728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 01 Februari 2017

    Ahok Minta Maaf, Setelah Ini Apa Lagi yang Dipakai?

    Kontroversi dalam proses persidangan kasus penodaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengenai sikapnya beserta tim kuasa hukum terhadap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin yang datang sebagai saksi diharapkan segera berakhir. Akibat salah paham atas niat melaporkan ke polisi, sekelompok pihak yang anti Ahok berhasil membuat situasi media sosial sedikit memanas sejak kemarin malam.

    Berbagai tokoh dari ahli hukum, tokoh agama Islam, hingga Wakil Ketua DPR pun ikut mengomentari permasalahan ini dan tidak sedikit dari mereka yang justru terkesan memanas-manasi situasi batin umat muslim di Indonesia, terutama NU dimana Ma’ruf Amin juga adalah sesepuh dan dihormati. Api yang dikhawatirkan akan cepat membesar dan tidak dapat dikendalikan ini sepertinya juga dirasakan oleh tim sukses dan tim penasehat hukum Ahok. Pagi hari ini mereka sudah memberikan pernyataan bahwa tidak ada niat Ahok untuk melaporkan Ma’ruf dan sore hari ini tersebar surat permintaan maaf dari Ahok kepada Ma’ruf Amin apabila terkesan memojokkan beliau.

    Ini isi surat permohonan maaf Ahok yang dilansir disini.
      
    Klarifikasi dan Permohonan Maaf Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kepada KH Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU
     Bahwa saya ingin menegaskan bahwa apa yang terjadi kemarin merupakan proses yang ada dalam persidangan, saya sebagai terdakwa sedang mencari kebenaran untuk kasus saya. Untuk itu saya ingin menyampaikan klarifikasi beberapa hal di bawah ini:

    1. Saya memastikan bahwa saya tidak akan melaporkan KH Ma’ruf Amin ke polisi, kalau pun ada saksi yang dilaporkan mereka adalah saksi pelapor, sedangkan Kyai Ma’ruf bukan saksi pelapor, beliau seperti saksi dari KPUD yang tidak mungkin dilaporkan.

    2. Saya meminta maaf kepada KH Ma’ruf Amin apabila terkesan memojokkan beliau, meskipun beliau dihadirkan kemarin oleh Jaksa sebagai Ketua Umum MUI, saya mengakui beliau juga sesepuh NU. Dan saya menghormati beliau sebagai sesepuh NU, seperti halnya tokoh-tokoh lain di NU, Gus Dur, Gus Mus, tokoh-tokoh yang saya hormati dan panuti.

    3. Terkait informasi telepon Bapak SBY ke Kiai Ma’ruf tanggal 7 Oktober adalah urusan Penasihat Hukum saya. Saya hanya disodorkan berita liputan6.com tanggal 7 Oktober, bahwa ada informasi telepon SBY ke Kiai Ma’ruf, selanjutnya terkait soal ini saya serahkan kepada Penasihat Hukum saya. 
    Demikian Klarifikasi saya sampaikan, saya berharap klarifikasi ini dapat menjernihkan persoalan dan saya juga berharap agar pihak -pihak lainnya tidak memperkeruh suasana. 

    Jakarta 1 Februari 2017

    Basuki Tjahaja Purnama 


    Setelah Ahok Minta Maaf

    Ini sudah yang kedua kalinya kubu kontra Ahok, termasuk pendukung pasangan calon sebelah, menggunakan sentimen agama untuk menurunkan elektabilitas Ahok di DKI Jakarta yang 85% rakyatnya beragama Islam ini. FPI sepertinya sudah tidak dapat mereka manfaatkan lagi, lalu sekarang mencoba memprovokasi NU, lalu selanjutnya entah apa lagi yang akan dipakai. Apakah Muhammadiyah?

    Isu apapun yang akan mereka pakai setelah ini, rasanya memang sulit jika tidak mengaitkan dengan sentimen agama, karena Ahok bersih dari korupsi, berintegritas dan program kerjanya baik. Tidak seperti calon mereka sendiri yang beberapa hari ini bolak balik Bareskrim Polri untuk pemeriksaan polisi atas dugaan korupsi.

    Entah apakah sudah ada telepon dari si dia atau belum ya kemarin malam atau pagi hari ini. Kalau tidak ada, mungkin si dia sedang kehabisan pulsa atau takut didengar oleh orang lain. Kalau sudah ada, kita harus merasa bersyukur karena Pak Ma’ruf Amin tidak terburu-buru kali ini. Terima kasih Tuhan.

    Yang ada di bayangan saya tadi pagi, jangan sampai Ma’ruf Amin melaksanakan konferensi pers dan menyatakan sangat tersinggung atas perlakukan Ahok dan tim kuasa hukumnya di persidangan kemarin. Karena kalau tidak bisa-bisa kemungkinan terburuk bisa terjadi, yang tentunya tidak kita inginkan bersama. Kalau sudah sampai ke tahap itu, bisa-bisa tidak ada yang dapat menolong Ahok di negeri ini.

    Mengalah Bukan Berarti Kalah

    Semoga saja setelah ini permasalahan kesaksian Ma’ruf Amin kemarin tidak lagi dipermasalahkan oleh siapapun, karena tim penasehat hukum hanya melakukan pekerjaannya sebagai pembela terdakwa, terdakwa menggunakan haknya untuk mempertanyakan, dan saksi juga menggunakan haknya untuk membantah.

    Arah pembelaan terdakwa yang ingin mengaitkan masalah politik ke dalam masalah ini sangat wajar, karena kasus ini bergulir di tengah situasi politik Pilkada DKI 2017 dimana terdakwa ikut serta. Meragukan kesaksian saksi yang terindikasi ada kemungkinan tidak objektif adalah suatu hal yang sangat biasa dalam proses hukum. Jadi memang dalam kacamata hukum persidangan kemarin tidak ada yang salah, tidak mungkin rasanya bagi mereka dapat menuntut proses hukum terhadap Ahok atau kuasa hukumnya.

    Tapi pada akhirnya ya tentu kita hormati budaya Indonesia yang katanya santun dan agamis, jadi kita juga dapat mengerti jika ada yang tersinggung. Melihat perkembangan situasi yang memanas sejak kemarin malam, marilah kita memberikan apresiasi atas kerendahan hati seorang Ahok untuk memberikan pernyataan maaf ini. Meskipun konteksnya adalah di persidangan dan semua saksi seharusnya berstatus sama di hadapan hukum, Ahok telah menunjukkan sikap dewasa dengan meminta maaf atas ‘kesan’ yang ditangkap oleh sebagian warga negeri ini memojokkan atau mengancam ulama mereka.

    Meminta maaf berarti hati seorang Ahok lebih besar dari egonya, berarti ia adalah seorang negarawan yang lebih mementingkan keutuhan bangsa. Meskipun mungkin setelah ini akan muncul berita ataupun tulisan di media online atau media sosial yang berjudul ‘Ahok ketakutan, bla bla bla….’ atau ‘Ahok pencitraan bla bla bla…’, ini adalah konsekuensi yang harus ditanggungnya beserta para pendukungnya karena mau tidak mau harus diakui ucapan telah dikeluarkan dan api sudah menyala.

    Pagi ini saja belum apa-apa sudah ada ungkapan ketersinggungan dan himbauan untuk minta maaf dari kalangan GP Ansor (disini dan disini), luar biasa cepat api ini membakar amarah hati mereka, padahal pihak Ahok saja belum klarifikasi apa-apa. Mungkin hati mereka terbuat dari kayu kali ya, ataukah karena ada bensin?

    Biarkan kerendahan hati kita menjadi air yang memadamkan amarah orang lain, maka harapannya orang yang menyimpan amarah itu pun akan merasakan kemuliaan jiwa yang dimiliki oleh pihak yang meminta maaf. Tidak apa-apa untuk menanggung sindiran atau cemoohan dari mereka yang memiliki kepentingan politik lainnya, asalkan warga biasa yang berhati netral akan dapat merasakan keindahan pribadi seorang Ahok dan juga sekaligus tambah mencintai agama mereka yang pemaaf.

    Mengalah bukan berarti kalah. Mundur satu langkah untuk maju tiga langkah bukanlah suatu strategi yang buruk dalam hidup ini. Dengan menutup satu pintu konflik bersentimen agama yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang berhati busuk, harapannya akan terbuka tiga pintu baru yang merupakan jalur menuju kebebasan hukum ataupun kemenangan Pilkada dari seorang Ahok. Menyelesaikan konflik dengan kesaksian MUI, maka Ahok dapat fokus dalam pembelaan selanjutnya karena persidangannya masih panjang dan kesaksian Ma’ruf Amin yang merugikannya bukanlah akhir dari segalanya.

    Penutup

    Untung saja Ahok dan tim suksesnya hari ini bergerak cepat. Untung saja mereka tidak ketinggalan kereta kali ini. Semoga saja pihak-pihak provokator tersebut insaf dan diberikan pencerahan oleh Tuhan, karena sungguh berdosa jika mempermainkan perasaan masyarakat hanya demi ambisi politik mereka.
    Dari sebatang pohon yang ingin berdiri kokoh dan tegar di tengah badai dan topan………

     Oleh : Power Aryanto Famili Sumber : Seword .com

    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Minta Maaf, Setelah Ini Apa Lagi yang Dipakai? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top