728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 12 Februari 2017

    Baiat saat #Aksi112: Upaya Memaksa Tuhan Berpolitik di Pilkada DKI

    Pilkada DKI rasa Pilres memang membuat banyak orang, mendadak gila juga mendadak stres. Gimana ndak mau stres, Petahana sudah digempur lewat kasus dugaan penodaan agama, lalu digempur lagi dengan al-Maidah 51, lalu digempur lagi dengan stereotip “gubernur galak” atau “gubernur kasar” atau “mulut comberan”, tapi kesemuanya tidak juga menurunkan elektabilitasnya. Ia tetap menguat di antara yang lain.

    Bayangkan. SBY dan Prabowo sampai turun gunung untuk memperebutkan kursi pemimpin di Ibukota. Tentu, pertaruhan yang sudah mereka keluarkan tidak sembarangan. Perputaran uang di pusaran Pilkada DKI begitu deras. Banyak orang yang seperti ketiban durian runtuh. Banyak yang mendadak terkenal. Banyak juga yang mendadak stres. Terutama Timses Paslon 1 dan 3.

    Saking stresnya, sebab setiap upaya telah ditempuh tapi tak mampu menggoyahkan Petahana, akhirnya jalan terakhir yang penuh onak duri pun ditempuh. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Ini harus ditempuh karena Valentine sebentar lagi, dimana besoknya nyoblos. Apa cara yang ditempuh oleh Paslon 1 dan 3 yang tengah kehabisan amunisi ini? Yaitu, memaksa Tuhan ikut berpihak ke kubu mereka.

    Saya kira hanya twitter Tuhan bisa dilibatkan dalam urusan manusia, semisal “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini..bla..bla..bla.” Ternyata, ada yang lebih sadis lagi dari itu, Tuhan dipaksa untuk berpolitik di Pilkada DKI, dimana Dia dipaksa untuk berpihak kepada cagub yang muslim. Bagaimana jika yang menang Petahana yang kafir? Apakah mereka akan menghujat Tuhan karena “doa” mereka tidak diterima, padahal sudah dengan nada memelas sampai memaksa?

    Upaya untuk memaksa Tuhan berpihak kepada lawan Petahana dengan menjual al-Maidah 51 sudah dijalankan jauh sebelum hingar bingar penistaan agama. Malahan, itu sudah dilakukan dengan dibentuknya “gubernur tandingan”, yang seperti apa nasibnya sekarang entahlah. Tapi, kita jadi bertanya-tanya, dimana tanda-tanda keberpihakan Tuhan kepada mereka? Malah, Tuhan sepertinya sudah pindah alamat yang sebelumnya “dipaksa” beralamatkan Petamburan.

    Kita lihat sekarang. Bib Rizieq yang dulu lantang, gagah berani, dimana urat takutnya telah putus, kini kita lihat, ia seperti kodok yang sedang bersembunyi dalam tempurung. Dulu, sesalah-salahnya Rizieq, sekotor-kotornya ucapan Rizieq, ia tidak akan bergeming. Malah ia akan menghantam siapa saja yang berani memperkarakannya. Tentu, merupakan sebuah anomali jika Rizieq takut datang ke kantor polisi karena telah ditetapkan sebagai tersangka.

    Belum lagi orang-orang terdekat Rizieq yang mulai diciduk satu persatu oleh oleh polisi. Tentunya, kita bertanya-tanya, bagaimana bisa Tuhan lalai dalam berpihak kepada “imam besar umat islam Indonesia”? Bagaimana mungkin Tuhan gagal memperlihatkan kegagahannya demi Rizieq, yang dianggap wali oleh para pengikutnya? Tuhan YME, kok Engkau jadi begini. Sebenarnya Engkau berpihak kemana sih?

    Lalu, dimunculkan lah aksi 112 sebagai sebuah pertaruhan akhir di laga paling keras dari pesta demokrasi negeri setelah Pilpres, Pilkada DKI. Aksi 112 adalah upaya kotor yang mau tidak mau harus dimunculkan oleh mereka yang kontra Petahana. Dan paslon 1 dan 3 mau tidak mau, suka tidak suka, harus turut serta karena mereka sudah terdesak. Mereka tidak punya waktu lagi untuk memperbaiki elektabilitas mereka. Meski mereka tahu tidak boleh kampanye di masjid, tapi siapa yang mau marah? Toh Bawaslu DKI pun mandul dalam menindak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi selama ini.

    Upaya kotor dengan memaksa Tuhan berpihak kepada mereka untuk menjatuhkan Petahana adalah sebuah kedunguan atas nama agama. Bagaimana mungkin mereka bawa-bawa “baiat” hanya untuk memenangkan sebuah kontestasi duniawi yang penuh dengan kekotoran dan kebusukan ini. Politik itu jahat, ia dapat merubah seorang Anies menjadi bunglon yang dulu begini sekarang begitu. Juga dapat merubat Agus yang nihil pengalaman tapi dengan “pede”-nya ia yakin bisa memimpin Jakarta.

    Masa Tuhan dibawa-bawa untuk segala siasat licik seperti ini? Apalagi menggunakan ritus “baiat” sebagai sarananya. Ini benar-benar penistaan agama paling akbar dalam sejarah pesta demokrasi negeri ini. Nggak mempan dengan hanya menggemboskan al-Maidah 51, dijadikanlah “baiat” sebagai langkah lanjutannya. Orang-orang ini benar-benar fakir ilmu.

    Baiat itu sebuah prosesi suci dalam Islam. Baiat atau dikenal sebagai “janji setia” itu adalah hak prerogatif para Nabi Allah dan para Khalifah-Nya. Tidak sembarang orang dapat diambil janji baiat-nya. Apalagi untuk sekedar memenangkan Pilkada. Orang-orang ini benar-benar dungu. Memaksa Tuhan berpihak kepada mereka dengan jalan yang salah dan menyesatkan.

    Quran berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau (Nabi Muhammad SAW) sebenarnya mereka baiat kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka.”

    Saya hanya bisa prihatin melihat banyak orang yang menghalalkan segala cara agar Petahana tidak dapat memimpin Jakarta lagi. Sampai-sampai memaksa Tuhan pun agar mendukung mereka. Padahal, Paslon yang lain belum siap untuk bertanding. Visi misi nggak jelas. Nggak punya detail perencanaan. Hobi menggunakan data yang salah. Pandai muter-muter saat ditanya programnya. Hebat beretorika untuk menghindari kefakiran pengalamannya.

    Ini gambarannya seperti anak SD yang dipaksa masuk kuliah. Akhirnya, banyak upaya-upaya aneh bin ajaib pun ditempuh. Hanya demi memenangkan Pilkada.

    Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah

    Penulis :  Muhammad Nurdin  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Baiat saat #Aksi112: Upaya Memaksa Tuhan Berpolitik di Pilkada DKI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top