728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 02 Februari 2017

    Banyak yang Mendadak Jadi NU, Salah Satunya Aa Gym

    Gara-gara sidang Ahok ke-8 kemarin, banyak orang mendadak jadi NU, atau sekurang-kurangnya menjadi simpatisan NU. Padahal, sebelumnya mereka sangat keras menolak tahlilan, maulidan, dan tradisi-tradisi lain yang berkembang di antara Kaum Nahdliyyin.

    Mereka mendadak jadi NU, padahal mereka suka meledek konsep “Islam Nusantara”nya NU. Mereka mendadak jadi NU, padahal mereka mendukung keberadaan ISIS dan hendak menjadikan negeri ini sebagai Suriah kedua. Tidak hanya itu, mereka mendadak jadi NU, padahal mereka juga suka mengkampanyekan NKRI bersyariah, sekaligus pemuja khilafah.

    Bagus sih menjadi NU atau setidak-tidaknya menjadi simpatisannya. Tapi, mengapa baru sekarang? Mengapa tidak dari dulu? Mengapa harus menunggu Ahok yang “seolah-olah” sedang berkonfrontasi dengan NU? Mengapa harus Ahok dulu baru banyak orang bergerak? Apa semua gara-gara Ahok?

    Aa Gym salah satunya, orang yang tiba-tiba “begini” dan tiba-tiba “begitu” saat Ahok melakukan sesuatu yang agak-agaknya sensitif. Saat Ahok kepleset lidahnya, Aa Gym tiba-tiba turun gunung setelah sekian lama bersemedi tanpa tersentuh media.

    Aa menjadi tokoh agama yang terdepan dalam mengawal kasus Ahok. Aa juga nggak pernah absen dalam aksi bela islam yang berjilid-jilid itu. Tentu ini kesempatan untuk Aa memulihkan masa lalunya yang kusut. Dan Aa nggak muluk-muluk. Aa bilang sendiri bahwa ia kini terkenal lagi, diliput media lagi, gara-gara Ahok. Doakan Ahok supaya dapat hidayah, kata Aa.

    Seharusnya bukan Aa yang berdoa, tapi Ahok. Sebab, dengan kebarokahan Ahok, Aa kini mendapat hidayah untuk memulai mengukir popularitasnya lagi. Padahal, pada tahun 2014, setelah Aa tersandung masalah permaduan, Aa pernah berkata, “Saya sudah merasakan jadi orang terkenal, dan saya tidak bahagia dengan hal itu. Justru, kondisi seperti sekaranglah yang membuat saya bahagia.”

    Hanya selang dua tahun, sepertinya Aa sudah tak tahan. Hingga akhirnya sebuah ledakan besar terjadi di Jakarta. Ahok kepleset lidahnya. Dengan sebuah panggilan iman, katanya, Aa turun gunung. Aa harus berjihad membela agama Allah. Aa harus mengkampanyekan konsep “akhlak, akhlak, akhlak”.

    Dari situ, wajah Aa mulai nampak dimana-mana. Statemennya dinanti media. Bahkan cuitannya pun ditunggu-tunggu. Aa berhasil merebut hati mereka yang merasa disakiti oleh Ahok. Orang-orang mulai melupakan masa lalu Aa yang kelam. Orang-orang kini menganggap Aa adalah punggawa terbaik mereka, karena Aa santun, sedang Ahok kasar.

    Lalu, Ahok akhirnya menjadi tersangka kasus penodaan agama. Aa dan ikhwan sedasterannya tentu bangga atas pencapaian ini. Ahok pun disidang. Sayangnya, Aa tidak menjadi saksi pada sidang Ahok. Saksi ahli yang dipanggil adalah KH. Ma’ruf Amin. Beliau sudah sepuh, kasihan, kalau harus jadi saksi dan menjawab berbagai macam pertanyaan hingga berjam-jam.

    Sejak ceramahnya di Pulau Pramuka, Aa Gym tidak pernah muncul lagi di media. Saat ikhwan alumnus 212, seperti Rizieq, Munarman, Novel dan Muchsin terlibat dalam berbagai kasus, Aa pun tidak muncul di media. Ya, minimal mengucapkan keprihatinan. Mungkin, bagi Aa, Rizieq cs tidak menguntungkan dalam hitung-hitungan marketingnya.

    Tapi. Saat sidang kedelapan kemarin selesai. Dan terjadi perseteruan antara Kiai Ma’ruf sebagai wakil MUI dengan Ahok dan kuasa hukumnya, tiba-tiba Aa merespon melalui cuitannya. Aa menulis:

    Demi Alloh, tak rela KH Ma’ruf Amin, guru/orang tua/ulama kami, pimpinan MUI yg kami hormati cintai, direndahkan dan Diancam siapapun

    Tidak salah bersimpati kepada seseorang, apalagi orang tersebut adalah tokoh Islam. Tapi, kenapa baru sekarang Aa bersuara? Mengapa baru saat semua ini berkaitan dengan Ahok ada mengungkapkan empatinya yang mendalam?

    Pernah Rizieq menghina Gus Dur dengan mengatakan bahwa Gus Dur itu buta matanya juga buta mata hatinya. Beliau tokoh NU Aa. Sama seperti Kiai Ma’ruf. Malah, kalau kita bandingkan, kedudukan Gus Dur jauh lebih tinggi dibanding Kiai Ma’ruf, dari berbagai segi. Apa pernah Aa, minimal, menyampaikan keprihatinan secara langsung ke Gus Dur, jika pada waktu itu belum ada Twitter. Atau, Aa sampaikan ke Rizieq untuk memperhatikan akhlaknya dalam berbicara. Pernah A?

    Lalu, saat Kiai Said Aqil Siradj mengatakan bahwa Ahok tidak menistakan agama, beramai-ramailah orang membully beliau. Ada yang menyebut beliau liberal. Ada juga yang menyebut beliau penjilat. Berbagai kata-kata kotor dialamatkan ke beliau. Apakah saat seorang Kiai dan tokoh NU, seperti Kiai Said ini dihujat, dihina dan direndahkan, Aa bersuara untuk menyatakan simpati?

    Lalu, saat seorang karyawan BUMN menghina Gus Mus lewat akun Twitternya dengan mengatakan ke Gus Mus “Ndasmu!” Apakah saat itu juga, Aa mengeluarkan sebuah cuitan yang isinya pernyataan simpati kepada Gus Mus?

    Dan sebuah kejadian yang aneh bin ajaib, tiba-tiba saja, Aa menjadi simpati dengan Kiai NU. Memang, simpati itu tidak dosa. Tapi, bersikap tidak adil juga menjauhkan seseorang dari takwa. Betul begitu kan Aa?

    Saya lihat, akhir-akhir ini, Aa jarang terlihat di media. Mungkin, Aa lagi kehilangan momen untuk mendongkrak popularitas. Sehingga, akhirnya Aa memutuskan untuk masuk dalam pusaran “upaya membenturkan” Ahok dengan NU. Sebagai pakar ra(i)sa, saya merasakan niatan tidak baik Aa dengan cara memberikan simpati ke Kiai Ma’ruf sambil menyulut emosi umat, terutama warga Nahdliyyin.

    Ini sama seperti seorang cagub yang berjanji tidak akan menggusur sebuah pemukiman, tapi mereka tinggal di pinggir rel. Lalu, dengan kata-kata manis pemukiman akan diperindah. Niatnya bagus, tapi kalau caranya salah yang tetap saja menyesatkan.

    Saya doakan semoga ada stasiun tivi yang mau memakai jasa Aa lagi. Biar Aa bisa fokus dakwah, nggak usah terbawa arus fulitik. Meski, keduanya ada fulusnya.

    Ra(i)sa-ra(i)nya begitulah

    Muhammad Nurdin Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Banyak yang Mendadak Jadi NU, Salah Satunya Aa Gym Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top