728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 25 Februari 2017

    Ekonomi Kerakyatan Djarot

    Djarot Saiful Hidayat, Walikota Blitar periode 2000-2005 dan 2006-2010 itu, mempunyai pandangan yang menarik tentang ekonomi. Baginya, ekonomi kota sewajarnya digerakkan dari bawah oleh para pelaku usaha yang tumbuh secara alami. Djarot yang pernah tinggal cukup lama di Malang dan Yogyakarta, saat kuliah di Brawijaya dan UGM, agaknya memahami bagaimana peran UMKM bagi perekonomian lokal.

    Dalam konsep Djarot, menurut pemahaman saya, perkembangan kota harus didukung oleh pengusaha lokal. Jika penghasilan penduduk kota meningkat, konsumsi pun bertambah, maka pengusaha lokal juga ikut mendapat rejeki. Pelaku usaha lokal akan memperluas usahanya, investasi meningkat, produksi bertambah, penghasilan pekerja semakin besar, pajak bagi pemda juga meningkat, yang berimplikasi pada pelayanan kota yang semakin baik.

    Secara singkat kehidupan ekonomi kota bertambah semarak, kesejahteraan rakyat meningkat.Itu sebabnya saat menjadi Walikota Blitar, Djarot lebih mengutamakan pedagang kecil, yang berjualan di pasar-pasar, kaki lima, toko-toko kelontong, dan warung-warung. Maka yang dilakukan Djarot adalah memperbaiki pasar-pasar yang ada di kota Blitar dan menata pedagang kaki lima. Pasar Legi berubah menjadi pasar modern pada saat itu.

    Pasar adalah tempat produsen menjual barang-barang hasil produksi, apakah barang industri kecil, kerajinan, komoditas pertanian, dan lan-lain. Dengan pasar yang bersih konsumen akan dapat berbelanja dengan nyaman. Para produsen, pedagang dan konsumen diuntungkan dengan adanya pasar demikian. Jadi sebelum pemerintah pusat mempunyai program peremajaan pasar tradisional sekarang ini, Djarot sudah melakukannya, bahkan lebih menyeluruh.

    Pedagang yang berjualan di pinggir-pinggir jalan pun mendapat perhatian yang memadai. Mereka direlokasi ke tempat khusus di sekitar alun-alun, yang mudah dicapai konsumen. Pedagang kecil menjadi lebih tenang berdagang, konsumen juga lebih nyaman membeli, kota Blitar menjadi semakin indah dipandang, lalulintas pun lancar. Jadi penataan PKL yang manusiawi seperti itu tidak hanya dilakukan oleh Jokowi saat menjadi Walikota Solo, namun juga oleh Djarot Saiful Hidayat di Blitar. Hanya saja eksposur keberhasilan penataan PKL di Blitar ini kurang seluas penataan di Solo. Blitar memang tidak sebesar Solo, sehingga tidak banyak diberitakan oleh mass media.

    Djarot tidak mengijinkan pendirian mall, café, toko swalayan, dan sebagainya, karena Blitar waktu itu adalah kota kecil, dengan penduduk hanya ratusan ribu orang. Pada waktunya, toko-toko kelontong akan semakin menarik sejalan dengan perkembangan ekonomi kota. Pengaturan keluar masuk barang dapat dilakukan secara lebih efisien dengan manajemen yang lebih terdidik.

    Maka pembinaan pedagang kecil pun menjadi program pemerintah kota era Djarot, diantaranya dengan mempermudah perijinan usaha. Ia tentunya berharap pedagang kecil akan dapat menyesuaikan diri dengan keinginan konsumen untuk berbelanja dengan nyaman, cepat, dengan kualitas barang yang terjaga seperti yang dipraktekkan oleh toko-toko swalayan.

    Sebagai orang yang pernah menetap di kota Yogyakarta dengan pusat-pusat perbelanjaan modern berbaur dengan pasar dan toko tradisional, ia tentu mengetahui Blitar suatu saat akan menjadi kota besar. Namun untuk saat itu, ia memilih perubahan kota dilakukan secara bertahap. Ia tidak ingin toko-toko dan pasar-pasar tradisional akan tersingkir oleh toko-toko swalayan dan pusat-pusat perbelanjaan yang pemiliknya entah darimana. Yang ia inginkan adalah pengusaha lokallah yang kelak akan mengembangkan toko-toko dan pasar-pasar modern itu. Inilah konsep ekonomi kerakyatan yang sudah dilaksanakan oleh Djarot Saiful Hidayat di kota Blitar beberapa tahun lalu.

    Apa yang dilakukan Djarot itu ternyata terdengar oleh lembaga-lembaga pemerhati pemerintahan. Djarot mendapat banyak penghargaan pada skala nasional dan regional, diantaranya:

    • Pemenang Otonomi Award dalam pengentasan kemiskinan dari Pemprov Jawa Timur (2009)
    • Juara Pro Otonomy Award kategori pertumbuhan ekonomi lokal dari Jawa Pos (2008)
    • Juara Terbaik kategori perijinan usaha dari KPPOD (2008)
    • Penghargaan Upakarti (2007)
    • Pelaksana program Gerdu Taskin terbaik se Jatim (2005)

    Gagasan Djarot membangun ekonomi lokal itu tentu saja memakan waktu yang lama. Dua periode pemerintahannya tidak cukup untuk membangun ekonomi kota berdasar kekuatan sendiri. Namun ia telah meletakkan dasar-dasar pengembangan ekonomi kerakyatan, tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintah kota kemudian menyempurnakannya.

    Membangun ekonomi kota Jakarta tentulah memerlukan pendekatan yang berbeda dari membangun ekonomi kota Blitar. Namun Djarot Saiful Hidayat telah memiliki konsep bagaimana menggerakkan perekonomian kota dan telah melaksanakannya dengan segala rintangan yang dihadapi. Pengalaman tersebut merupakan syarat yang penting dan perlu untuk membangun perekonomian kota Jakarta yang inklusif.


    Penulis :  Wardanto   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ekonomi Kerakyatan Djarot Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top