728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 23 Februari 2017

    Apakah Capres 2019 Hanya Jokowi dan Prabowo lagi?

    Pemilihan presiden 2019 masih dua tahun lagi. Ini adalah waktu yang relatif. Ia bisa dianggap masih lama, bisa juga sangat sebentar. Bagi orang yang sedang mencari dan memanfaatkan peluang, waktu dua tahun adalah waktu yang sangat cukup dan leluasa untuk menciptakan berbagai kemungkinan.

    Namun bagi para pelaku politik, masa dua tahun itu amat sebentar dan singkat. Karenanya kerja-kerja politik sudah mereka lakukan saat ini, bahkan lama sebelum ini pun. Selain menyiapkan strategi dan perencanaan, mereka juga melakukan manuver, sambil test water. Bahkan sejak Pileg dan Pilpres 2014 baru usai sekalipun, para politisi sebenarnya sudah melakukan kerja politik. Bisa dikatakan, bagi para politisi, setiap hari adalah kerja politik. Termasuk dalam persiapan Pilpres 2019.

    Sebelum masa kampanye Pilkada 2017 mulai, partai Gerindra telah menetapkan akan kembali mencalonkan Prabowo Subianto sebagai capres 2019. Penetapan yang mungkin dianggap prematur ini, jelas merupakan bagian dari strategi partai, baik untuk meningkatkan elektabilitas partai (karena bagaimana pun, Prabowo adalah vote getter paling utama Gerindra sampai saat ini), maupun untuk memelihara kemungkinan pencapresan Prabowo sendiri di sisa waktu yang ada.

    Sekalipun partai-partai lain belum melakukan hal yang sama, untuk Gerindra, penetapan itu perlu dilakukan, bahkan sangat strategis. Ini mengingat karena sebelumnya memang hanya Prabowo (selain Jokowi) yang menjadi capres 2014. Sehingga tak ayal lagi, sampai hari ini, Prabowo masih dianggap menjadi sosok yang paling kuat dan potensial untuk melawan Jokowi yang sangat besar kemungkinannya dicalonkan lagi.

    Para partai lain yang tidak memiliki figur kuat dan pantas, tentu tidak berani menetapkan capres mereka dari sekarang. Yang paling mungkin mereka lakukan hanya menetapkan dukungan kepada figur di luar partai, dan itu bagian dari strategi politik yang sangat penting bagi mereka juga. Inilah yang dilakukan Golkar. Jauh-jauh hari, tidak lama sejak Setya Novanto terpilih menjadi Ketum Golkar tahun 2016 yang lalu, Golkar telah menetapkan untuk mengusung Jokowi sebagai Capresnya pada tahun 2019.

    Langkah Golkar ini oleh sebagian kalangan dianggap mencuri langkah PDI-P, karena Jokowi adalah kader PDI-P. Sama dengan langkah Nasdem dulu, yang sudah mendahului partai-partai lain termasuk PDI-P, untuk menetapkan dukungan kepada Ahok jauh sebelum masa pendaftaran Cagub Jakarta dibuka.

    Apa yang dilakukan oleh Golkar dan Nasdem jelas merupakan bagian dari strategi politik penting dalam rangka menaikkan elektabilitas partai di mata masyarakat. Sambil melihat perkembangan politik mendatang, keputusan ini adalah pijakan dan modal dasar yang layak diperhitungkan pesaing. Bisa jadi, selain sebagai strategi menaikkan elektabilitas, penetapan capres ini juga dimaksudkan sebagai langkah untuk mengunci langkah partai-partai lain. Tinggal nanti bagaimana cara partai-partai lain keluar dari kuncian, dan bahkan membuat terobosan untuk melakukan penguncian balik.

    Ketika secara kasat mata partai-partai lain sepertinya belum bermanuver dalam isu capres, itu bukan berarti mereka tidak sedang melakukan kerja politik. Mereka semua pasti berstrategi. Namanya juga partai politik, ya pasti selalu berpikir dan bertindak politis, baik secara langsung maupun tidak. Yang membedakan (dalam kasus pencapresan) adalah bahwa di antara mereka ada yang akan menjadi partai penentu, atau hanya menjadi pemandu sorak bagi capres yang dimiliki partai lain, baik figur lama maupun baru.

    Ketika Gerindra sudah menetapkan Prabowo sebagai capresnya pada 2019, ada partai lain yang berkoalisi pada 2014 sudah mulai bersuara dan merespon. Katanya, partai ini bisa saja mendukung kembali Prabowo, bisa juga Jokowi, bisa juga figur lain yang saat ini belum terlihat.

    Adapun PDI-P, seperti halnya dalam kasus pencalonan cagub DKI yang lalu, cenderung “santai’, dan tidak terlihat terburu-buru membicarakan presidensi 2019. Mengapa? Sebab, sudah jelas, sekalipun belum ada penetapan darinya sama sekali, namun publik sudah mafhum siapa capres yang akan diusung oleh PDI-P. Siapa lagi kalau bukan Jokowi yang saat ini sedang bekerja keras membangun dan menyelesaikan banyak pekerjaan.

    Sehingga kerja politik yang dilakukan PDI-P saat ini adalah tentu saja mendukung dan membantu Presiden Jokowi menyukseskan kerja-kerja pemerintahan. Sebagai partai pengusung utama Jokowi, PDI-P tentu menjadikan kesuksesan Presiden sebagai investasi yang paling menentukan. Dan Golkar ingin turut memanfatkannya, untuk mendapatkan berkah politis.

    Lalu, dengan kondisi ini, apakah capres 2019 kelak hanya terdiri dari dua calon lagi, dengan orang yang sama dengan 2014? Jawabannya tergantung pada bahasan undang-undang Pilpres yang sekarang masih ditarik-ulur oleh para partai di DPR.

    Saat ini sejumlah partai sedang berjuang menghilangkan syarat ambang batas minimal pencalonan presiden. Mereka menginginkan NOL persen, sehingga semua partai peserta Pemilu bisa mengajukan calon. Jika upaya ini berhasil, maka sangat mungkin capres 2019 akan lebih banyak. Sekalipun tidak sebanyak jumlah partai, tapi sangat mungkin lebih dari dua pasang. Dan jika ini terjadi, maka jangan heran jika kelak figur-figur yang dicapreskan itu akan mengejutkan publik. Karena mereka bahkan bisa bukan seorang politisi atau tokoh yang berafiliasi dengan partai. Mereka bisa saja seorang pimpinan ormas, pengusaha, pemimpin gerakan, kalangan pendidikan atau buruh. Intinya bisa terjadi kejutan yang tidak terduga pada hari ini.

    Akan tetapi, jika upaya penghapusan ambang batas itu gagal, maka kemungkinan kontestasi Pilpres 2014 kembali terulang di 2019. Hanya ada dua calon lagi, dengan figur yang sama, yakni Jokowi dan Prabowo. Yang berbeda adalah cawapres masing-masing dipastikan berganti.

    Pertarungan final antara Ahok-Djarot vs Anies-Sandi di gelanggang Pilgub DKI 2017 ini oleh sebagian pengamat dinilai sebagai kelanjutan dari pertarungan Pilpres 2014 sekaligus pemanasan 2019. Apalagi Prabowo sudah menyatakan saat kampanye Anies-Sandi yang lalu (kurang lebih), “Jika kalian ingin Prabowo jadi capres 2019, menangkan Anies-Sandi di Pilgub Jakarta.”

    Ini jelas merupakan sinyal kuat pertarungan pilpres 2019. Dengan catatan, jika Anies-Sandi menang pilgub, elektabilitas Prabowo dipastikan turut menguat. Namun, jika Ahok yang menang, maka elektabilitas Prabowo ikut melemah. Dan ketika Prabowo melemah, maka para partai lain akan mulai melirik figur-figur lain yang baru dan fresh.

    Bila ini yang terjadi, maka capresnya bisa jadi lebih dari dua calon. Mungkin tiga calon. Yang pertama jelas Jokowi. Yang kedua bisa Prabowo atau yang lain (dalam skenario ini, Prabowo menjadi belum pasti akan tercalonkan). Dan yang ketiga adalah figur lainnya lagi yang sama sekali baru.

    Mari kita lihat setahun lagi, akankah Jokowi kembali ditantang Prabowo, ataukah ada figur fresh lain yang tiba-tiba sangat diperhitungkan secara mengejutkan.

    Bagaimana menurut Anda….?

    Penulis :  Mahya Lengka  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Apakah Capres 2019 Hanya Jokowi dan Prabowo lagi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top