728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 25 Februari 2017

    Fear Marketing Di Pilkada DKI

    Marketing atau pemasaran umumnya dipakai untuk meningkatkan penjualan suatu produk atau jasa. Akan tetapi ilmu pemasaran sudah sejak lama digunakan untuk kampanye pemilihan umum. Pada prinsipnya masih sama saja karena ada yang ditawarkan yaitu kandidat, ke pasar dalam hal ini adalah pemilih.

    Teknik-teknik pemasaran sangat banyak salah satunya adalah fear marketing. Seperti namanya fear marketing menggunakan rasa takut untuk masuk kedalam pikiran masyarakat. Contoh yang sering menggunakan fear marketing adalah kampanye anti rokok. Sering kali kampanye anti rokok menakut-nakuti dengan menyampaikan berbagai efek buruk dari rokok. Contoh lain misalnya iklan yang memperlihatkan bahaya dari menggunakan handphone saat berkendaraan.

    Umumnya fear campaign digunakan untuk mencegah seseorang melakukan sesuatu sehingga cenderung digunakan pada social marketing. Dan saya mengamati akhir-akhir ini fear marketing semakin intens digunakan oleh lawan-lawan Ahok. Salah satunya adalah spanduk di sebuah mesjid yang berisi penolakan terhadap jenazah pemilih Ahok. Ini dapat digolongkan pada fear marketing, menggunakan ketakutan supaya warga Jakarta tidak memilih Ahok.

    Apakah efektif?

    Secara umum fear marketing cukup efektif karena setiap manusia memiliki rasa takut dengan kadar tertentu. Rasa takut akan membuat orang waspada, sadar lalu bertindak. Biasanya fear marketing ini menggunakan rasa takut yang terdalam seperti takut akan mati karena setiap manusia dibekali dengan insting untuk bertahan hidup. Seperti pada iklan-iklan rokok, penggunaan safety belt di mobil, dan lain sebagainya. Namun pada Pilkada DKI pemilih ditakut-takuti tidak akan masuk surga kalau memilih Ahok. Ternyata hasilnya juga cukup efektif untuk menarik perhatian masyarakat, terlihat dari viral-nya spanduk mesjid yang menolak men-sholatkan jenazah pemilih Ahok.

    Salah satu contoh fear marketing adalah iklan sabun berikut ini.

    Bagi yang takut kecoak pasti iklan ini akan sangat menarik perhatian mereka. Selanjutnya tergantung sejauh mana rasa takut tersebut, respon orang akan berbeda-beda. Jika yang tidak takut kecoa, kemungkinan ia tetap akan tertarik mengamati iklan tersebut lalu mencerna pesannya kemudian ia bisa setuju atau tidak setuju dengan pesan tersebut. Orang yang takut dengan kadar normal akan sangat tertarik dengan iklan dalam artian akan fokus terhadap iklan lalu berusaha mencerna pesan iklan tersebut kemudian ia juga bisa setuju atau tidak. Nah orang yang takut berlebihan terhadap kecoa akan kesulitan menangkap pesan iklan tersebut. Sangat mungkin ia justru akan melewatkan iklan tersebut dengan ketakutan yang sangat. Efeknya ia menjadi tidak paham isi pesan yang disampaikan.

    Jadi menghadapi fear marketing kita tetap perlu berpikir jernih. Seperti halnya spanduk di mesjid tadi atau juga para pendukung Anies yang kerap menakut-nakuti dan mencap berbagai label buruk pada kita. Image Ahok yang sengaja mereka buat menakutkan, tukang gusur, tukang memaki, dan sebagainya. Lalu ancaman ini itu kalau Ahok terpilih kembali, dan sebagainya. Kita harus sadar bahwa ini hanya trik pemasaran dengan cara menakut-nakuti. Selanjutnya kita bisa membaca pesan yang sampaikan dengan jernih. Setelah itu kita tetap punya opsi untuk tidak setuju dengan pesan yang disampaikan mereka. Karena semua ini hanya sebuah trik pemasaran belaka.

    Tidak ada satupun dari mereka yang pernah ke akhirat kan? Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa bercakap-cakap langsung dengan Tuhan kan? Jadi pelabelan munafik terhadap pendukung Ahok yang kemudian berujung pada penolakan jenazah pendukung Ahok itu hanya penafsiran mereka saja. Apa kita perlu ikuti? Apa kita harus percaya? Tentu tidak karena mereka pun juga belum tentu benar. Tapi kita hargai saja upaya mereka menakut-nakuti seperti itu. Apa kita mau ditakut-takuti? Tentu tidak.

    Ada penafsiran lain kok misalnya fatwa ulama Mesir yang memperbolehkan memilih non-muslim di jaman sekarang ini. Itu ulama mesir loh, sementara banyak ahli-ahli agama disini yang lulusan Mesir. Jadi siapa yang bikin fatwa boleh memilih non muslim? Ya guru-guru ulama disini yang belajar ke Mesir. Lebih percaya siapa? Gurunya atau muridnya? Ya gurunya lah.

    Jadi gak perlu takut, karena kita punya hak untuk memilih fatwa yang mana untuk diikuti. Buktinya mereka sendiri begitu ngotot dengan fatwa MUI versi 2014 yang melarang memilih pemimpin non-muslim tapi mereka sendiri juga tidak mengikuti fatwa haram rokok yang dikeluarkan MUI. Ini hanya soal marketing disaat Pilkada saja, lepas Pilkada siapapun yang menang mereka akan lupa semuanya kok.

     Penulis :  Gusti Yusuf   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Fear Marketing Di Pilkada DKI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top