728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 25 Februari 2017

    Anies Seorang Pendidik Namun Suka Su’udzon, Mencibir, Merasa Paling Tahu

    Dahulu saya termasuk pengagum Anies Baswedan. Namanya begitu populer setelah menjadi rektor termuda serta penggagas program Indonesia mengajar. Kepopulerannya semakin memuncak ketika beliau menjadi menteri pendidikan. Profil beliau semakin dipuja sebagai seorang pakar pendidikan. Didukung dengan pribadi yang santun, retorika yang memukau, serta tutur kata yang halus membuat mahasiswa pendidikan termasuk saya sangat mengidolakan sosoknya. Anies bisa dikatakan sebagai pendidik yang sukses.

    Saya sempat bertanya-tanya mengapa Anies tiba-tiba diberhentikan dari menteri pendidikan. Ada apa sebenarnya? Menurut kabar yang beredar konon diberhentikannya Anies karena tidak mampu membuat kemajuan yang berarti di kementerian pendidikan. Kemudian juga muncul kabar ditemukan pemborosan hingga 23 trilyun untuk tunjangan profesi guru yang dituding sebagai alasan diberhentikannya Anies.

    Kekaguman saya semakin luntur setelah mengetahui dia menjadi calon gubernur DKI Jakarta di Pilkada 2017. Dia bukan politikus, namun kemudian masuk ke dunia politik secara instan. Nalar saya mengatakan bahwa orang seperti itu memiliki ambisi yang rakus. Kalau setelah diberhentikan dari menteri pendidikan kemudian menjadi rektor saya pikir ini wajar karena masih satu bidang. Saya melihat Anies menjadi sosok yang sangat bernafsu terhadap kekuasaan. Apa ini bentuk kekesalan karena diberhentikan dari menteri pendidikan?

    Kekaguman saya kepada Anies akhirnya hilang tanpa bekas setelah mengikuti perkembangan perjalanan Pilkada DKI ini. Saya pikir Anies akan tetap santun dan tidak menjelek-jelekkan paslon lain, namun ternyata tak ada bedanya dengan politikus lain. Sama sekali tak terlihat bahwa Anies adalah seorang pendidik. Pembaca seword.com tentu ingat bagaimana saat debat dirinya sering mencibir dan menjelek-jelekkan Ahok sebagai gubernur sah saat ini.

    Kembali ke judul bahwa Anies yang katanya pendidik namun suka su’udzon (berburuk sangka), mencibir, dan merasa paling tahu. Saya tampilkan bukti bahwa Anies memang tak seperti pendidik yang selama ini saya bayangkan.

    Poin pertama su’udzon. Anies enggan berkomentar banyak mengenai kebijakan calon petahana harus cuti jika mengikuti putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017.

    Menurut dia, setiap pasangan calon yang bertarung dalam pilkada wajib menaati peraturan yang berlaku. Ia meminta agar kontestasi ini dilakukan secara adil.

    “Saya percaya itu akan masuk dalam pertimbangan. Kalau bisa adil pada diri sendiri, Insya  Allah bisa adil pada rakyat. Kalau sama diri sendiri enggak bisa adil, pada rakyat juga sulit,” ujar Anies di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (24/2/2017).

    Anies menambahkan, warga Jakarta saat ini sudah cerdas. Mereka bisa melihat mana pasangan yang adil dalam mengikuti proses Pilkada DKI 2017 ini. Ia menilai, jika ada kebijakan Pemprov DKI yang pro rakyat jelang masa pencoblosan, maka itu patut dicurigai.

    “Kalau rakyat Jakarta menyaksikan program-program bansos bertebaran pada saat kampanye begini, pencairan-pencairan pada saat jelang pemilihan, masyarakat juga berpikir sampai segitunya, cuma menghadapi saya dan Sandi yang enggak punya jabatan,” kata Anies. (

    http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/24/22372241/anies.sampai.segitunya.untuk.hadapi.anies-sandi.yang.enggak.punya.jabatan

    Perhatikan kalimat Anies. Belum apa-apa dia sudah berburuk sangka bahwa jika ada kebijakan Pemprov DKI yang pro rakyat jelang masa pencoblosan patut dicurigai. Pertanyaannya, apa selama ini kebijakan-kebijakan Pemprov DKI tidak pro rakyat? Saya kira tidak perlu dijelaskan lagi karena kita telah mengetahui bersama bahwa Ahok telah memanusiakan manusia dengan memindah tempat hidup masyarakat pinggiran sungai ke tempat yang lebih nyaman dan pro rakyat.

    Apa menjelang pilkada Pemprov DKI harus membuat kebijakan yang tidak pro rakyat sehingga tidak memancing Anies untuk berburuk sangka? Yang ada nanti malah dicibir jika kebijakannya tidak pro rakyat. Ahok mau pro rakyat atau tidak sudah pasti dinilai salah oleh Anies.

    Poin kedua adalah suka mencibir.

    Anies menyindir Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Ahok. Ia menilai Pemprov mau mengambil kebijakan penggusuran meski itu menyalahi aturan. Ia mencontohkan masalah penggusuran di Bukit Duri.

    “Jangan untuk gusur enggak lihat peraturan, kalah di PTUN, tapi untuk membangun rumah rakyat lihat aturan dan bilang enggak bisa. Lho kok mendadak terobosan-terobosan itu menjadi tumpul ya, ketika membicarakan DP untuk rakyat banyak,” ucap dia.

    Oleh karena itu, Anies mengaku jika dirinya terpilih menjadi gubernur akan menawarkan rumah dengan harga terjangkau bagi warga. Program itu ia namai rumah tanpa DP.



    “Kami akan mencari cara dan alhamdulillah sudah ada caranya. Nanti, kita akan buat aturanya, nanti levelnya mungkin pergub atau perda supaya bisa dieksekusi,” kata Anies.

    http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/24/22085881/anies.gusur.enggak.lihat.aturan.buat.rumah.warga.lihat.peraturan

    Selalu persoalan gusur menggusur yang dijadikan alat untuk mencibir Ahok. Anies merasa tindakan gusur sangat tidak mausiawi. Dia berbicara seperti itu seolah pernah mengalami penggusuran, kan aneh karena dia sendiri tak pernah digusur. Hehe

    Berkali-kali Ahok sudah menjelaskan secara detail dan terperinci tentang penggusuran tersebut. Ahok sudah menjelaskan panjang lebar bla bla bla yang pada intinya ini demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat pinggiran sungai. Banyak juga masyarakat pinggiran sungai yang belum digusur malah meminta untuk secepatnya digusur oleh Ahok.

    Poin ketiga, merasa paling tahu. Anies menyatakan banyak warga di Jakarta yang mendambakan memiliki rumah yang harganya terjangkau. Oleh karena itu, sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ahok seharusnya mencari solusi mengenai hal tersebut.

    “Sebagai gubernur seharusnya mencari solusi, bukan hanya mengatakan itu enggak bisa,” ujar Anies di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (24/2/2017).

    Anies menjelaskan, seharusnya sebagai pemimpin harus berpihak kepada warganya. Jika sudah berpihak, seorang pemimpin pasti bisa mengatasi masalah yang terjadi pada warganya.

    “Sandang, pangan dan papan itu hak paling dasar, kok boleh kita mikirin sandang, pangan, tapi papannya ‘udahlah nyewa aja kalian’. Tega gitu lho bilang nyewa aja,” ucap dia.

    Ia pun menyindir kepada gubernur yang memiliki sifat seperti itu. Menurut dia, seharusnya sebagai seorang pemimpin mencari solusi untuk warganya, bukan malah mencibir orang yang mempunyai solusi mengenai permasalahan itu.

    “Jangan panik kalau lawan ada terobosan, tawarkan yang lebih baik. Masa cuma ngebully bisanya, tawarin dong yang lebih baik,” kata Anies

    Hebat. Anies seperti seorang gubernur yang sudah berpengalaman. Dia merasa lebih tahu dibanding Ahok yang sudah jelas-jelas merasakan jadi gubernur. Menurut saya sikap ini kurang etis mengingat jangankan menjadi gubernur, menjadi bupati saja dia juga belum pernah. Kok tiba-tiba merasa paling tahu dan mengajari gubernur? Anies seperti komentator bola yang tidak bisa main bola namun mengomentari pemain bola. Apa mungkin Anies hanya memang bisa berkomentar?



    Mungkin seperti itu….

    Penulis : Saefudin Achmad  Penulis : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies Seorang Pendidik Namun Suka Su’udzon, Mencibir, Merasa Paling Tahu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top