728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 25 Februari 2017

    Arab Saudi Harus Memperlakukan Indonesia Sebagai Mitra Strategisnya

    Raja Kerajaan Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz, rencananya akan mengunjungi Indonesia pada tanggal 1-9 Maret 2017. Kunjungan ini merupakan kunjungan yang terlama dan fenomenal dalam sejarah kunjungan kepala negara sahabat ke Indonesia.  Sebagai suatu kunjungan resmi, kunjungan  ini memunculkan arti pentingnya bagi hubungan baik antar kedua negara.  Kunjungan resmi penguasa Arab Saudi ke Indonesia terjadi 47 tahun lalu, tepatnya pada Juni 1970, saat Raja Faisal bin Abdul Aziz bertahta.

    Raja Salman bin Abdul Aziz akan mengulang kunjungan tersebut. Bila tak ada halangan, kunjungan yang tergolong  fenomenal ini, Raja Salman akan didampingi 10 menteri, 25 pangeran, dan 1500 rombongan  termasuk para investor.  Dibalik hebohnya persiapan menjelang kedatangan Raja Salman dan banyaknya logistik khusus yang didatangkan dari negaranya, ada baiknya kita membaca makna kunjungan ini bagi Indonesia.

    Ada beberapa kondisi internasional yang dapat menjadi dasar pokok bahasan, terkait dengan kunjungan ini.  Konstelasi politik di Timur Tengah sedang berubah setelah Donald Trump resmi menjadi Presiden Amerika Serikat.  Politik Trump yang cenderung anti Islam dan dampaknya bagi Timur Tengah mungkin akan ikut dibahas. Israel, Suriah, Turki, dan ISIS tentunya sangat terkait dengan kepentingan politik Trump di Timur Tengah.  Sebagai negara non blok, pemerintah Indonesia mungkin tidak ingin ikut campur terlalu jauh soal Suriah.  Pemberontakan yang terjadi di Suriah sedikit banyak berdampak tidak langsung terhadap Indonesia. Demikian juga isu soal keterkaitan Arab Saudi dengan ISIS. Saat ini gerakan radikalisme di Indonesia terus menguat dan kian terorganisir sehingga dapat membahayakan kelangsungan NKRI. Dalam kesempatan ini, ada baiknya bila Presiden Jokowi mengajak Raja Salman saling bekerja sama guna mengatasi radikalisme dan terorisme di Indonesia.

    Arogansi Donald Trump terhadap Islam mungkin dapat ditekan dengan jalinan kerja sama negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim. Solidaritas itu hanya bisa berfungsi efektif bila ada pemimpin kuat sekaliber Soekarno.  Sejak tahun 70-an pengaruh Amerika Serikat tidak terbendung di Asia Tenggara dan Timur Tengah.  Bahkan beberapa negara di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, malah menjadi sekutu setia Amerika Serikat.  Membangkitkan kembali solidaritas muslim mungkin bukanlah cara yang efektif untuk menghadang arogansi Trump. Selagi Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar masih menjadi sekutu Amerika Serikat maka sebaiknya pemerintah Indonesia tetap menjaga jarak, agar tidak menjadi sekedar alat untuk kepentingan sesaat.

    Dikatakan kepentingan sesaat, karena saat ini kerajaan Arab Saudi dan para investornya yang umumnya keluarga istana itu sedang merasa tidak nyaman akibat perubahan politik di Amerika Serikat. Sejak Trump berkuasa, hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat jadi merenggang.  Penguasa Kerajaan Arab Saudi sedang marah kepada Amerika Serikat, karena Trump berusaha mengesahkan Undang-Undang tentang terorisme yang memberikan kesempatakan kepada keluarga korban serangan teroris 11 September untuk menuntut Kerajaan Arab Saudi yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa itu. Pihak kerajaan pun mengancam akan menarik seluruh dananya dari Amerika Serikat. Belum dapat diprediksi seberapa lama ketegangan kedua negara ini akan terjadi.  Bila keadaannya telah mereda, bisa jadi kedua negara ini akan saling bergandengan tangan kembali sebagai sekutu.

    Ada kepentingan politik, budaya, eknomi, pendidikan, dan kebudayaan yang perlu dibahas bersama guna meningkatkan hubungan baik kedua negara.  Pertemuan Raja Salman dan Presiden Jokowi memiliki agenda membahas kerjasama dalam bidang investasi infrastruktur, kebudayaan, kesehatan, pengembangan Islam dan wakaf terutama promosi Islam moderat lewat pertukaran dakwah, pelayanan udara terkait rute penerbangan, dan perjanjian penanggulangan kejahatan.

    Saat ini Indonesia sedang berupaya mendorong munculnya investasi besar-besaran, baik dari dalam maupun luar negeri, guna memacu laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia.  Dari sisi kepentingan perkembangan ekonomi Indonesia, kedatangan Raja Salman ke Indonesia adalah anugrah bagi bangsa Indonesia.  Salah satu agenda kunjungan ini diperkirakan membicarakan tentang rencana investasi senilai 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp. 200 triliun.

    Dari sisi investasi, Arab Saudi memiliki potensi yang sangat besar. Namun kebijakan ekonomi Saudi yang selalu terkait dengan politik dan kepentingan keluarga istana harus diperhitungkan dengan matang oleh pemerintah Indonesia. Raja-raja minyak itu tidak hanya menebar sorga dengan dollar yang dimilikinya, juga telah terbukti menebar neraka terorisme di Suriah dan beberapa negara lain di dunia. Soal ISIS, sebaiknya Presiden Jokowi menyatakan secara tegas sikapnya kepada Raja Salman. Menjalin hubungan yang kuat dan saling menguntungkan bagi Indonesia dan Arab Saudi maka perlu mengubah persepsi yang berkembang selama ini. Agar terjalin hubungan yang erat antar kedua negara, Kerajaan Arab Saudi harus memperlakukan Indonesia  sebagai mitra strategisnya, sebagaimana mereka merperlakukan Cina, India, Korea Selatan, dan Jepang.

    Penulis :  Beni Guntarman   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Arab Saudi Harus Memperlakukan Indonesia Sebagai Mitra Strategisnya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top