728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 16 Februari 2017

    AHY Kalah Telak, SBY Nelangsa, Gelar Negarawan Dipastikan Melayang

    Satu Jakarta, bahkan satu Indonesia sudah tahu hasil quick count Pilkada DKI Jakarta 2017. Pencoblosan yang dilakukan tanggal 15 februari 2017 yang lalu menempatkan Ahok-Djarot di podium satu. Sedangkan Anis-Sandi berada di urutan kedua. Dan Agus-Sylvia di urutan ketiga. Perolehan angka masing-masing calon gubernur, pembaca tentu sudah tahu. Jadi silahkan lihat kembali di media massa baik online maupun cetak. Saya fokus ke Agus saja.

    Untuk Agus sendiri, hasilnya angkanya beragam. Tapi ada dikisaran 16, 17, 18, 19 %, tergantung masing-masing lembaga survei. Saya menggunakan data dari KPU DKI Jakarta. Hasilnya pun tidak jauh berbeda dengan hasil hitung cepat dari berbagai lembaga survei, yang menempatkan Agus-Sylvia ada di urutan buncit dengan hasil perolehan suara hanya 16,32% (Hasil Hitung TPS (Form C1) Provinsi Dki Jakarta).

    Angka yang menarik bukan? Hasil survei Agus-Sylvie sebelum pencoblosan sempat naik dan mengungguli Ahok-Djarot. Tetapi angka kenyataan Agus memprihatinkan. Bahkan sangat memprihatikan. Agus harus puas dengan nilai 16,31% dan menempati urutan ke-tiga dalam dalam urutan hasil pencoblosan. Angka perolehan suara yang tidak sampai 20%.

    Seperti yang sudah diprediksi, Agus memang tidak akan bicara banyak di gelaran pilkada DKI 2017 ini. Banyak pengamat yang meyakini bahwa Agus adalah blunder sang ayah. Bagaimana tidak blunder, Agus masih sangat bau kencur untuk terjun ke politik. Tanpa persiapan apa-apa. Dan dengan pangkat kemiliteran yang juga belum seberapa. “Agus masih sangat muda, tak punya pengalaman politik apa pun, dan tak juga punya pengalaman militer yang cukup tinggi diajukan jadi cagub DKI Jakarta,” kata Ikrar saat dihubungiKompas.com, Jumat (23/9/2016).

    Ikrar membandingkan dengan Gubernur DKI terdahulu yang juga berasal dari militer, mulai dari Ali Sadikin, Tjokro Panolo, hinggaSutiyoso. Semuanya menjadi Gubernur DKI dengan modal pangkat letnan jenderal.

    “Buat saya ngaco saja sih. Dia mau jadi panutan, panutan apa anak masih ingusan gitu. Apa warga Jakarta memercayai pengelolaan Jakarta dengan seorang yang masih berpangkat mayor?” ucap Ikrar.”

    Dalam debat sebenarnya sudah terlihat. Agus sangat tidak menguasi masalah-masalah di Jakarta. Apa yang ditawarkan Agus kepada warga Jakarta adalah seperti seorang ayah yang menawarkan hp samsung S7 kepada anak usia satu tahun. Pantaslah ia tak pernah bersedia ketika diundang debat oleh stasiun tv nasional. Walau sebenarnya ia bisa belajar bagaimana cara menyampaikan gagasan secara maksimal dengan waktu yang terbatas. Istilah sekolahnya try out. Strategi yang kelirukan (?)

    Well, urutan ketiga sebenarnya bukanlah urutan yang buruk. Kalau di sekolah, urutan ketiga itu masih sangat membanggakan. Apalagi kalau siswanya pintar-pintar. Juara tiga tentu sangat istimewa. Dan masih bisa dibanggakan di hadapan teman-teman yang berada di luar urutan sepuluh besar. Ayah ibu dan adik juga tentu akan bangga. Juara tiga, men!

    Haha…tapi sayang, ini pemilu, bukan sekolahan. Dalam pemilu juara tiga berarti “pensiun” kampanye alias leyeh-leyeh di rumah, kalau kata orang jawa. Itulah kenyataannya, gus. Kamu tereliminasi dari pertarungan. Titik. Kasian kamu dipermainkan bapakmu.

    Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY tentu nelangsa. Bahkan mungkin merasa sangat prihatin terhadap nasib anak kesayangan. Semoga SBY tidak merasa bersalah yang berlebihan terhadap kekalahan dan karier sang anak. Karena bahaya kalau sampai SBY merasa bersalah yang berlebihan. Apalagi kalau merasa bersalah yang sangat mendalam itu disertai dengan penyesalan karena telah menyeret sang anak ke pusaran nafsu berkuasanya, kalau tidak diolah dengan baik, SBY bisa saja mengakhiri hidupnya dengan minum equil sampai mabuk berat sehingga berjalan sempoyongan dan tertabrak becak.

    Tetapi saya yakin bahwa SBY pasti bisa melewati badai cobaan ini dengan tabah. Apalagi ia sudah punya alasan yang bisa dijadikan kambing hitam atas kekalahan sang anak. Yap, alasan itu adalah Antasari. Karena sehari sebelum pencoblosan Antasari perang “urat saraf” dengan SBY dengan menyebut SBY sebagai otak yang mengkriminal dirinya. Dan kubu SBY mensinyalir apa yang dilakukan oleh Antasari sebagai “sabotase” suara Agus di pertarungan pilkada DKI Jakarta 2017. Jadi biasalah, alasan yang bisa dipakai untuk “legowo” dan membenarkan diri dari kekalahan yang memalukan sekaligus memprihatikan.

    Terbukti bahwa uang milyaran tidak bisa membeli kebenaran dan doa khusuk tidak bisa merayu Tuhan untuk berpihak pada kita. Tanya kenapa? Karena niat sudah tidak baik. Bukan niat Agus tentu saja. Tapi niat sang ayah. Dan Tuhan sudah tahu itu sejak semula. Jadi jangan main-main dengan kebenaran. Sebaliknya kini kita akan menyaksikan keruntuhan yang seruntuh-runtuhnya kerajaan cikeas. Tidak lama lagi kerajaan cikeas itu akan sama nasibnya menjadi seperti candi Hambalang. Menjadi rumah hantu.

    Satu ketragisan yang akan menimpa SBY. Gelar negarawan bisa dipastikan tidak akan disebut pada sosoknya. SBY tidak akan pernah jadi negarawan Indonesia. Kalau nanti SBY tetap disebut negarawan, hampir bisa dipastikan bahwa yang menyebutkan SBY negarawan adalah pangeran cikeas dan rakyatnya.

    Dalam KBBI Online, Negarawan (n) diartikan: Ahli dalam kenegaraan; ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksana dan kewibawaan.



    SBY tidak ahli dalam kenegaraan dan ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan). Terbukti dari 10 tahun Indonesia jalan di tempat. Papua tetap terbelakang. Tidak ada pembangunan berarti di Papua selama 10 tahun pemerintahannya. Perekonomian Indonesia juga gitu-gitu aja. Lalu apa yang bisa diklaim SBY sebagai keberhasilan memimpin Indonesia selama 10 tahun? Proyek mangkrak? Piara orang miskin dengan BLT? atau menjamurnya korupsi dalam partainya sendiri?

    “pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan.” Jelas SBY tidak punya pandangan ke depan. Apa yang SBY lakukan semuanya program jangka pendek. BLT contohnya. Sampai kapan BLT ini berjalan? Yang pasti sampai masa jabatannya selesai sebagai presiden karena dia sudah tidak perlu pencitraan lagi sebagai pemimpin yang peduli pada wong cilik. Mega korupsi Hambalang adalah ketidakbecusannya “mengurus” partai. Ditambah lagi dengna sekian banyak proyek mangkrak yang nilainya triliuanan, yang uangnya bisa dipakai untuk membangun tol trans Kalimantan yang menghubungkan seluruh Kalimantan.

    Dan yang terbaru tentu saja, cuitan SBY di twiternya. Cuitan yang kita semua tahu bahwa cuitan itu adalah bentuk nyinyirannya pada optimisme Jokowi membangun Indonesia. Cuitan yang sangat bernada pesimis. Bahwa seolah-oleh direzimnyalah Indonesia berjaya. Padahal tidak. Kalau di 10 tahun SBY Indonesia berjaya tentu presiden Jokowi kini tidak perlu bekerja sedemikian keras memperbaiki Indonesia.

    Yang walau sebenarnya kinerja SBY selama 10 tahun bisa “ditutupi” jika ia membantu pemerintah dengan sikap optimisnya. Atau minimal tidak berisik ketika orang lain sedang bekerja keras. Apalagi sampai memanfaatkan situasi untuk kepentingan dan ambisi politiknya. Tapi itulah SBY. Ia sudah memilih jalanya.

    Cuitan-cuitan SBY adalah cerminan ketidakdewasaan dalam diri seorang SBY. Hal yang tidak pernah ada pada mantan-mantan presiden Indonesia sebelumnya. Bahkan juga mantan presiden dunia. Saat ini setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden Amerika, Obama menghabiskan masa pensiunnya dengan berasik ria mencoba olah raga air. Sedangkan SBY sedang asik sendiri dengan ego dan nafsunya, seolah negara ini masih ia perintah.

    Sikap baper, lebay, dan merasa terzolimi yang ia tunjukan lewat cuitannya bukanlah sikap sang negarawan apalagi sikap seorang mantan jendral. Sikap SBY adalah sikap seorang yang kalah. Bukan kalah berkompetisi dengan orang lain. Atau kalah pada negara. Tetapi ia kalah terhadap dirinya sendiri, terhadap nafsu berkuasanya. Dan SBY tak layang menyandang gelar Negarawan. Itulah SBY. Anomali dari mantan presiden yang ada, sang negarawan sejati.



    Begitulah Kuda

    Penulis : Yulian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: AHY Kalah Telak, SBY Nelangsa, Gelar Negarawan Dipastikan Melayang Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top