728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 22 Februari 2017

    Basuki – ‘Bapak’ Warga Miskin Jakarta, Nies!

    Tulisan ini ditujukan kepada seluruh warga miskin di Jakarta. Mohon pembaca yang setuju dengan pemikiran penulis, bukan hanya menyebarkan tulisan ini di media sosial; yang terpenting adalah : bagaimana pemikiran, perhatian, dan kepedulian seorang Basuki kepada warga miskin, khususnya yang di Jakarta, bisa sampai ke mereka, para warga miskin itu. Ayo kita edukasi warga miskin, agar mereka menerima program relokasi ke rusunawa demi masa depan mereka!!

    Perjuangan kita saat ini bukan hanya memenangkan pasangan BADJA untuk memimpin Jakarta; tetapi terutama dan (mungkin) ini lebih penting adalah menyadarkan para warga miskin bahwa sebenarnya, selama bertahun-tahun, pak Basuki sudah berjuang dan memperjuangkan kesejahteraan mereka tanpa kenal lelah dan tidak pernah putus asa, walau malah sering menghadapi penolakan demi penolakan.

    Kekurangan pak Basuki adalah dalam hal komunikasi. Marilah kita bantu pak Basuki mengkomunikasikan program ‘rumah tinggal’ Pak Basuki, yang bukan hanya realistis, tetapi juga mendidik : mengubah cara hidup dan pola berpikir warga miskin tersebut, agar suatu saat mereka bisa benar-benar mandiri secara finansial. Ini bukan hanya sulit, tetapi butuh waktu bertahun-tahun.

    Solusi rumah tinggal di Jakarta ala Basuki, bisa dibaca selengkapnya disini.

    Mengapa (harus) Menyewa, (tidak) Bisa Memiliki? 

    Rusunawa yang tidak menyewa? Tidak tepat memberi nama?

    Sebenarnya di awal pemerintahan duet Jokowi-Ahok, pernah dibuat program rumah susun sederhana milik (surunami), yaitu rumah susun yang dimiliki oleh warga yang direlokasi dari bantaran sungai, waduk/sungai yang direklamasi secara illegal. Tapi apakah berhasil? Gagal. Mengapa? Karena banyak warga penerima (pemilik) rusunami, setelah serah terima rusunami, langsung menjual rusunami mereka dengan harga jauh lebih tinggi. Dampaknya: mereka kembali tidak memiliki tempat tinggal, dan kembali tinggal di tempat kumuh mereka dulu. Jadi tujuan memanusiakan warga miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal layak GATOT ... gagal total. Memang sulit mengubah cara hidup dan pola berpikir orang, bukan?

    Yang menyedihkan lagi, rusunami tersebut mereka dijual kepada orang yang sebenarnya tidak layak medapat bantuan/subsidi perumahan dari Pemprov DKI. Jadi program yang bagus ini menjadi tidak tepat sasaran, karena terjadi ‘penyelewengan’ dari tujuan semula diadakannya program tersebut oleh warga miskin penerima rusunami. Dahulu kasus ini, lebih dikenal dengan nama kasus Kalibata City. Perlu diketahui untuk setiap unit rusun, Pemprov DKI memberi subsidi sampai 145 juta rupiah untuk tanah. Ternyata begitu selesai tanda tangan serah terima, unit tersebut langsung dijual dengan harga 250 juta rupiah, kepada orang yang tidak layak menerima subsidi.*).

    Kepada timses Anies-Sandi, mohon jangan permalukan pasangan calon Anda dengan menyodorkan program yang mentah. Timses seharusnya bekerja keras membuat program dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data/fakta di lapangan, sebelum menyodorkan program tersebut ke calon Gubernur Anda. Tugas timses Anis-Sandi bukan hanya fokus memenangkan Anies-Sandi, tetapi juga membantu dalam membuat program kerja yang realistis. Memang posisi timses Anies-Sandi, sangat berbeda dengan timses BADJA.

     Timses BADJA tidak perlu memikirkan program. Mengapa? Karena BADJA sudah mengetahui permasalahan ibukota DKI Jakarta dengan terinci, sampai sedalam-dalamnya. BADJA membuat program berdasarkan pengalaman sebelumnya, berdasarkan fakta di lapangan. Jadi program kerja BADJA, bukan program yang mengawang-awang, alias hanya menjual mimpi (indah) semata.  

    BADJA memang sudah teruji dan terbukti.

    Kasus apartemen Kalibata City, memberi bukti nyata bahwa Pak Basuki sudah pernah membuat program untuk memfasilitasi warga miskin yang direlokasi memiliki rumah sendiri. Tapi ternyata tidak berhasil. Mengapa? Karena warga miskin tersebut ‘belum siap’ mengubah cara hidup dan pola berpikir mereka!.


    Kegagalan program rusunami membuat Pak Basuki menghentikan program tersebut dan menggantinya dengan program rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Pada dasarnya rusunawa yang dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta, bukan disewakan kepada warga relokasi. Mengapa? Warga tersebut tidak menyewa (walau namanya rumah susun sederhana sewa), mereka hanya dikenai retribusi/iuran 5-15 ribu rupiah/hari. Mengapa? 

    Karena uang iuran tersebut dipakai untuk memelihara kebersihan dan fasilitas rusunawa itu sendiri. Iuran ini seperti uang iuran sampah dan keamanan tiap RT yang biasa kita bayarkan untuk biaya operasional RT kita masing-masing. Bila rusunawa itu benar-benar disewakan, pasti service charge-nya di atas 500 ribu rupiah, karena ada fasilitas lift di rusunawa tersebut. Harga sewanya pasti jauh lebih besar dari 500ribu rupiah!. Jadi kenyataan yang sebenarnya adalah: pemprov DKI Jakarta memberi subsidi sekitar 80%, dengan iuran 5-15 ribu/hari, demi memastikan warga miskin tersebut TIDAK BISA MENJUAL unit rusunawa yang menjadi haknya.

    Jadi pada dasarnya penerima rusunawa itu adalah pemilik rusunawa, karena mereka tidak menyewa. Mereka tidak menerima sertifikat atas nama mereka, demi mencegah unit rusunawa tersebut dijual oleh mereka. Sederhana, namun tetap cetar membahana kan …. Inilah terobosan besar yang sudah dilakukan oleh Basuki – ‘bapak’ warga miskin Jakarta, wahai Bapak Anies Baswedan..

    Itulah kecerdikan pak Basuki : memberi ‘anak-anak’nya rumah tinggal yang layak, tetapi tidak memungkinkan ‘anak-anak’nya berbuat ‘nakal’ lagi dengan menjual rumah tinggal mereka yang layak, untuk pindah dan hidup di tempat yang tidak layak lagi. Ini bukan kejam terhadap wong cilik lho Anies 

    Baswedan!! … Sebaliknya. Ini adalah tindakah seorang ‘bapak’ yang berusaha melindungi anak-anaknya yang ‘belum dewasa’ agar akhirnya cara hidup dan pola berpikir mereka menjadi berubah. Mereka perlu dibiasakan hidup di lingkungan yang layak: sehat, manusiawi. Apa kesalahan ‘bapak’ warga miskin satu ini? Tidak pandai berkata-kata seperti Anies Baswedan.

    Semoga Pak Anies Baswedan membaca tulisan ini, dan dengan sportif meneruskan informasi ini kepada para warga di Bukit Duri, Luar Batang, Kampung Akuarium, dan lain-lain, agar mau direlokasi. Bila seorang Anies Baswedan yang berbicara, pasti mereka bisa mudah mengerti, karena Anies pandai meyakinkan orang lain. Saat yang tepat bagi Anies Baswedan, seorang pendidik untuk mendidik warga. Kebetulan banjir kembali mengepung Jakarta.

    Ajakan untuk pasangan calon Anies-Sandi dan timses.

    sumber : youtube

    Ayo kita bersaing secara sehat dengan adu program saja. Tak perlu berusaha melakukan pembunuhan karakter dengan menyudutkan Pak Basuki tanpa didukung fakta yang benar, seperti ini  Penulis memberikan beberapa link berita yang bisa dipakai oleh Anies-Sandi dan timsesnya terkait sepak terjang pak Basuki selama ini dalam usaha memperjuangkan warga miskin memperoleh salah satu hak asasi mereka, yaitu tempat tinggal yang layak (sehat dan manusiawi). Kalau mau mencari lagi sendiri, pasti banyak berita yang mendukung tulisan ini.

    Oh ya, mungkin tugas timses BADJA bukan membantu membuat program kerja. Timses bantu BADJA memberi nama programnya dengan lebih tepat, sehingga tidak menimbulkan salah paham yang merugikan. Hehehe … Enak bener tugas timses BADJA yach … Jangan lupa bantu pak Basuki mengedukasi warga miskin agar mereka benar-benar mengerti manfaat besar dari program rusunawa yang digagas dan dijalankan pak Basuki.

    Ahok sudah ganti jadi Basuki. Jadi 2017-2022 warga DKI akan ganti Gubernur nih, dari Gubernur Ahok menjadi Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, YES ….

    Salam i’m nobody alias kulo sanes sinten sinten

    Penulis :  Ariati Indriani  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Basuki – ‘Bapak’ Warga Miskin Jakarta, Nies! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top