728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 12 Februari 2017

    Agus dan Anies Ikut Aksi 112, Masih Pantaskah Bicara Kebhinekaan??

    Tidak bisa dipungkiri, aksi 112 memang adalah aksi yang sarat dengan kepentingan politik. Meski sudah dilakukan pelarangan aksi ini tetap bisa digelar dengan mengganti acara melakukan kegiatan Subuh berjemaah dan ibadah di Masjid Istiqlal. Kegiatan ini akan dijaga ketat Polri-TNI yang siap siaga.

    Dalam aksi 112 ini terlihat hadir paslon 1 dan paslon 3. Jika paslon 1 hanya dihadiri Agus (Sylvi perempuan), maka paslon 3 dihadiri lengkap Anies dan pasangannya Sandiaga. Kehadiran mereka tentu saja menjadi sorotan para peserta yang hadir dalam aksi 112.

    Bahkan saat kedatangan calon gubernur nomor urut 3, Anies Baswedan yang tampak berjalan untuk mengambil shaf depan subuh berjamaah, disambut gemuruh takbir dari ribuan jemaah yang sudah memadati masjid Istiqlal sejak Jumat (10/2) malam.

    “Takbir, wajib gubernur muslim!” seru beberapa peserta yang berada di shaf utama Masjid Istiqlal.

    Agus, Anies, dan sandiaga memang ditempatkan di barisan saff paling depan. Merekalah yang akan didoakan oleh para peserta yang mengusung pemahaman Gubernur harus muslim.

    Setelah Salat Subuh, seorang panitia mengucapkan selamat datang ke beberapa tamu, seperti Hatta Rajasa dari Partai Amanat Nasional (PAN), M. Taufiq dari Partai Gerindra dan Hidayat Nurwahid dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

    “Selanjutnya ada Abang Anies Baswedan, Abang Sandi dan Abang Agus, mereka semua melanjutkan penerus para ulama, semoga Indonesia menjadi lebih berkat,” ujarnya, Sabtu (11/2/2017).

    Kehadiran Agus, Anies bersama Sandiaga tidaklah perlu menjadi sebuah perdebatan. Mereka ini sudah sangat jelas mengatakan diri sepandangan dengan golongan FPIers. Mereka sepakat bahwa Jakarta harus dipimpin oleh Gubernur Muslim. Hal yang tidak disetujui oleh sebagian besar warga Jakarta yang muslim.

    Hal ini jelas terlihat dari kunjungan-kunjungan Ahok ke beberapa wilayah yang disambut hangat oleh warga Jakarta yang muslim. Yang menolak hanyalah segelintir orang dan memang berafiliasi dengan pemahaman FPIers. Itulah mengapa kalau kita lihat, kehadiran peserta 112 sebenarnya banyak dari luar Jakarta.

    Aksi 112, bukanlah aksi warga muslim Jakarta menolak Gubernur non muslim, melainkan aksi muslim sepandangan dengan FPIers yang ada di Indonesia. Bagi golongan FPIers ini, kepala daerah non muslim haram hukumnya, kecuali yang memberikan setoran kepada mereka. Faktanya, PKS dan PPP tidak sungkan mengusung Kepala Daerah non muslim di tempat lain.

    Hal inilah yang membuat Djarot tidak akan pernah hadir pada aksi 112. Djarot hanya akan mungkin hadir dalam acara keIslaman yang tidak mengusung isu SARA dalam kegiatannya. Sedangkan acara yang diinisiasi oleh FPIers sudahlah dipastikan mengusung tema Tolak Gubernur non muslim.

    Pilkada Jakarta ini memang sangat kacau karena sudah terkontaminasi dengan isu SARA. Isu ini terus digoreng sebagai penjegal Ahok yang bukanlah orang muslim. Ahok memang hanya bisa dijegal karena statusnya sebagai orang Kristen dan Cina. Kalau hal lain sangat sulit diserang karena minimnya cela untuk diserang.

    Dalam perdebatan 3 kali yang diadakan oleh KPUD Jakarta terlihat jelas bahwa Ahok unggul dalam segala hal. Itulah mengapa isu ini terus dipanaskan supaya Ahok bisa dijegal. Sayangnya, usaha ini sepertinya akan gagal karena suara mereka akan terbagi dua untuk Agus dan Anies.

    Kehadiran Agus dan Anies ini juga semakin menunjukkan pandangan mereka terhadap keIndonesiaan. Indonesia yang menjamin setiap warga negaranya bisa menjadi kepala daerah, diserang dengann isu SARA. Agus dan Anies hanya lip service ketika berbicara kebhinekaan dalam setiap kampanye mereka.

    Agus dan Anies sudah pantas disebut munafik karena berbicara kebhinekaan tetapi dalam tindakannya mendukung aksi anti kebhinekaan. Masalah Gubernur harus muslim bukanlah amanah Undang-undang kita. Dan sebagai seorang yang nantinya akan berdiri untuk semua suku dan agama di Jakarta, aksi tersebut hanya menimbulkan luka bagi umat lain.

    Menenun kebhinekaan tidak akan pernah bisa terjadi jikalau kita tidak pernah taat kepada Undang-undang yang mengawal kebhinekaan. Tidak pernah Undang-undang kita mewajibkan kepala daerahnya adalah seorang muslim, melainkan Warga Negara Indonesia. Itulah makna sejati kebhinekaan, memilih kepala daerah bukan karena sukunya, bukan karena agamanya, melainkan karena dia orang Indonesia dan punya kemampuan mengadministrasi birokrasi dan segalam sumder daya yang ada.

    Sayang sekali, kalau Agus dan Anies merendahkan derajat kebhinekaan dengan ikut aksi 112 anti kebhinekaan ini. Hanya akan membuat FPIers semakin merajalela dan merongrong kebhinekaan. Saya berharap warga DKI bersatu untuk menolak pemimpin anti kebhinekaan.

    Salam Bhineka Tunggal Ika.

    Penulis :   Palti Hutabarat   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Agus dan Anies Ikut Aksi 112, Masih Pantaskah Bicara Kebhinekaan?? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top