728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 01 Februari 2017

    Ada Apa Dibalik GP Ansor DKI Lawan Ahok

    Jakarta – Ketua Bidang Antar Lembaga Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) DKI Jakarta, Redim Okto Fudin mengecam terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan pengacaranya yang dengan kasar menyanggah kesaksian Ketua Umum MUI KH Makruf Amin saat persidangan kasus penistaan agama.

    Redim mengatakan sikap Ahok terhadap Rais Aam Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) tersebut berlebihan hingga membuat para kader NU tersinggung.

    “Saya melihat sikap dan perlakuan Ahok dan Tim Pengacara Ahok terhadap kiai Makruf Amin sebagai Rais Am PBNU di persidangan sangat kasar, sarkastik, melecehkan, dan menghina marwah NU. Apalagi pengacara intimidatif. Kami tidak terima”, ujar Redim di sela-sela acara Harlah NU ke-91 di Jakarta, Selasa (31/1/2017).

    Redim menyatakan pengacara Ahok menuduh Kiai Makruf menutupi latar belakangnya yang pernah menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

    “Itu tuduhan yang sangat tendensius dan politis. Sejak awal, biodata kiai Makruf menyebutkan hanya pekerjaan yang masih aktif, sebanyak 12 item. Sementara posisi anggota Wantimpres, anggota DPR, Ketua Komisi VI DPR tidak dicantumkan karena memang eksisting sudah tidak menjabat. Tuduhan menyembunyikan itu tuduhan keji”, ujarnya.

    Redim mengungkapkan pengacara menuduh kiai Makruf seolah didekte SBY (mantan presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono) untuk menerima Agus-Silvy (pasangan cagub cawagub nomor urut satu) di PBNU. Lebih parah lagi, pihak Ahok menuduh kiai Makruf memberikan kesaksian palsu.

    Redim menilai Ahok menebarkan tuduhan jahat.hingga mengeluarkan ancaman untuk memidanakan kiai Makruf. “Pengacara Ahok telah menabuh genderang perang dengan NU. Ente jual, ane beli. Kiai Makruf adalah pimpinan tertinggi NU dengan puluhan juta pengikut. Kami akan catat ini sebagai pelecehan tak terkira pada warga NU”, ungkapnya.

    “Kami mengecam ucapan Ahok yang melecehkan kiai Makruf dengan menyatakan beliau tidak pantas menjadi saksi karena tidak obyektif, menuduh bohong dan mengancam kiai. Kami konsolidasi dengan seluruh kader muda NU, termasuk Banser. Kami hormat pada ulama kami. Kami akan buat perhitungan”, tandasnya.

    Terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) keberatan dengan keterangan Ketua MUI Makruf Amin terkait pertemuannya dengan pasangan calon gubernur DKI nomor urut 1 Agus Yudhoyono-Sylviana Murni pada 7 Oktober 2016 lalu.

    Makruf merupakan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan terdakwa di Auditorium Kementan, Selasa (30/1/20017). Dalam hal itu, Ahok juga menuding Makruf Amin menyembunyikan latar belakangnya yang pernah menjabat Wantimpres era presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan Ahok menegaskan siap membeberkan bukti rekaman atas tudingannya itu. Tidak hanya itu, Ahok mengancam Makruf akan dipolisikan dengan dugaan berbohong didepan hakim.

    Menjadi pertanyaan panjang ketika Ketua Bidang Antar Lembaga Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) DKI Jakarta, Redim Okto Fudin mengecam terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan pengacaranya yang dengan kasar menyanggah kesaksian Ketua Umum MUI KH Makruf Amin saat persidangan kasus penistaan agama.

    Mengapa Redim Okto Fudin tidak bisa menempatkan Makruf Amin sebegai ketua MUI dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU).

    Bukankah selama ini MUI dalam mengeluarkan kebijakan atau Fatwa selalu berseberangan dengan NU?

    Bukankah MUI yang selalu membuat sekat-sekat dalam kehidupan kita beragama ?

    Atau adakah NU sengaja bermain di dua kaki?

    Bukankah Gusdur selalu berseberangan dengan NU selama ini?

    Ahhhh…Tolong pembaca seworders melanjutkan pertanyaan-pertanyaan itu.
    Gus Dur: Usulkan Pembubaran MUI

    Mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid yang populer dengan panggilan Gus Dur, di Jakarta, Minggu (30/12), menyorot kritis kiprah Majelis Ulama Indonesia yang menurutnya antara lain suka membuat fatwa sesat, sehingga ia mengusulkan pembubaran atas lembaga itu.

    “Jadi bubarkan Majelis Ulama Islam (MUI). Dia bukan satu-satunya lembaga ‘kok’. Masih banyak lembaga lain seperti Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah. Jadi jangan gegabah keluarkan pendapat,” tandasnya.

    Dalam kesempatan menyampaikan pemikirannya itu sehubungan dengan orasi akhir tahun tersebut, Gus Dur tak tanggung-tanggung juga berpendapat, organisasi ulama ini sudah terbiasa mengeluarkan fatwa secara serampangan ini, terutama terkait dengan fatwa soal aliran sesat.

    “Makanya MUI ‘bubarin’ sajalah kalau caranya begini. MUI ‘khan hanya satu dari sekian ormas Islam. Oleh karena itu jangan gegabah mengeluarkan pendapat. Karena hal itu bisa membuat kesalahpahaman semakin melebar,” tandasnya.

    Bagi Gus Dur, sikap (MUI) tersebut ikut memicu timbulnya radikalisme dan fundametalisme di Indonesia.

    “Beberapa waktu lalu, Sekjen MUI Ikhwan Syam mengatakan, MUI ‘khan tugasnya bikin fatwa. Pendapat tersebut saya bantah,” ujar Gus Dur.

    Gus Dur yang juga Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, lalu menunjuk contoh dalam kasus Ahmadiyah. Sebaiknya, menurut Gus Dur, MUI tidak menggunakan kata sesat, karena Undang Undang Dasar (UUD) telah mengatur kebebasan berbicara dan kemerdekaan berpendapat.

    “Kita bukan negara Islam tapi nasionalis,” tandasnya lagi.

    Sidabutar Hebron Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ada Apa Dibalik GP Ansor DKI Lawan Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top