728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 25 Februari 2017

    Ahok Memang Menakutkan, Balai Kota Tidak Pernah Sepi Terima Aduan

    Namanya terdiri dari 4 huruf, A H O K, dan bisa dipastikan masyarakat Indonesia akrab dengan nama alias ini. Bagaimana tidak, Ahok memang sangat fenomenal. Tidak lengkap rasanya jika pemberitaan dan perbincangan tidak membahas Ahok, bahkan hanya untuk satu hari saja. Fenomenalnya Ahok ini tentu menuai banyak respon dari masyarakat.

    Menyandang jabatan Gubernur DKI Jakarta dengan status minoritas ganda, terdakwa kasus penodaan agama, sekaligus kontestan Pilgub DKI, membuat respon terhadap Ahok jelas sangat beragam. Ada yang pro-kontra, suka-tidak suka, sayang-benci, bangga-iri, dan lainnya. Ah, tentu itu bukti Ahok banyak yang memperhatikan, baik itu dari sudut harapan ataupun cacian.

    Secara pribadi, belakangan ini saya ingin sekali muntah melihat dagelan golongan otak pendek yang ingin Ahok dinonaktifkan dari status Gubernur nya sekarang. Untuk realisasi penonaktifan Ahok, golongan otak pendek menggulirkan hak angket di DPR, DPRD memboikot rapat dengan SKPD DKI, menyebarkan hoax dan nyinyiran di mana-mana tentang Ahok maupun pendukungnya, hingga melakukan demo berjilid-jilid yang mulai surut semangatnya. Tapi untung saja Mendagri sudah siap pasang badan terhadap keputusannya mengaktifkan kembali Ahok.

    Ahok memang menakutkan bagi golongan otak pendek

    Keinginan golongan otak pendek itu pasti didasari atas Pilkada dan ketakutannya terhadap Ahok. Sudah jelas, Ahok memang musuh utama bagi golongan otak pendek yang hanya ingin memperkaya dompet diri dan sanak famili, tanpa memperdulikan kesejahteraan rakyat. Keteguhan sikap bersih, transparan, dan profesional (BTP) Ahok kepada rakyat Jakarta membuat golongan otak pendek jadi takut dan panik jika ingin main siram-siraman duit haram berjamaah. Dalam artian yang lebih sederhana, Ahok dinilai menakutkan bagi golongan otak pendek, bukan bagi rakyat Jakarta. Kenapa?

    Alasannya sederhana tapi mengena dan membuka mata, yakni lihat saja semangat dan antuasisnya warga DKI yang ingin menemui Ahok di Balai Kota.

    Setelah cuti kampanye berbulan-bulan, Ahok kembali aktif menjadi Gubernur mulai pekan lalu. Pengaktifan di tengah perdebatan status hukum Ahok itu tentu mengkhawatirkan dan menyulut emosi bagi golongan otak pendek, tapi justru sebaliknya, menyenangkan bagi rakyat Jakarta yang masih waras.

    Ahok membuat Balai Kota tidak sepi terima aduan
    Sebelum Ahok aktif kembali, PLT Gubernur dipegang oleh Sumarsono. Dan, waw, antusias aduan warga Jakarta di Balai Kota saat Sumarsono menjabat berbeda dibandingkan ketika Ahok aktif lagi. Balai Kota lebih ramai didatangi warga saat Ahok menjabat Gubernur kembali.

    Ketika Ahok balik ke Balai Kota, masyarakat sangat antusias mengadukan masalahnya secara langsung ke Gubernur nya. Setiap pagi hari di Balai Kota, selalu ada pemandangan dimana banyak masyarakat yang ingin tatap muka dengan Ahok untuk meminta masalahnya diselesaikan dan foto bersama. Tidak tanggung-tanggung, warga pun rela antri panjang demi bertemu Ahok.

    Antusiasme ini pertanda Ahok tidak menakutkan bagi warga Jakarta, meskipun isu dan fitnah terus-terusan menghujam nama baiknya. Pun Ahok sukses memantulkan ke atas lagi elektabilitasnya dari sejak terjun bebas akibat kasus yang menyeretnya. Bukti pula, Ahok lanjut ke Pilkada putaran kedua dengan suara sekitar 43% dan Balai Kota tidak pernah sepi peminat dari unek-unek warganya.

    Bagi golongan otak pendek, ramainya warga di Balai Kota dan kemenangan Ahok di putaran pertama membuat mereka makin panas. Ternyata, Ahok tetap dicintai warganya meski ditusuk di sana-sini. Saya ingin mengasihani dan menertawakan golongan otak pendek, serta mengingatkan bahwa usaha mereka untuk menjatuhkan Ahok belum ampuh dan menuju kesia-sian. Malah sebaliknya, saya rasa Ahok semakin kuat tahan banting gara-gara mereka.

    Ahok adalah seorang pelayan sejati

    “Saya mulai mengajak SKPD, anak-anak muda yang mau belajar, apalagi yang mau kuliah supaya mulai ikut. Jadi mereka bisa belajar cara kerja seperti apa ngelayanin masyarakat,” kata Ahok.

    Aktivitas terima aduan-beri tindakan yang dilakukan oleh Ahok beserta jajarannya di Balai Kota membuktikan, Pemprov di bawah arahan Ahok sangatlah berjiwa pelayan. Ahok tidak ingin jajarannya bertindak malas-malasan dalam memberikan pelayanan. Budaya melayani duntuk aduan langsung masyarakatnya ini tengah dimantapkan oleh Ahok kepada jajarannya, yang sejauh ini sudah berjalan ke arah kebaikan dan kebiasaan.

    “Nanti lama-lama budaya melayani orang itu, empati itu, akan tumbuh. Kan mesti nungguin, layani dan semua harus putus nggak boleh mengambang. Jadi kalau ada orang minta tolong itu, harus jawab bisa apa nggak,” kata Ahok.

    Berbicara mengenai Ahok yang menakutkan, saya ingin tekankan sekali lagi, Ahok menakutkan hanya bagi mereka yang golongan otak pendek, tidak bagi warga Jakarta. Bila pun memang Ahok menakutkan bagi warganya, mestinya kini Balai Kota sepi aduan, dan Ahok harusnya sudah kalah di putaran pertama. Tapi nyatanya itu tidak terjadi, Ahok tetap dipercaya dan dicintai warganya. Dan kelak Ahok akan melayani mereka 5 tahun lagi dengan programnya yang nyata, bukan program hasil fantasi belaka seperti yang dilakukan kubu sebelah.

    Salam.

    Ananda Vickry Pratama
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Memang Menakutkan, Balai Kota Tidak Pernah Sepi Terima Aduan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top