728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 21 Februari 2017

    Ahok Pahit Karena Obat, Anies Manis Karena Gula

    Minum obat yang manjur itu selalu pahit. Lihat saja obat yang berbentuk tablet atau kapsul. Coba gigit sampai hancur lalu rasakan rasanya. Panadol saja sudah pahit banget. Kalau obat yang manis itu masih untuk anak-anak. Hal ini sama untuk masalah di Jakarta.

    Masalah banjir merupakan penyakit berat, sudah menahun. Bahkan banjir sudah bisa dikategorikan sebagai kanker karena sudah menjalar dimana-mana. Menyelesaikan banjir harus dari sumbernya, yaitu air. Tapi tentu saja tidak masuk akal untuk mengurang jumlah hujan yang jatuh ke Jakarta, pawang hujan bukan pengendali air. Yang paling masuk akal adalah mengatur jalan aliran air hujan ke laut.

    Nah, inilah yang dilakukan secara intensif oleh Ahok. Para warga direlokasi ke rusun. Namun Anies tidak mau kalah, beliau mencanagkan progam DP nol persen…, eh DP nol rupiah…., ups DP ditanggung pemda. Masalah DP ini masih bisa diedit, toh sudah diedit 2 kali. Dari sini bisa dilihat mana yang solusi, mana yang hanya janji.

    Relokasi Merupakan Obat Mujarab Yang Pahit

    Apa fungsi sungai? Sudah jelas sungai fungsi utamanya adalah untuk mengalirkan air ke laut. Selain iotu bisa juga dipakai sebagai sarana transportasi bila ukuran sungai cukup besar untuk kapal. Sungai tidak memiliki fungsi sebagai tempat tinggal. Tapi warga Jakarta dengan kemampuan dan ke’pintar’an mereka mampu mengubah pinggiran sungai menjadi tempat tinggal.

    Hasilnya? Lebar sungai menyempit, sampah bertumpukan di sungai-sungai dan pada akhirnya terjadi banjir. Suka-tidak suka warga yang tinggal di pinggiran sungai berpengaruh besar pada kejadian banjir di Jakarta. Alasan tidak punya tempat tinggal tidak bisa dibenarkan. Karena anda tidak memiliki sesuatu tidak bisa menjadi pembenaran untuk mengambil yang bukan hak anda.

    Ahok tidak pernah berjanji tidak akan menggusur dan bahkan saat kampanye pun selalu jujur bahwa daerah itu memang perlu direlokasi. Gila bukan? Saat kampanye malah mengatakan akan menggusur. Saat Cagub lain menebar janji surga agar terpilih, Ahok malah memberikan kenyataan yang pahit. Ahok tidak takut elektabilitasnya akan menurun.

    Memang benar kalau ingin menuntaskan masalah di Jakarta harus memakai solusi yang pahit. Ahok sampai sekarang tidak memberikan janji-janji surga seperti uang ganti rugi, yang diberikan Ahok adalah solusi dari sebuah masalah. Banjir tidak akan hilang sendiri tanpa tindakan dari pemerintah. Bila pemerintahannya serius dan tidak mengkhayal dalam membuat kebijakan maka niscaya masalah akan terselesaikan.

    Janji Manis Anies

    Tutur kata yang keluar dari mulut Anies terkesan santun. Bagi rakyat kecil yang tidak terlalu mengerti masalah pasti terbuai akan kemanisan kata-kata Anies. Namun bagi yang menguasai masalah tersebut, mereka banyak menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam kata-kata Anies.

    Anies yang sering memakai data yang salah dalam debat pun pernah mengusulkan progam DP nol persen. Sekilas progam ini terasa manis, tapi ternyata pahit diujungnya. Selain tidak masuk akal dan sangat beresiko, progam ini bertentangan dengan peraturan. Anies membuat progam tanpa melihat apakah progam tersebut menabrak peraturan yang ada. Persis seperti Anies yang menyerang Ahok menggunakan data entah dari mana. Serang dulu, kebenaran dibelakang.

    Setelah publik mengetahui bahwa janji Anies menabrak peraturan, Anies mengganti progamnya menjadi DP nol rupiah. Ini sangat aneh, bukankah Anies mantan menteri pendidikan? Bukankah Anies merupakan orang terpelajar? Apa bedanya DP nol persen dengan DP nol rupiah? Yang satu pakai % dan yang satu pakai Rp. jadi mereka berdua sudah dianggap berbeda?

    Setelah blunder konyol ini Anies kembali meralatnya menjadi DP ditanggung Pemda. Ini masih banyak masalahnya. Dana untuk DP itu dari mana? Uang tidak jatuh dari langit. Biaya rumah di Jakarta cukup mahal, membayar DP untuk rumah sudah pasti akan bernilai  sangat besar. Janji manis itu memang gampang, realisasinya yang menjadi masalah.

    Melihat janji-janji yang dibuat Anies dapat disimpulkan bahwa Anies ini berjanji dulu, berpikirnya kemudian. Janji DP saja perlu diralat berkali-kali, apalagi janji yang lain. Anies saja pernah menelan ludah sendiri, dari menyerang Prabowo menjadi pendukung Prabowo.

    Sekarang warga Jakarta dihadapkan pada dua pilihan. Obat yang pahit atau gula yang manis. Yang satu akan menyembuhkan penyakit dan yang satu lagi akan memberikan rasa manis di lidah. Kira-kira mana ya yang diperlukan oleh Jakarta? (20/02/2017)


    Penulis : Evan Kurniawan  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Pahit Karena Obat, Anies Manis Karena Gula Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top