728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 19 Februari 2017

    Demi Politik Jangan Rasi(ali)s Please!

    Gara-gara politik, kita dipermainkan politikus dengan dikotomi politis, pribumi dan non-pribumi. Karena seiman, yang Arab kemudian dipribumikan, sementara yang Cina (tionghoa) dinon-pribumikan. Dianggap liyan. Padahal Cina yang muslim juga banyak.

    Politikus memang akan menghalalkan segala cara. Dalam upaya determinasi power, hal seperti itu sah. Di luar mekanisme politik itu, kita baru bisa bicara moral. Sebagai pihak ketiga. Jadi dapat dibayangkan, mekanisme politik adalah lingkaran kecil, kita yang mengamati proses itu ada di lingkaran besar, di luar lingkaran kecil tersebut.

    Sayangnya, orang-orang yang ada di dalam lingkaran besar justru lebih heboh dari yang ada di lingkaran kecil (politikus). Mereka membuat umpan, dan kita gontok-gontokan berebut umpan itu. Para politikus adem-ayem, saling jabat tangan dan say hello. Kita yang di luar sibuk saling caci dan mengkafirkan.

    Hakikatnya kita yang jadi korban, karena tidak berpikir kritis. Kaidah moral dan etika sudah kita terabas. Teman dan saudara kita hajar tak kenal ampun. Kemudian kita mengolok-olok politikus dengan alasan moralitas. Yang sakit mereka (politikus) atau kita?

    Dalam pilkada Jakarta misalnya, sah untuk memilih Ahok atau Anies. Itu hak setiap orang. Yang tidak boleh adalah menghalalkan segala cara. Itu bukan tradisi kita, karena kita terikat moral. Politikus bebas berbuat, karena politik tak terkait langsung dengan moral. Namun kitalah yang menilai tindakan mereka. Jadi, lingkaran besar (kita) mestinya yang mengontrol lingkaran kecil (politikus), bukan sebaliknya.

    Dalam praktiknya, banyak orang sering berlebihan dalam menyikapi fenomena politik. Selain doyan menjual agama, mereka juga rasis. Umpannya memang dari politikus, tapi kita yang membuatnya besar dan heboh. Banyak orang yang kemudian tak menggunakan nalar lagi. Tujuan utama adalah menghantam dan menjatuhkan. Tak perduli jika itu tak berdasar. Isinya fitnah, berita bohong, dan pemelintiran.

    Orang-orang yang hilang kendali ini mengolok-olok Ahok karena dia Tionghoa (Cina). Dan lucunya menggangap Anies sebagai wakil pribumi. Padahal sudah jelas Anies itu keturunan Arab. Menganggap Arab lebih pribumi dari Cina adalah sama-sama sesat pikir. Baik Arab maupun Cina hakikatnya sama. Haknya sama.

    Saya juga tidak nyaman menggunakan terminologi pribumi dan non-pribumi. Namun saya tak punya cara lain untuk menjelaskan soal ini, kecuali mengikuti alur berpikirnya dulu. Nanti baru dieksekusi di bagian akhir.

    Jika kita bicara soal ras, atau penduduk asli (pribumi), sebenarnya yang kita bicarakan hanyalah persoalan sejarah. Ketika menyebut native Amerika, akan dipahami Indian. Native Australia, tentunya Aborigin. Faktanya, persoalan ini sangat cair dan rumit. Soal ras dan penduduk lokal itu telah bercampur-aduk menjadi satu. “Yang asli” itu akhirnya hanya sebuah simbol sejarah.

    Memang ada perbedaan dari bentuk fisik dan budaya yang dilestarikan. Namun mereka tetap berbeda dari moyangnya. Mereka varian baru karena terpengaruh banyak hal. Kita bicara orang Jawa yang ada di Suriname atau negara lain misalnya. Ketika terjadi asimilasi, integrasi, akulturasi, keturunan mereka tak lagi bisa disebut murni Jawa. Terlebih jika mereka memang tak mengenal lagi kejawaannya. Jadi yang kita bicarakan ini hakikatnya ya hanya soal sejarah dan pengetahuan tradisi.

    Ketika menyadari bahwa penduduk asli (pribumi) atau bukan hanya persoalan sejarah, tidak ada kepantasan untuk mengkhususkan diri. Yang Cina, Yang Arab, Yang eropa, Yang India, Yang Pribumi, mestinya manunggal menjadi Yang Indonesia. Ini tugas pokok setiap orang, agar tidak merasa eksklusif. Karena faktanya, integrasi sosial dan kebudayaan sudah terjadi sangat lama.

    Leluhur orang Indonesia (asli) itu diyakini ras negroid yang berkulit hitam, bertubuh kecil. Mereka gelombang ke dua yang disebut Vedda. Kelompok ini akhirnya terdesak, sebagian bercampur dengan pendatang yang disebut Proto Melayu. Siapakah mereka itu? Mereka diyakini datang dari Cina Selatan (provinsi Yunan, Cina) ribuan tahun lalu. Kemudian datang kelompok yang lebih muda dari ras yang sama dengan sebutan, Deutro Melayu dari Indochina. Sebagian bercampur, sebagian dari Proto Melayu menyingkir. Pembauran inilah yang jadi leluhur orang Jawa, Bugis, Melayu, dll.

    Di bagian lain seperti Papua dan Australia, ras melanesoid terisolasi. Mereka adalah gelombang pertama yang migrasi sekitar 70.000 tahun sebelum mesehi. Maka ras mereka relatif tidak berubah banyak setelah puluhan ribu tahun. Ras inilah yang kemungkinan datang dari Afrika, dari leluhur seluruh manusia modern (homo sapiens) di dunia.

    Percampuran ras kuno itu terus berlanjut dengan datangnya manusia-manusia generasi baru dari daratan lama. Leluhur mereka sama dengan ras kuno tadi. Di sinilah persinggungan kebudayaan baru tercatat jelas. Cina kuno telah lama melakukan pembauran dengan generasi baru Nusantara, khususnya Jawa (Majapahit). Begitu juga Arab, India. Baru kemudian Eropa muncul seiring dengan semangat kolonialisme mereka.

    Memahami hal ini, sulit untuk menyebut diri sebagai Indonesia asli. Kita adalah bangunan beragam perbedaan. Integrasi dan akulturasi kebudayaan selama ribuan tahun. Maka orang-orang rasis itu sebenarnya tak paham sejarah. Dasarnya kecemburuan dan kesesat-pikiran. Dari sana lahir fasisme, anarkisme.

    Demi politik, kecemburuan dan kesesat-pikiran ini diolah, kemudian dijual kembali demi mendulang suara. Orang-orang pendek nalar gampang tersulut. Tidak cukup dengan perbedaan keimanan saja, mereka juga merendahkan ras orang lain. Menyebut diri sebagai “yang asli” dan menyebut pihak lain “pendatang” pada sesama WNI adalah prilaku rendah yang tak beretika.

    Penyebutan pribumi dan non-pribumi sebenarnya istilah yang diwarisi dari Belanda. Mereka menyebutnya inlanders. Kelas ini sengaja diciptakan demi kepentingan politik, meski wujudnya strata sosial. Di jaman Orde Baru ada pula istilah bumiputra untuk mengganti pribumi. Namun tujuannya sama, mengkotakkan masyarakat berdasarkan ras.

    Tradisi pengkotakan itu mestinya diakhiri sekarang. Hasil asimilasi dan integrasi sosial-kebudayaan selama ribuan tahun itulah Indonesia. Masing-masing pihak harus keluar dari isolasi sosial. Yang Cina, yang Arab, yang India, yang Eropa, yang Pribumi, harus membuka diri menjadi yang Indonesia. Perbedaan memang tak mungkin diseragamkan, tapi bisa disatukan. Berbeda, tapi satu jua.

    Rakyat harus kembali pada lingkaran besar dan jadi pengawas atas lingkaran kecil (politikus). Jangan terjebak dikotomi politis. Saatnya mengawal perbedaan dengan kewarasan. Kita Indonesia. Demi politik, jangan rasis please!


    Penulis :  Kajitow Elkayeni   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Demi Politik Jangan Rasi(ali)s Please! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top