728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 20 Februari 2017

    Anies dan Perpecahan IndONEsi

    Pancasila kita sedang didorong menuju jurang tanpa dasar. Dorongan itu dilakukan oleh gerombolan sektarianisme. Orang-orang berusaha untuk menahan, tapi dorongan sektarianisme semakin kuat. Kita tidak tahu apakah IndONEsia akan tetap bisa bertahan dengan Pancasila atau justru dibumi-hanguskan oleh ego sektarian yang cupet.

    Ego sektarian ini semakin melancip saja kalau diperhatikan. Jika dahulu digaungkan atas nama agama, dan memojokkan orang lain yang beda agama dengan serangan-serangan verbal, kini mengerucut pada sekelompok kecil jamaah fanatikiyah sektarianiyah yang memasrahkan diri kepada seorang “intelektual” dengan hasrat berkuasanya yang ya amploooooppp deh.

    (“Intelektual”nyah tanda kutip ya seworders)

    Jika ego sektarian ini semakin berhembus kuat, maka ancaman atas keutuhan NKRI dengan Pancasila sebagai landasannya, akan goyah. Barangkali bisa juga robek. Rekening toleransi yang selama ini diisi oleh pundi-pundi masyarakat Indonesia akan dedel-duel dan morat-marit.

    Dadine ngene to ndes, orang-orang reaksioner dan anti-dialog yang mengumpulkan ummat dengan alasan isu agama, adalah tantangan berat dan ujian yang harus dihadapi oleh negeri ini, saat ini dan kedepannya.
    Salah jika tim BaDja sudah melewati neraka isu agama. Justru sebaliknya, gerakan bawah tanah lebih radikal baru dimulai karena pertarungan hanya tinggal dua paslon. Penciptaan opini oposisi biner antara muslim dan non muslim justru akan digodog dan dimatangkan untuk mendulang suara oleh gerombolan sektarian ini.
    Jika ego sektarian ini dibiarkan dan diberi spasi oleh penguasa, maka bisa jadi esok-esok akan nglunjak. Sebab, kelompok sektarian ini memiliki sifat “memaksakan kehendak tanpa ada dialog sehingga akan mudah menjatuhkan vonis penilaian atau hukuman sesuai dengan pemahaman dengkulnya, tanpa mau tahu pemahaman kelompok lain.”

    Ironisnya, karena negeri kita adalah negeri yang terkenal beragama, justru agama inilah yang dijadikan sebagai bahan kendaraannya para pithecanthropus politikus yang masih berpikir sektarian purbakala. Gawatnya, panasnya isu juga ada di Jakarta, miniversi-nya Indonesia. Jadi Jakarta saat ini itu, bisa saja dijadikan barometer untuk mengukur sejauh mana demokrasi Pancasila ini mendapatkan tantangan dari ego sektarian keagamaan.

    Terusane ndes, njur kebertuhanan kita memang patut dipertanyakan. Kita ini bertuhan untuk menebar kedamaian atau bertuhan untuk menyebar kebencian? Persoalannya kan hanya karena berbeda cara menyembahnya (agama)? Kemanusiaan kita telah dirancang agar adil dan beradab! Itu karena leluhur kita dulu sadar bahwa ada hukum yang diciptakan yang itu membuat kita semua setara.

    Mari kita eling dengan segala darah yang telah ditumpahkan oleh nenek moyang kita di masa lalu. Mau Kristen atau Islam atau agama dan keyakinan apapun, dengan semangat “merdeka atau mati”, mereka memiliki andil demi berkibarnya Sang Saka Merah Putih di puncak tertinggi negeri ini. Karena itu Pancasila menempatkan kemanusiaan pada tempatnya setara dengan kemanusiaan lainnya.

    Kalau orang Jawa bilang, sisi kamanungsan kita yang memang ditakdirkan untuk hidup secara berkelompok, maka harus ada upaya harmonisasi lingkungan. Itulah mengapa, persatuan IndONEsia selanjutnya dibuat sebagai tahapan setelah kamanungsan yang adil dan beradab.

    Dadine dab, saat kita bisa berpikir kamanungsan yang adil dan beradab, maka persatuan itu akan mudah diraih.

    Maka, sejak ledakan GNPF MUI yang dipelopori oleh FPI dan pentolannya yang kini sedang terlunta-lunta karena rentetan kasusnya itu, kita mulai merasakan bahwa sebenarnya ada api dalam sekam. Persatuan IndONEsia kita terancam. Toh pada kenyataannya FPI bukan bela Islam, tapi ujung-ujungnya menempelkan jidat ke kepentingan politik kan? Agama Islam dijadikan kendaraan.

    Sungguh kasihan mereka yang datang dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang nggruduk Jakarta sampai jumlahnya TUJUH JUTA orang saat itu, kini harus menyaksikan penggembosan dan aksi dahulu itu cuma piranti atau alat untuk menekan pemerintah demi kepentingan politik.

    Ironisnya lagi, orang yang didukung adalah “intelektual” (tanda kutipnya jangan lupa) yang konon menggagas pengajaran ke pelosok-pelosok tapi kini bersimpuh dihadapan kelompok sektarian. Apa ini yang dimaksud oleh pemikir Prancis Julian Benda, yang mengatakan “Pengkhianatan kaum inteletual?”

    Jejak-jejak “pengabdian” yang digelorakan rupanya hanya sebagai cara menaikkan nama dan kekuatan tawar (bargaining power). Alhasil, menyurukkan kepala ke ketiak para pemimpin politik dilakukan untuk mengemis remah-remah kekuasaan. Di sinilah sisi kedina-hina-an “intelektual” karena akan menutup mata pada konsep demokrasi Pancasila, dengan rela didukung oleh orang yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM atas hilangnya para aktivis 98.

    Loncatan dan manuver politik dilakukan. Ini karena telah memiliki modal menggerakkan para sarjana untuk mengajar ke pelosok, sehingga jadi modal awal pembentukan citra yang baik. Karena citra ini pula, loncatan kepada penguasa dan menjadi jurkamnya, setidaknya diperhitungkan dan diangkat jadi menteri.

    Itu belum lagi dengan gerak menikung di konvensi sebuah partai yang kini sedang dilanda badai. Kini, seorang yang dahulu dikenal memiliki pemahaman sejarah yang cukup baik, dan gagasan menggerakkan yang cukup mengesankan, merelakan diri didukung oleh sosok tangguh yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM.

    Ya, mau bagaimana lagi…. Orang sudah diselimuti ambisi berkuasa, ngemis sana-sini sama elit politik ya dilakukan. Kalau para elit politik ngedukung, ya Alhamdulillah. Jadi nafsu hasrat ambisi yang membuncah, akan mendapatkan tempat kenyamanan bokong di sebuah kursi. Cari muka dulu dengan gerakan filantropis-inovatif baru kemudian loncat deh ke kancah politik. Biar juga didukung gerombolan sektarian yang menyulut perpecahan persatuan bangsa: “emang gue pikirin, nyang penting kan gue dapat berkuasa.”


    Penulis : Slamet Wicaksono  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies dan Perpecahan IndONEsi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top