728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 26 Februari 2017

    Ayo, Berhenti Menjadi Warga Negara Indonesia Yang Manja!

    “Piye kabare? Isih penak jamanku tho?” sebuah frasa yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya “Bagaimana kabarnya sekarang? Masih enak jaman saya kan?”. Sebuah frasa yang sering kita temui di belakang truk dan sering hilir mudik di sosial media sebagai bentuk lontaran joke yang bersifat narsistik dan cenderung sarkasme.

    Kalau kita tarik kembali memori kita pada masa pemerintahan era Orde Baru memang semua terkesan tenang, aman, dan terkendali. Pemerintah benar-benar terlihat sangat kompeten dalam menjalankan tugasnya. Apalagi militer yang pada masa itu memiliki dwi-fungsi baik dalam bidang militer sekaligus politik. Semua terkesan aman, militer berjalan bersama politik, hmm, indahnya masa itu. Tidak pernah kita mendengar berita demo yang ricuh dan semua berita selalu berita baik yang disajikan. Intinya pada masa Orde Baru hal-hal indah dan nikmat selalu disajikan didepan mata.

    Namun ternyata kenikmatan tersebut hanyalah polesan untuk menutupi betapa bobroknya sistem pemerintahan Orde Baru. Birokrasi berbelit-belit yang dilakukan pada masa Orde Baru masih sedikit kita rasakan. Tapi masyarakat dimanjakan dengan menggelontorkan dana yang ternyata didapat dari hutang sana-sini. Nasionalisme yang digembar-gemborkan ternyata hanya berusaha menutupi kasus perusahaan tambang emas serakah yang justru malah merongrong mental nasionalisme itu sendiri.

    Kita tidak pernah tahu perkembangan dunia luar. Semua yang disajikan hanya berita dalam negeri yang telah dipoles sehingga terlihat menarik dan menawan. Media dan pers yang ingin mengangkat berita bertema koreksi masyarakat terhadap pemerintah langsung dibungkam. Transparansi tidak pernah kita alami pada masa Orde Baru, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dibalik layar pemerintahan. Di mata dunia memang kita terlihat seperti Macan Asia tapi alih-alih seperti macan saya malah merasa kita ini seperti kucing yang dipaksa dan dibuat terlihat seperti macan dan agar terlihat seperti macan kita menghamburkan sejumlah dana yang tidak perlu.

    Yang menyedihkan ada yang menanggapi bahwa memang masa Orde Baru lebih nikmat. Ini nikmat yang kita dustakan atau nikmat yang berdusta? Mental manja dan meminta-minta bahkan mental menuntut pada masyarakat kita sekarang, mau tidak mau dan terima tidak terima merupakan hasil dari bentukan Orde Baru yang memanjakan masyarakatnya. Ibarat orang tua yang tengah mengalami carut marut dalam keluarganya namun ingin tetap memanjakan anaknya yang merengek dengan membelikan barang yang sebenarnya tidak sanggup terbeli, akhirnya berhutanglah mereka kesana-sini, dengan dalih menyenangkan hati anak. Eh, anaknya juga sama, melakukan apapun asal bapak senang asal keinginan mereka terpenuhi.

    Penggelontoran dana, memberikan janji uang, bantuan langsung berupa tunai, dan lain sebagainya pada masa reformasi saat ini gemerlapnya sedikit menurun karena masyarakat yang normal akar pikirnya mulai sadar bahwa janji-janji yang menggunakan uangnya ujung-ujungnya hanya janji manis dan untuk memenuhi janji manis tersebut malah berakibat hutang sana sini. Janji manis berujung kecut itu namanya. Sekali berhutang maka biaya untuk menutupi hutang tidak akan pernah cukup. Hutang adalah sebuah lubang besar yang kita gali tapi tanah yang kita gali tidak akan pernah cukup untuk menutupnya kembali.

    Masyarakat yang manja hanya menuntut subsidi ini itu tanpa memperhatikan dana subsidi didapat dari mana. Subsidi yang kita nikmati ternyata berujung hutang yang tidak terselesaikan hingga beberapa masa pemerintahan. Sampai kapan kita sadar bahwa tidak ada yang benar-benar murah dan benar-benar gratis di dunia ini. Semua selalu ada biaya produksi. Tidak ada barang gratis, yang ada barang yang telah dibayar pihak lain dan kita hanya tinggal menggunakannya. Satu-satunya cara untuk menekan biaya adalah harus menekan biaya produksi terbih dahulu. Dengan teknologi pada masa itu sangat tidak masuk akal bila harga BBM sangat murah. Pasti sudah ada yang menanggung biaya produksi hingga akhirnya bisa dijalankan program subsidi dari pemerintah tersebut.

    Panjang bila harus mengupas satu per satu segala hal mengenai Orde Baru. Daripada orang tua yang hanya ingin memanjakan anaknya dengan mengandalkan uang dari keluarga lain saya lebih setuju dengan orang tua yang mendisiplinkan anaknya agar tidak malas dan manja agar kelak dapat berdiri pada kaki sendiri. Sudah saatnya kita harus menjadi negara yang mandiri tidak bergantung pada negara lain. Sebuah cita-cita mulia yang ingin diwujudkan oleh founding fathers kita.

    Tapi apa daya kalau masyarakat kita malah memilih kepala keluarga yang hanya memanjakan dengan janji manis dan malah ingin menyingkirkan kepala keluarga yang ingin mendisiplinkan anak-anaknya tanpa ada embel-embel dan janji.

    Jangan-jangan mereka pinginnya di adopsi keluarga lain yang kaya tapi beraninya cuma ancam-ancam arbitrase.

    Entahlah..

    Penulis : Reza Angga   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ayo, Berhenti Menjadi Warga Negara Indonesia Yang Manja! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top