728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 05 Februari 2017

    Cerdas, SBY Terjebak Oleh Kepiawaian Tim Ahok

    Kasus persidangan ke-8 Ahok yang menimbulkan polemik rupanya bukan suatu blunder buat Ahok. Aksi cecar pertanyaan saat sidang yang dilakukan Ahok dan timnya dinilai tidak sopan terhadap Ulama saat dihadirkan JPU sebagai saksi. Umat NU langsung bereaksi, bahkan GP Ansor langsung mengeluarkan sikap tegas. Sempat ditengarai bahwa sikap Ahok di persidangan telah menciptakan permusuhan dengan Ulama dan umat NU. Padahal selama ini NU selalu mendukung Ahok karena sang Gubernur non aktif dinilai bekerja dengan benar. Akibat polemik tersebut,  Ahok ditengarai telah melakukan kesalahan besar. Pasalnya jika Ahok bermusuhan dengan NU, diyakini dia akan gagal total di Pilkada 15 Februari mendatang.

    Melihat ini sebagai peluang emas, SBY langsung keluar dari sarangnya dan menggembar-gemborkan kesalahan fatal Ahok yang telah merugikan bangsa. Dia langsung bermain play victim lagi untuk mendapatkan simpati. Dukungan simpati sangat dia butuhkan untuk memenangkan putera terbaiknya sebagai Gubernur. Kemenangan puteranya juga merupakan simbul comebacknya di kancah politik tanah air. SBY langsung melakukan konferensi pers secara langsung memanfaatkan reakasi GP Ansor  yang telah bersikap, umat NU yang sudah merespon, dan netizen yang marah atas sikap tidak sopan Ahok. SBY pun ikut serta, lalu menggorengnya menjadi isu yang merugikan Ahok dan membentuk opini publik bahwa dia sedang dianiaya penguasa.

    Konferensi persnya lebih menekankan bahwa dia telah disadap dan itu satu pelanggaran hukum serius. Ini dia dasarkan pada kasus sidang Ahok, dimana kuasa hukum Ahok berkata bahwa mereka punya bukti ada telpon SBY kepada ketua MUI termasuk didalamnya meminta fatwa penistaan agama yang dilakukan Ahok


    Di saat yang bersamaan kuasa hukum Ahok menilai ketua MUI mendukung Agus-Sylvi yang notabenenya putera SBY. Dengan dasar itu, SBY menekankan dia telah disadap dan itu pelanggaran berat. Untuk itu, dia berharap Presiden Jokowi turun tangan atas kasus ini dan bersikap. Keuntungan politik yang ingin dia dapatkan adalah simpati masyarakat, posisi tawar politiknya, kemarahan publik pada Ahok, dan  mendongkrak suara untuk kemenangan anaknya. Taktik ini lazim dalam politik.

    Mengapa Terjebak?

    Namun sayang seribu sayang. Di luar dugaannya, ternyata ini  justru jebakan politik dan dia sudah terlanjur keluar dari sarangnya. Semula dia mengira ini adalah peluang emas yang tidak boleh disia-siakan, namun ternyata justru menjebak dirinya Dengan dia melakukan konferensi pers dan menekankan penyadapan atas dirinya. Itu mengartikan bahwa dia membenarkan adanya pembicaraan lewat telepon tersebut. Akan tetapi bukan itu yang paling inti. Tujuan utamanya adalah menarik SBY keluar dari wilayah abu-abu agama dan politik ke arena pertarungan politik. Sebelumnya Ahok sangat direpotkan bahkan bisa dihabisi elektablitasnya karena pertarungan politik yang dia jalani berada di wilayah perkawinan politik dan agama. Ahok bahkan tak berdaya harus dijadikan tersangka. Namun dengan SBY menggunakan isu ini sebagai senjata untuk menghabisi Ahok, justru isu agama untuk menghabisi Ahok menjadi terpisah. Ahok menegaskan dia sangat menghormati Ulama dan Ulama juga tidak dimanfaatkan lagi sebagai alat politik. Kekuatan agama dan kekuatan politik akhirnya dipisahkan. Artinya dia hanya bisa menggunakan kekuatan politiknya. Kekuatan agama yang dia miliki menjadi terpisah. Angin pun berhembus ke kubu Ahok.

    Di lain tempat, Presiden Jokowi merespon bahwa tidak ada kaitan yang SBY katakan dengan dirinya. Polemik terjadi di sidang Ahok sehingga tidak relevan jika dihubungkan dengan Presiden. Polri juga memberikan tanggapan bahwa tidak ada kata penyadapan di sidang Ahok. Secara defenitif sama sekali tidak dijumpai kata “sadap” dalam sidang Ahok. Jadi benar bahwa Polri susah menindaklanjuti laporan ini. Kata defenitif “sadap” memang diperlukan untuk memprosesnya sebagai pelanggaran pidana. Hal kecil yang terabaikan sang mantan Presiden.

    Satu-satunya kekuatan SBY sekarang adalah politik di parlemen. Jalan politik yang dapat dimanfaatkan SBY adalah mendorong isu ini masuk ke DPR RI. SBY dapat mengadu dan meminta DPR untuk melakukan Pansus angket dugaan penyadapan atas dirinya yang merupakan hak DPR. Ini sangat mungkin dilakukan karena dia ketua partai dan isunya sedang dimainkan di DPR. Akan tetapi secara hitung-hitungan politik, jalan ini lumayan susah. Meskipun PPP dan PKB ada di kubu partai pengusung anaknya, tetapi kecil kemungkinan partai ini berani melawan Jokowi sekarang. PPP dan PKB sendiri adalah koalisi pemerintahan Jokowi meski di Pilkada DKI berada di kubu yang berbeda. Belum lagi untuk mengajak Gerindra dan PKS bergabung. Singkatnya ini merupakan jalan yang susah untuk cepat dilakukan, sementara hari pemilihan sudah dekat.

    Apakah Ahok Gambling?

    Memang Ahok dan timnya agak sedikit gambling. Resikonya cukup besar dengan apa yang terjadi di persidangan. Bagaimana tidak, umat NU dan masyarakat di akar rumput bisa saja termakan isu, bahkan marah dan meninggalkan Ahok padahal sudah mendekati hari pemilihan. Namun harus dimengerti bahwa praktik politik itu dinamis. Politik adalah seni memainkan peluang. Ibarat main catur, memberikan kuda dimakan untuk membunuh queen dengan pion. Permainan yang dimainkan tim Ahok memang beresiko, tetapi tentunya sudah dilakukan kalkulasi politik. Polemik ini muncul dua minggu sebelum hari pemilihan, tentunya beresiko dan mereka harus bisa cepat melakukan recovery.

    Recovery langsung cepat dilakukan dengan permohonan maaf lewat televisi, tulisan, dan video di sosial media secara besar-besaran sehingga kemarahan umat tidak berlangsung lama. Perlahan usaha ini mulai bisa menurunkan suhu. Bahkan kehormatan Ulama NU justru diteguhkan Ahok lewat kasus ini


    Recovery lebih besar lagi dilakukan dengan #KonserGue2 pada sabtu 4 Februari. Layaknya seperti konser salam dua jari Jokowi 2014 dulu, konser ini sangat menyedot perhatian masyarakat Jakarta dan memperkecil isu yang sedang terjadi. Inilah kelebihan Ahok yang merupakan buah demokrasi

    Dengan demikian, diyakini elektabilitas Ahok-Djarot akan meroket lagi. Kesempatan untuk memastikan Ahok-Djarot menang satu putaran diharapkan dapat mereka peragakan di debat terakhir nanti. Ahok-Djarot tampil sangat meyakinkan di dua kali debat sebelumnya. Pasangan ini sangat mencuri perhatian dengan argumen rasional yang mereka sampaikan diperkuat dengan data fakta keberhasilan programnya. Harapan kemenangan satu putaran dapat Ahok-Djarot tuntaskan dengan tampil all out di debat terakhir. Tentunya ini sangat mungkin sekaligus jadi harapan pendukung Ahok.

    Salam Indonesia Jangan Diam

    Penulis : Junaidi Sinaga Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Cerdas, SBY Terjebak Oleh Kepiawaian Tim Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top