728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 04 Februari 2017

    Cerita Kesatuan vs Persatuan dan Penampilan Djarot yang Mempesona di #KonserGue2

    Hari ini dilaksanakan #KonserGue2 di Ex Driving Range Senayan, Jakarta Pusat. Acara kebudayaan yang menghadirkan berbagai nyanyian lagu dan puisi ini terlihat sangat ramai dihadiri oleh banyak warga. Dari streaming Youtube saya menyaksikan begitu penuhnya tempat konser ini, terutama setelah waktu menjelang sore sekitar jam 2-3 tadi. Ini adalah pemandangan yang begitu menggugah hati, dan semoga juga menggetarkan bumi Jakarta hari ini.

    Cuaca di lokasi sudah mendung sejak pagi, dan sempat hujan beberapa menit tadi siang dan banyak payung pun terlihat terpasang. Lalu dengan tulus saya hanya bisa berdoa di rumah agar Tuhan cepat meredakan hujannya dan mengizinkan orang-orang disana dengan lancar melaksanakan kegiatan mereka.

    Karena ribuan orang itu datang dan hadir untuk menyuarakan suara-suara kebenaran dan keadilan disana, mohon izinkanlah mereka, demikian lah sepotong kalimat dalam doa saya tadi. Berkat banyak doa dari seluruh warga Indonesia, tiba-tiba saja hujan deras pun berhenti dengan anehnya. Mungkin Tuhan tersentuh hatinya, melihat anak-anak Indonesia yang berkumpul untuk menyuarakan suara hati nuraninya.

    Berbagai artis dan penyanyi hadir meramaikan tanpa dibayar, sebut saja Once, Kikan, Tompi, Sandhy Sondoro, Shanty, Krisdayanti, Dira Sugandi, PMR, Project Pop, Oppie Andaresta, Gita Gutawa dan tentunya Slank.

    Ada juga budayawan Butet Kertaradjasa yang menurut saya pribadi tampil sangat luar biasa dalam pembacaan puisinya. Puisi yang begitu menyentil dan menyohok hati banyak pihak, dari Pepo hingga Patrialis Akbar, dari Agus hingga Anies, dari Amien Rais hingga jenis ikan pun juga ikut disenggol. Bagian yang paling menghibur saya adalah bagian ayah menyopiri anaknya, yang pastinya maksudnya adalah Pepo, Hahahaha!
    Satu momen yang membuat air mata saya sedikit keluar adalah ketika pasangan nomor urut 2 Ahok/Djarot datang bersama partai pendukungnya. Ketika dimulai menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya seperti orang gila juga ikut bernyanyi di hadapan monitor saya. Dan ketika sampai di kalimat ‘Marilah kita berseru, Indonesia bersatu’, basah sejenak mata saya karena tiba-tiba memori perselisihan Pilkada yang kini sedang terjadi di negeri ini dibawa-bawa ke sentimen agama hingga sentimen sosial.

    Kesatuan vs Persatuan


    Pidato Presiden ke-4 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri di acara hari ini singkat saja, tapi pesan yang ingin disampaikan memiliki makna sangat dalam. Ibu Megawati menekankan bahwa NKRI adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang artinya Indonesia adalah negara kesatuan, bukan persatuan. Kesatuan artinya seluruh bangsa Indonesia, apapun dia agamanya, sukunya, rasnya, semua hidup berdampingan secara damai.

    Saya tadi terdiam sejenak untuk mencerna maksud Ibu Megawati ini. Apa perbedaan kesatuan dan persatuan? Lalu saya teringat nama dari kelompok atau organisasi yang ada kata ‘persatuan’ di dalamnya. Teringatlah saya dengan berbagai nama asosiasi olahraga di Indonesia seperti PSSI, PBSI, dan lain-lain yang mana namanya menggunakan kata ‘persatuan’.

    Tiba-tiba hati saya seperti disambar halilintar. Saya tiba-tiba sedikit banyak memahami perbedaan antara kesatuan dan persatuan. Persatuan artinya perkumpulan orang-orang yang sejenis, yang sama hobinya, sama tujuannya, sesuai pepatah Inggris yang berbunyi birds of a feather flock together. Orang-orang yang bekerja untuk bulutangkis Indonesia ya tergabung dalam Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), tidak mungkin orang yang ingin memajukan sepak bola tapi masuknya ke PBSI.

    Namun kesatuan itu berbeda, kesatuan itu artinya berbagai kondisi manusia-manusia yang tergabung di dalamnya berbeda-beda. Ada yang hobi main bulutangkis, ada yang ngikutin bola saja. Ada yang ingin Indonesia jadi negara Islam, ada yang ingin Indonesia jadi negara Pancasila. Ada yang cinta anaknya dan kerap memprovokasi, ada juga yang sabar melalui berbagai badai yang datang menghampiri. Semua orang-orang ini beda hobi, tujuan hidup dan pemahamannya, tapi semua disatukan dalam sebuah kesatuan, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Ini lah yang tidak dimengerti oleh banyak manusia di negeri ini. Mereka mementingkan diri mereka masing-masing dan tidak menempatkan kesatuan NKRI di prioritas pertama. Padahal para pejuang kemerdekaan kita mengorbankan darah dan air mata untuk mewujudkan dan mengumandangkan NKRI. Jika kepentingan persatuan (kubu atau partai) sendiri yang dipentingkan, perasaan kelompok sendiri dan pembelaan agama sendiri yang didahulukan, jadilah kondisi seperti sekarang ini yang rawan akan perpecahan di negara yang didirikan di atas perbedaan ini.

    Maka dapat dipastikan bahwa orang-orang yang ribut-ribut belakangan ini tidak mengerti makna NKRI. Karena mereka tidak paham perbedaan kesatuan dan persatuan sehingga bukan kepentingan kesatuan yang mereka utamakan dan kedepankan.

    Pidato Djarot Keren


    Meskipun pidato Ahok juga as usual bagus juga, namun Ahok tidak panjang berbicara hari ini. Yang Ahok bicarakan kira-kira tentang ucapan terima kasih kepada partai yang mendukung tanpa mahar, terima kasih kepada para pendukung, Bawaslu, KPUD, dan juga kepada aparat penegak hukum yang telah berperan dalam menjaga kondisi Jakarta yang kondusif. Berbagai penekanan tentang jaminan kesehatan, pendidikan, perumahan, transportasi, dan sembako harga khusus juga merupakan isi pidato singkat Ahok sore hari ini.

    Yang ingin saya bahas lebih mendalam hari ini adalah pidato dari Djarot yang menurut saya sangat bagus isinya. Djarot berseru: “Tunjukkan bahwa negara Pancasila benar-benar hadir di Jakarta, juga bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya jargon, tapi sudah membumi di Jakarta”, yang menurut saya merupakan didikan yang berguna bagi bangsa ini.
    “Kami mohon dengan sangat, mari tunjukkan kita semua mampu menciptakan Pilkada yg damai, sejuk, kita tidak boleh melakukan provokasi, tidak boleh intimidasi. mari kita saling menghargai 1 sama lain, karena kita 1 saudara,” ujar Djarot dengan suara yang lantang.
    “Waktu sudah dekat, sebentar lagi kita semua benar-benar berusaha untuk membikin sejarah di Jakarta ini. Jadilah bagian dari pelaku sejarah ini dan akan kita tunjukkan bahwa negara Pancasila benar-benar hadir di Jakarta,” ujar Djarot berbicara di hadapan pendukungnya dalam kampanye akbar #KonserGue2 di Senayan Golf Driving Range, Senayan, Jakarta, Sabtu (4/2/2017).
    Mendengar pidato singkat Djarot hari ini, saya dapat memastikan bahwa Djarot lebih baik sekalipun dari calon gubernur nomor 1 dan 3. Karena pesan yang disampaikan oleh Djarot bukan hanya meminta dukungan, tapi juga sekaligus mendidik. Pertama, Indonesia adalah negara Pancasila bukan negara agama tertentu.

    Jadi dapat dipastikan bahwa pihak-pihak yang koar-koar menggunakan ajaran agama dalam kontestasi demokrasi adalah orang-orang yang memiliki kepentingan politik lain, bukan murni mengimani agamanya. Mereka mementingkan persatuan (kubu) mereka di atas kesatuan, mereka adalah rakyat Indonesia yang mengkhianati perjuangan para pahlawan kita ketika merebut kemerdekaan 70 tahun silam.

    Kedua, Djarot juga menyerukan bahwa jangan ada intimidasi di Pilkada DKI. Meskipun saya sangat meragukan bahwa pesan ini tidak akan didengar oleh orang-orang yang ingin melakukan demo pada 11-14 Februari itu, ya kelompok-kelompok yang lagi-lagi mementingkan persatuannya di atas kesatuan NKRI yang bersumpah untuk hidup damai dalam perbedaan. Saya pribadi berharap ada terobosan oleh pihak aparat untuk mencegah aksi-aksi ini pada tanggal-tanggal tersebut, semoga saja Pak Tito dapat mengeluarkan ide briliannya lagi.

    Ketiga, Djarot mengajak para warga Jakarta untuk ikut menjadi bagian dari sejarah, sejarah baru yang akan ditulis dengan tinta emas oleh para generasi penerus bangsa ini. Sejarah dimana bisa ada seorang non-muslim yang terpilih menjadi gubernur pertama di Indonesia. Kisah yang akan tertulis di buku-buku sejarah di negeri ini, sejarah yang mencatat kedewasaan bangsa Indonesia yang pasti akan dipuji oleh seluruh dunia. Saya sangat suka dengan kalimat ini, karena ajakan ini pasti akan menggetarkan hati warga Jakarta dan harapannya mereka ingin menjadi bagian dalam sejarah itu dengan memilih nomor 2.

    Penutup

    Menurut saya ajakan-ajakan Djarot hari ini ada kemungkin akan menjadi kata penutup pada acara debat ketiga Pilkada DKI 2017 pekan depan, dan saya sangat setuju untuk itu karena kalimat-kalimatnya memiliki makna yang indah serta dapat menyentuh hati para pendengar. Entah akan disengaja atau tidak, saya memprediksikan bahwa Djarot yang akan mengeluarkan kata-kata seperti ini pada debat ketiga nanti, mungkin untuk mencegah serangan-serangan sontoloyo dari kaum sumbu pendek dan kubu sebelah yang selalu mencari-cari kesalahan Ahok.

    Semoga saja Ahok tidak senasib seperti Hillary Clinton di Amerika Serikat yang juga mencoba mencetak sejarah dengan menjadi presiden perempuan pertama negeri itu. Semoga DKI Jakarta bernasib berbeda. Saya berharap sejarah benar-benar akan terwujud di Indonesia. karena saya telah menyusun kata-kata indah yang akan saya gunakan untuk menceritakan kisah terpilihnya Ahok kepada anak cucu saya kelak.
    Dari sebatang pohon yang ingin berdiri kokoh dan tegar di tengah badai dan topan………
      Penulis : Power Aryanto Famili Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Cerita Kesatuan vs Persatuan dan Penampilan Djarot yang Mempesona di #KonserGue2 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top