728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 27 Februari 2017

    Berita Bohong Itu Masih Mengendap

    Menjelang Pilkada DKI yang lalu media sosial diramaikan dengan berita bohong (hoax) yang dihembuskan agar masyarakat tidak memilih paslon tertentu. Kejadian ini mengingatkan suasana menjelang Pilpres 2014 yang lalu, bahkan lebih seru. Namun seusai hari pencoblosan tanggal 15 Februari, peredaran berita bohong dan sejenisnya terlihat mereda, walau tetap masih ada sampai sekarang. Mungkin para pembuat berita bohong sedang istirahat sambil menyusun strategi dan langkah-langkah berikutnya. Dalam waktu dekat, berita bohong akan muncul lagi, dengan topik yang sama atau mungkin dengan topik-topik yang baru.

    Peredaran berita bohong juga melanda Pilpres di AS. Presiden Obama pernah menyatakan “In an age where there’s so much active misinformation, and it’s packaged very well, and it looks the same when you see it on a Facebook page or you turn on your television, …, then we won’t know what to protect. If we can’t discriminate between serious arguments and propaganda, then we have problems.” [“Pada suatu era dimana banyak beredar informasi yang keliru, yang dikemas secara menarik, yang terlihat sama ketika anda membacanya di halaman Facebook atau ketika menontonnya di televisi, …, maka kita tidak akan tahu mana yang harus dilindungi. Jika kita tak dapat membedakan argumen yang serius dengan propaganda, maka kita mempunyai masalah.”] (The Guardian, 20/11/2016)

    Pemerintah Perancis yang akan melangsungkan pemilu tahun ini telah meminta Facebook untuk bertindak menyetop peredaran berita bohong. Facebook menjawab positif dengan tidak akan menampung berita-berita bohong dalam platformnya. Pemerintah Jerman pun bertekad akan menerapkan denda besar bagi perusahaan media sosial yang menyebarkan berita bohong dan tak menghapuskannya dalam waktu 24 jam. Kita tentu saja berharap agar Facebook, Google dan perusahaan media sosial akan melakukan hal yang sama di sini, khususnya menjelang pencoblosan putaran kedua di Jakarta beberapa minggu mendatang.

    Selanjutnya yang perlu dikoreksi adalah berita bohong yang sudah terlanjur mengendap di benak para pemilih pada pilkada yang lalu. Berita bohong itu agaknya telah dianggap sebagai suatu kebenaran oleh penerima berita, dijadikan patokan untuk menentukan paslon yang dicoblos. Namun tak diketahui seberapa besar kerusakan sudah terjadi. Andai ada exil poll yang menanyakan secara spesifik informasi apa yang membuat pemilih mencoblos paslon tertentu dan bukan yang lain, maka bisa diketahui seberapa besar berita bohong telah memengaruhi para pemilih dalam menentukan pilihannya.

    Memang sudah banyak upaya untuk menilai kebenaran suatu berita, baik yang dilakukan oleh Kementerian Kominfo maupun oleh inisiatif masyarakat. Namun agaknya upaya-upaya itu masih perlu ditingkatkan untuk memberikan hasil yang lebih terlihat. Kebanyakan orang malas untuk mengecek kebenaran suatu berita (tabayun). Keinginan untuk berbagi bisa membuat berita bohong langsung diunggah ke WA, facebook, dan sebagainya.

    Menghapus berita bohong

    Tentunya yang paling berkepentingan untuk membantah berita bohong adalah paslon yang menjadi sasaran berita bohong. Namun tanpa ada pihak yang menjadi penengah, upaya membantah berita bohong akan disambut dengan berita bohong yang lain. Menyerahkan masalah berita bohong kepada pihak yang berwajib seperti Bawaslu atau penegak hukum dikhawatirkan kurang efektif karena memakan waktu dan energi tersendiri, sementara berita bohong bermunculan begitu cepat.

    Bagaimanapun, jika tetap ingin terpilih pada putaran kedua, para paslon perlu membantah berita bohong yang sudah beredar dan mengendap di benak pemilih. Kepekaan mengidentifikasi berita bohong dan membantahnya dengan segera harus dimiliki oleh masing-masing tim sukses paslon. Tim pengendus berita bohong yang bekerja 24 jam/hari perlu dibentuk untuk itu.

    Membantah berita bohong perlu dilakukan melalui media sosial maupun secara riil di lapangan melalui spanduk, iklan, dialog, dan sebagainya. Iklan kampanye yang memasang foto paslon dengan kalimat ajakan untuk memilih di media cetak maupun di media elektronik menjadi hambar manakala di luar sana berita bohong yang mendiskreditkan paslon tersebut beredar luas di media sosial.

    Bisa pula diadakan ruang interaksi di media sosial, media cetak, radio, televisi dan sebagainya, di mana para paslon dapat memberikan penjelasan mengenai berita-berita bohong dan kampanye negatif yang menyerangnya. Acara bincang-bincang dengan paslon yang diadakan di beberapa stasiun televisi semestinya tidak hanya diisi dengan penjelasan visi, misi dan program, dan sebagainya, namun juga digunakan untuk membantah berita bohong yang beredar. Atau KPUD dapat memfasilitasi para paslon untuk membantah berita bohong pada acara debat resmi yang diselenggarakan.

    Kita ingin pilkada atau pemilu berlangsung dengan jujur dan adil, agar menghasilkan kepala daerah atau anggota parlemen yang berkualitas, tidak dikacaukan oleh berita bohong yang bersifat merusak. Oleh sebab itu kemunculan berita bohong harus dicegah, dan berita bohong yang sudah terlanjur mengendap di benak para pemilih yang masih akan memilih lagi pada putaran berikutnya perlu dihapus.

    Penulis : Wardanto   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Berita Bohong Itu Masih Mengendap Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top