlibat skandal perbuatan asusila melalui tersebarnya informasi tersebut.

    Pihak RS pun sudah memberikan respons, namun keduanya sudah terlanjur mendapatkan stigma yang negatif di mata publik. Secara khusus adalah Firza yang mendapatkan cap paling tebal karena ada beberapa foto wanita tanpa busana yang diduga adalah dirinya. Saya tidak akan membahas soal konten teks tersebut, yang akan saya analisis adalah soal keselamatan nyawa dari Firza sendiri di dalam pusaran kasus ini.

    Salah seorang rekan penulis mengabari kami soal berita yang dia dapat sore kemarin (31/01/2017) bahwa Firza telah ditangkap untuk kedua kalinya dan dibawa ke Markas Komando (Mako) Brimob, Depok[1]. Dikatakan bahwa Polisi menjemput Firza dari kediaman orang tuanya di daerah Jakarta Timur, bukan kediamannya sendiri[2].

    Pada saat bersamaan, rumah Firza sendiri telah didatangi oleh massa dari Laskar Pembela Islam (LPI) yang berjumlah sekitar 50 orang[3]. Alasannya silaturahmi. Tapi orang bodoh mana yang percaya bahwa 50 orang tersebut datang hanya untuk sekadar silaturahmi? Apalagi beliau perempuan, dan sedang tersandung kasus bersama bibib FPI yang tercinta.]

    Mungkin banyak orang menafsirkan bahwa mereka diutus untuk menjaga Firza dan kediamannya dari tangan Polisi. Namun, penafsiran ini terlalu lemah karena setiap orang yang menghalang-halangi kinerja polisi dapat dipidanakan (Pasal 212 KUHP). Oleh karena itu, saya menarik penafsiran yang lain.

    Firza Husein, Manis yang Sudah Menjadi Sepah lalu Dibuang

    Saya menafsirkan penangkapan Firza pada siang hari itu (31/01/2017) sebagai bentuk pengamanan Polisi terhadap keamanan Firza sendiri. Mengapa demikian? Saya menarik penafsiran ini dari beberapa hal yang terjadi belakangan ini dan terkait dengan Firza sendiri.

    Pertama, Firza dikabarkan terafiliasi dengan salah seorang keluarga “C” karena pernah menyatakan bahwa orang tersebut adalah pembina dari yayasan Solidaritas Sahabat Cendana (SSC) yang diketuai Firza[4]. Sebelumnya, Firza sendiri pernah tertangkap bersama sepuluh orang lain terduga makar pada 2 Desember 2016. Dalam hal ini, Polisi mengindikasikan bahwa ada aliran dana untuk makar yang digelontorkan melalui Firza. Sekalipun desas-desusnya telah santer terdengar tentang siapa tokoh penyokong itu, kesimpulan resmi belum dapat ditarik.

    Namun, setelah teks, foto dan suara yang diduga sebagai Firza muncul ke permukaan (yang berhubungan dengan RS), tiba-tiba ada seseorang yang memberikan somasi kepada Firza. Somasi tersebut dilayangkan karena Firza dianggap telah mencatut nama beliau (sebut saja TS) sebagai pemilik dari yayasan SSC.

    Dalam hal ini, mungkin TS berupaya untuk memisahkan dirinya sejauh mungkin dari dugaan keterlibatan kasus makar yang menjerat Firza. Namun hal ini malah menjadi kontra produktif, sebab malah makin mencuatkan namanya di muka publik. Dengan sangat mudah kita dapat membaca bahwa ini adalah sebuah aksi cuci tangan, dan dilakukan dalam nuansa yang terlalu tergesa-gesa.

    Hal ini malah makin mengarahkan perhatian masyarakat untuk mengambil kesimpulan bahwa TS memang terkait dengan Firza. Firza memang sudah diduga oleh Polisi sebagai penghubung antara penyedia dana makar dengan para eksekutornya. Dari hal ini saja, jikalau masyarakat sudah dapat mulai menebak siapa kira-kira penyokong dana makar tersebut, apalagi Polisi?

    Ini yang menjadi alasan kekhawatiran saya yang pertama soal keamanan Firza. Dia sudah dibuang oleh “bos”nya sendiri, lalu disomasi dan bahkan diancam akan dipidanakan[5]. Ancaman pidana hanyalah apa yang terlihat, bagaimana dengan ancaman yang tidak terlihat? Saya tidak tahu, hehe. Karena itulah, Polisi dengan segera mengamankan Firza, karena selain dia adalah saksi kunci yang penting, nyawanya sedang terancam. Firza dapat dipakai untuk menjerat TS. Maka dari itu, kemanan Firza menjadi prioritas utama. Tidak heran Firza diamankan ke Mako Brimob, bukan tempat lain.

    Kedua, Firza dianggap oleh sebagian pencinta bibib sebagai pintu masuk untuk meruntuhkan sang imam besar. Ia digadang-gadang terlibat skandal seks yang melibatkan bibib. Betul bahwa status kasusnya masih belum jelas, tetapi penyelidikan sudah dimulai. Kasus ini sudah memasuki kondisi di mana tidak ada jalan lagi untuk kembali. Cepat atau lambat pasti akan terbongkar.

    Malangnya bagi Firza, di sana terdapat rekaman teks, foto dan suara yang diduga kuat sebagai Firza sendiri. Jikalau wanita yang terdapat pada tiga materi tersebut terbukti sah adalah Firza, maka dia akan menjadi pintu yang sangat lebar untuk menyeret RS jatuh. Apalagi selama ini Firza memang dikenal dekat dan berada di dalam lingkaran RS. Hal ini tentunya tidak dapat diterima oleh para pecinta bibib. “Daripada RS terseret, lebih baik korbankan Firza”, mungkin kira-kira begitu isi benak mereka.

    Maka dari itu, saya curiga dengan 50 orang dari LPI yang datang “menjaga” kediaman Firza. Saya tidak tahu sudah berapa lama Firza tinggal di rumah orang tuanya. Hanya sekadar berkunjung hari itu atau sudah lama menginap? Saya tidak tahu. Apakah betul 50 orang LPI itu memang betul-betul berjaga? Kalaupun betul, berjaga dari siapa?

    Atau mungkinkah mereka dikirim untuk melindungi Firza dari orang-orang TS? Saya tidak tahu. Saya harus akui bahwa dalam hal ini saya belum bisa membaca semuanya.

    Sekarang, Memilih Jalan Nasib Firza


    Tindakan cepat Polri untuk segera mengamankan Firza adalah tepat, dan brilian. Firza adalah kunci untuk menyeret TS dan RS. Seperti pepatah kuno, hanya dengan satu bidadari, dapat dua burung klepek-klepek. Dengan catatan Firza mau kooperatif terhadap Polisi.

    Sebenarnya tidak ada pilihan bagi Firza untuk tidak kooperatif. Keselamatannya sedang terancam. Ia dibuang “bos”nya, juga dicampakan oleh cintanya. Firza hanya tinggal sendiri. Dia bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Ia tidak punya dukungan politik, dukungan massa, uang, apalagi kekuasaan. Firza hanya seorang pion yang siap untuk mereka korbankan kapan saja, inilah kejamnya orang-orang seperti demikian. Satu-satunya pilihan terbaik adalah dengan berlindung kepada pemerintah, dalam hal ini Polisi.

    Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword), jikalau pesan ini sampai kepada keluarga Firza, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa Firza adalah dengan meminta perlindungan dari pemerintah. Sebagai gantinya, jadilah informan bagi kepolisian. Setiap kita pasti pernah punya penyesalan akibat salah memilih jalan. Namun, ketika pilihan terbaik masih mungkin kita dapatkan, jangan sia-siakan. Pemerintah kita saat ini jauh lebih dapat dipercaya daripada para pemesan kepentingan yang memanfaatkan pion-pion seperti Firza.

    Firza, wanita yang habis manis sepah dibuang. Diancam TS, dan mungkin akan difitnah orang-orang FPI sebagai penyusup yang berusaha menjebak RS. Sekarang, di manakah mereka yang dahulu menawarkan manisnya dunia kepada Firza?

    Oleh Nikki Tirta Sumber : Seword .com.

    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Firza Husein, Saksi Kunci yang Harus Diselamatkan Polri Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top