728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 22 Februari 2017

    Ahok, Sejarah dan Kejayaan Indonesia

    Akhir-akhir ini saya baru mulai mengerti, kalau Indonesia ingin sejajar dengan negara maju, maka pemerintahnya haruslah baik. Karena suka tidak suka, peran pemerintah dalam kehidupan berbangsa sangatlah besar. Terbukti dari korelasi penyerapan APBN dan pertumbuhan ekonomi masih sangat terkait, yang artinya Pemerintah adalah motor pengerak utama perekonomian tanah air. Belum lagi kalau kita bicara perizinan, hukum, serta berbagai kebijakan dan regulasi yang dipegang oleh penguasa.

    Kemunculan Jokowi Ahok di 2012, membuat saya mulai tertarik mengamati perpolitikan di Tanah Air. Khususnya Ahok. Kenapa Ahok? Karena cuma Ahok saja pejabat yang upload semua rapat penting Beliau ke Youtube, sehingga bisa saya bisa ‘tongkrongin’ kegiatan Beliau sebagai hiburan sehari-hari. Ya, hiburan dan pengetahuan juga. Karena setiap obrolan, pidato, bahkan kemarahan Pak Ahok itu selalu mendidik dan tidak pernah bosan untuk ditonton. Sehingga semenjak masih Wagub, saya sudah sangat salut. Karena bukan hanya jargon dan branding saja, BTP itu. Tetapi transparan tersebut benar-benar dia terapkan.

    Lalu mari kita telisik sejarah apa yang kita bisa petik dari negara lain yang sekarang sudah tergolong negara maju, berapa lamakah waktu yang mereka butuhkan from zero to hero? Yuk kita lihat Singapura. Negara tetangga yang tergolong sangat maju, dengan torehanya meraih posisi ke empat peringkat GDP per Capita di Dunia. Hampir 7.5 kali GDP per Capita Indonesia. Taukah anda kalau Singapura itu baru merdeka 20 Tahun setelah Indonesia merdeka yaitu di tahun 1965? Untuk sebuah negara yang sangat mungil tanpa sumber daya alam, buat saya itu luar biasa. Tangan dingin Lee Kuan Yew emang harus diacungi jempol.

    Sampai sini mungkin banyak yang berpendapat, kan Singapura negara kecil, penduduknya aja hanya beberapa juta, jadi gampang di urusnya. Oke, kalau begitu saya punya contoh lain yang cukup spektakuler. Mari kita lihat Jerman. Pada perang dunia pertama, yang berakhir 1918, Jerman adalah negara dengan status kalah perang. Anda bayangkan 4 tahun berperang pasti menghabiskan semua sumber daya mereka, dan saat Jerman kalah, otomatis mereka jadi ‘bancakan’ negara-negara yang memenangi perang dunia 1 tersebut. Pasti kondisinya jelek sekali untuk negara dengan populasi masyarakatnya saat itu saja antara 60-70 juta jiwa.

    Tapi apa yang kita bisa lihat kemudian? Mereka tidak menyerah dan meratapi kesialannya. Mereka bangkit, dan meraih kembali kejayaan ekonomi mereka, dibawah sang Fuhrer, Adolf Hitler. yang tahun 1938, menjadi Man of The Year versi majalah Times. Saya tidak ingin berdebat mengenai Hitler sebagai penjahat perang, dan lain-lain. Karena sejarah itu ditulis oleh pemenang perang dan penguasa, dan bukan itu juga poin yang saya ingin jelaskan di sini.

    Intinya adalah hanya butuh waktu 20 tahun untuk negara sebesar Jerman, untuk bangkit dari kehancuran dan kekalahan perang di 1918, sampai bisa berjaya kembali. Kejayaan yang cukup membuat mereka percaya diri, untuk menguasai Eropa. Walaupun pada akhirnya mereka kalah kembali, dan menjadi ‘bancakan’ kembali negara pemenang perang. Bahkan sampai Jerman dibelah dua untuk Sekutu dan USSR.

    Setelah berakhirnya Perang Dunia ke 2, ada sejarah yang perlu kita perhatikan juga. Bagaimana negara yang kalah perang, yaitu Jerman dan Jepang, bisa kembali bangkit dalam waktu yang tidak lama. Jerman Barat kala itu, kembali berbenah, dan Jepang di tahun 60-an sampai 70-an, menjadi ekonomi terbesar ke-2 di dunia. Sebuah kekuatan ekonomi baru dari negara kepulauan yang tidak punya banyak sumber daya alam, dan hobby di’kerjain’ Tuhan, dengan gempa dan tsunaminya.

    Untuk contoh lain yang lebih modern, mari kita tengok China. Negara ini baru terbuka dan melakukan reformasi di tahun 1982. Sebelumnya rezim diktator Mao, dan kearoganannya membuat China jadi negara miskin dan kelaparan. Sekarang? China menjelma menjadi raksasa saingan Amerika. Butuh berapa tahunkah mereka? Anda bisa hitung sendiri.

    Kembali ke Indonesia. Sebuah negara kepulauan yang dilintasi jalur perdagangan dunia. Zamrut Khatulistiwa. Berlimpah sumber dayanya, beragam suku bangsa dan bahasanya. Jika kita melihat apa yang sudah sejarah ajarkan pada kita hari ini. Tidak ada alasan untuk kita pesimis untuk menuju kesejajaran kita dengan bangsa besar lain di dunia. Kita memiliki segalanya. Sumber daya, letak geografis yang menguntungkan, orang-orang terbaik di bidangnya, dan pondasi kebangsaan yang sudah terbukti dan teruji. Dan untuk mencapai itu, tidak butuh waktu yang lama. Hanya satu generasi. Seperti yang negara-negara yang telah saya sebutkan sebelumnya.

    Tetapi itu semua harus dimulai dari pemerintahan yang kuat, bersih dan visioner. karena kembali lagi, untuk Indonesia peran pemerintah dalam roda jalannya kehidupan berbangsa masih sangat dominan. Karena kalau melihat sejarah,peran pemimpin membawa bangsanya sangatlah dominan (contoh : Lee Kuan Yew dan Adolf Hitler). Dan harapan pemerintahan seperti ini, benar-benar saya pribadi titipkan pada Jokowi-Ahok sebagai panglimanya.

    Kenapa Jokowi dan Ahok? Jokowi aja cukup kali.. iya kan? Dengan tegas saya katakan tidak cukup. Mereka harus ditandemkan untuk meraih hasil yang maksimal. Jokowi sebagai kepala negara memang sudah memimpin dan menanamkan visi dengan sangat baik sampai hari ini. Tetapi sistem pemerintahan Indonesia semenjak reformasi, yang mengharuskan otonomi daerah, menyebabkan Presiden tidak berkuasa seutuhnya atas Indonesia. Banyak ‘raja-raja’ kecil di daerah yang akhirnya sulit dikontrol oleh orang nomor satu di Republik ini.

    Peran Ahok disini cukup sentral. Karena kalau mau jujur. Ahok adalah salah satu pemimpin daerah terbaik di Indonesia. Dan yang beliau persiapkan adalah suatu sistem kelola daerah. Sebuah sistem yang jika sudah matang, bisa langsung dijadikan Perpres, bahkan Undang-Undang, Untuk mengikat ‘raja-raja’ kecil tersebut supaya tidak macam-macam.

    Di Ibu Kota ini kita sudah melihat reformasi yang sangat banyak. Dimulai dari birokrasi dinilai dengan KPI (Key Performance Indicator) dan perampingan yang signifikan (dari 9000 jabatan sekarang tinggal 4000-an), reformasi perijinan dengan PTSP-nya, Bagaimana tata kelola keuangan daerah (yang non cash transaction), bagaimana keterlibatan warga dalam mengawasi birokratnya (lapor CLUE saja), e-budgeting dan segudang sistem lainnya, yang memastikan 17.000 PNS di DKI ini bisa bekerja dengan maksimal. Silahkan dibayangkan jika sistem yang baik ini, pada waktunya nanti terimplimentasi di seluruh pelosok Nusantara. Saya pastikan ‘raja-raja’ kecil akan bertransformasi menjadi ‘pelayan-pelayan’ besar.

    Karena itu jujur saja, menurut saya kemenangan Ahok di Jakarta di putaran ke 2 nanti, adalah satu langkah lagi menuju kesejajaran Indonesia dengan negara maju lainnya. Dan ini sangat penting, dan jika hal ini dilewatkan, bisa-bisa Indonesia benar-benar kehilangan kesempatannya untuk naik kelas. Karena ada dua hal juga yang perlu kita lihat dari sejarah negara-negara tadi.

    Yang pertama adalah bonus demografi. Jika kita perhatikan Jepang dan China. Booming ekonomi mereka terjadi ketika mereka mendapatkan bonus demografi, yaitu sebuah kondisi dimana angkatan kerja usia produktif mereka memiliki komposisi terbanyak. Usia 30-50 tahun. Karena saat angkatan kerja dominan, dan tanggungan mereka sedikit ( anak-anak dan orang tua ), maka produktifitas dan tabungan mereka menjadi sangat banyak.

    Dan ketika masa itu telah berlalu, pertumbuhan ekonomi merekapun akhirnya stagnan. Lihat saja Jepang setelah tahun 80an. sebentar lagi Cina menyusul, karena mereka pernah memiliki kebijakan one child policy di masa lalu. Nah Indoneisa kapan? Indonesia akan mengalami itu pada 2025-2035. hanya 8 tahun dari sekarang. Jika menyongsong tahun tersebut SDM dan infrastruktur serta lapangan pekerjaan kita tidak siap, maka silahkan dibayangkan jutaan pengangguran di usia produktif akan seperti apa.

    Yang kedua yang perlu kita perhatikan adalah semua contoh negara yang saya jabarkan tersebut, memiliki Nasionalisme yang sangat tinggi. Jerman tidak perlu dipertanyakan. Jepang saking tingginya sampai sangat sedikit imigran yang datang ke Jepang. China juga tinggi, akibat propaganda puluhan tahun partai komunis di sana. Bagaimana dengan Indonesia?

    Jujur kita masih belum selesai dengan ini. Kesukuan masih kuat dan diskriminasi terus terjadi. Keagamaan masih penting banget ditulis di kolom KTP, Kebanggaan kita akan produk dalam negri dipertanyakan, dan sebutan Asing, Aseng, Onta sering sekali kita konsumsi sehari-hari. Tetapi jika seorang etnis minoritas Tionghoa yang katanya Kafir bisa dipercaya masyarakat untuk memimpin Ibukota, karena kinerjanya, bukan karena latar belakangnya, maka artinya Nasionalisme yang diikat oleh Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu, sudah semakin jelas terlihat. Dan kebanggaan kita sebagai satu Indonesia akan membawa bangsa ini sejajar dengan bangsa bangsa besar lainnya di dunia.

    Begitulah Kura-Kura

    Penulis :  Victor Wijaya   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok, Sejarah dan Kejayaan Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top