728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 16 Februari 2017

    Ahok Yang tidak Pernah Ditinggal Pendukung

    Kemarin saya konstisten menonton Pilkada, dengan aksi Quick Count dari sejumlah lembaga survey. Dalam hasil survey mereka menempat hasil yang mengejutkan dan sudah dapat diprediksi. Pertama Bagimana Pilkada jauh prediksi. Sosok Ahmad Dhani hanya menempati posisi kedua. Padahal keyakinan Ahmad Dhani sangat kuat menempati posisi Wakil Bupati Bekasi. Walaupun hasil Quick Count bukanlah hasil pemilu yang sesungguhnya namun mampu memanaskan serta mendiginkan situasi.

    Bahkan, kamu dapat melihat situasi yang klimaks dari seorang Agus Harmurti Yudhoyono yang mengabarkan kekalahanya dengan Ikhlas dan Besar Hati. Padahal semuanya ditentukan oleh KPU apakah ada putaran kedua atau siapakah pemenangnya. Sejumlah jajak pendapat membuat Agus Harmurti Yudhoyono membuat mengambil sikap yang bisa sangat realitis.

    Kedua, banyaknya hasil pemilu sampai ke TPS pun yang harusnya menjadi lumbung suara menjadi antiklimaks. TPS6 dimana Agus dan keluarga mencoblos, pada TPS inilah Agus kalah. menjadi klimaks ketika TPS tempat Ahok dan Anies menjadi pemenang saat perhitungan. Agus menjadi pembeda, ia harus menerima menjadi satu-satunya peserta yang kalah ditingkat TPS. Padahal menjadi aneh ketika seorang calon tidak bisa menang dilingkungannya.

    Hal yang sama terjadi pada Djarot, ditempatnya mencoblos ia tidak mendapat suara yang dapat memenangkan suara di TPS. Situasi yang lebih panas terjadi di TPS 17 di Petamburan  dan TPS 32 di Cililitan, pada perhitungan suara yang terjadi suara,Ahok menang. Padahal pada TPS 17, Habib Rizieq Syihab mencoblos di TPS itu. Sedangkan pada TPS 32 di Cillitan, Ahok menyapu bersih pemilik suara.
    Habib Rizieq bisa saja menyatakan kemenangan Ahok, karena ketakutan warga kebijakan gusur yang membuat suara Ahok menguat. Habib Rizieq bisa saja menyatakan pendapatnya sebagai tokoh masyarakat, menyatakan ini sebagai fakta saya rasa mengelikan.

    Yang sama Ahok dan Totti

    Pendukung Ahok melebarkan senyum sukacita atas kemenangan calon pasangan yang didukungnya dalam pencalonan. Kemampuan Ahok dalam tiga debat yang harusnya 5 mampu medominasi pertarungan. Tidak usah kita berdebat apa indikatornya, Ahok memang menang. Bahkan dia menangkan hati seseorang sebelum orang mengatakan untuk memilihnya.

    Kasus Ahok tidak lebihnya seorang Totti, hanya saja Totti adalah pemain yang terlampau setia. Dia juga dicap bodoh ketika tawaran Real Madrid menyerang tahun 2004 dan 2010. Ketika Adrian Mutu yang mantan pecandu juga memiliki peringai yang bengal mengatakan “Saya jauh lebih hebat dari pada Totti.” Dia dianggap pembual bagi  orang Italia terkhusus Roma.

    Sangking simbolisnya Totti dia mampu menujukan bahwa calon walikota kota Roma sudah mesti “mampir”. Bahkan ketika dukungan terselubung Totti pada lawan politik Silivio Berlusconi diketahui Silivio Berlusconi. Bos Milan itu berang dan menyindir dan merendahkannya, ungkapan itu membuat partai nasionalis Italia berang. Petinggi Partai membela habis-habisan Totti dengan loyalitas terhadap negara dan klub.

     Bahkan pada lain waktu dia mendapatkan perlakuan buruk. Lemparan miniature bangunan mencederai kepalanya. Ahok juga sama saja, dia menjadi tokoh yang setia pada dia yakini. Mengambil jalanan yang sedekatnya dengan rakyat dan menekankan gaya politik pada kekuataan berkomunikasi dengan setara.

    Saat ditanyai atau membuka pembukaan program pemerintahan, Ahok bisa saja langsung berbicara dengan lugasnya dengan bahasa teknik. Semisalnya saat berbicara KJP ia begitu langsung bicara bagimana seseorang apa dan mekanisme program dan menganggapnya semuanya akan tahu dengan cara seperti itu. Ia amat yakin dengan apa yakini, bahkan cendrung pongah.

    Siapa yang tidak pernah pongah, seseorang bisa begitu pongah dimata oranglain padahal ia tidak pernah merasanya. Keyakinnya dirinya dengan pendapatnya dan percaya dirinya menghadapi macam-macam orang. Ia bisa mendapatkan kepercayaan pada rakyat, bahkan kekuataan Ahok hampir dengan tokoh pergerakan yang sudah pernah menjadi republik.

    ***

    Ketika para orang-orang pribumi terdidik merasa gerah dengan situasi yang begitu buruk baik secara ekonomi maupun secara politik. Ada saja cara mereka dalam melakukan perlawanan bahkan dukungan rakyat yang dipandang kaum buta huruf makin besar kepada mereka.

    Soekarno dari sejak mengikuti gaya piadato seorang HOS Tjokroaminoto, ia sampai pada haruslah dia yang menjadi mengambil peranan besar. Sosok Soekarno yang banyak ide serta dekat dengan rakyat lewat orasi politik mampu mendapatkan dukungan rakyat dari kaum petani desa, pemuada gerakan politik, hingga tokoh politik. Kekuasaan bertahan dari merdeka sampai 20 tahun kemudian.

    Bahkan jika ditarik, sulit ditemui siapa yang dapat menandingi sosok Soekarno dibelahan dunia manapun. Bukan hanya sebagai Presiden, Politikus abad 20, Soekarno mampu membutikan dia adalah yang tidak terlupakan dari perpolitikan dunia. Kemampuannya mampu mebuat dunia barat memperebutkan mereka.

    ***

    Ahok dan Totti menempati kekuataan yang sama, untuk mencapai popularitasnya sendiri. Ahok yang percaya pada tangan rakyat akan menyokongnya harus juga berbelok masuk dalam perpolitikan partai meski tidak melalui mekanisme pada umumnya. Sedangkan Totti membuktikan loyalitas  bahkan lebih berharga dari pundi-pundi uang.

    Ahok mencoba mraih dukungan dengan menjual kembali baju kotak-kotak sebagai citra pilkada. Totti membiarkan diri “hanya” sebagai simbol Roma. Rakyat Italia tidak akan melupakan bagimana permainan ya pada Piala Dunia 2006 sebagai “orang pasca operasi”.  Dia menjadi salah satu pahlawan.

    Permainannya sejak 1990-an membuatnya membuat Roma dianggap sebagai salah satu klub terhormat. Sedang sumbangsih terhadap sepak bola terhadap 4-6-0 menjadikan dia salahsatu pembuka fenomena permainan menyerang sepertiga lapangan. Sistem yang dianggap paling modern saat ini.


    Akhir dari Klimaks Ahok

    Disadari kamu atau tidak Ahok akan tetap ditunggu pedukung, bertambah pendukung Ahok akan menjadi hal tidak mustahil. Mereka para simpatisan bergerak pada sisi yang kuat. Media Sosial. Ketika pembenci mengambil hal-hal yang menjadi diri Ahok seperti pribadi yang keras, mudah marah, dan terlalu pongah.

    Mereka tidak pernah menjadikan pikiran Ahok menjadi alasan mereka menolak Ahok.  Mereka lebih suka berbicara bahwa banyak yang menangis terahap pengusuran atau lag-lagi menyerang pribadi. Tidak ada yang mengatakan bahwa program Ahok salah dan mesti diganti.

    Hal ini menjadi kekuataan dari seseorang Ahok dan pendukungnya yang kelewat kratif. Dibuatnya gerakan yang memancing mobilitas sambil sesekali menunjukan bahwa Ahok memang sudah tepat. Klimaks kita akan melihat Ahok apakah kembali terpillih atau kalah dengan jutaan pendukung yang akan selalu mendukungnya.

    Disaat dunia yang sudah kelewat modern ini, mungkin hanya kesalahaan fatal Ahok yang mampu membunuh citra politiknya. Walaupun saya ragu.


    Penulis :  Joseph Sebastian Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Yang tidak Pernah Ditinggal Pendukung Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top