728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 17 Februari 2017

    7 Cara Kalahkan Anies-Sandi di Pilkada DKI Putaran 2

    Walaupun real count KPU belum selesai, namun semua pihak sepakat, bahwa hasil quick count yang dirilis beberapa lembaga survei sudah menggambarkan hasil sesungguhnya Pilkada DKI.
    Ya, Pilkada DKI harus 2 putaran. Bagi banyak pendukung Ahok, pertarungan ke-2 ini dianggap sebagai sebuah pertarungan yang berat. Lebih berat dari excavator dan teman-temannya.

    Kenapa berat? Karena musuh yang sebelumnya terbagi 2, yang kebetulan membangun sentimen yang sama, sekarang bersatu. Bukan seperti pendapat Fahri Ali, pengamat politik UI yang justru menyatakan, “berat” tersebut disebabkan oleh kasus Antasari Azhar, mantan Ketua KPK  yang menyentil SBY. 

    Menurutnya, ketika kasus Antasari terjadi, suara pasangan nomor urut 1 itu tidak akan mungkin diberikan ke Basuki- Ahok yang diusung PDIP. Jadi Fahri menyarankan PDIP untuk membujuk Partai Demokrat untuk mengalihkan suara pendukungnya ke Ahok-Djarot. 

    Fahri rupanya lupa bahwa Pilkada bukanlah matematika. Jika A=17 B=43 C=40, maka ketika A memberikan suara pada C pada putaran ke-2, tidak otomatis C=17+40 dan B=43. Dukungan partai politik juga tidak menjamin “rakyat” mereka solid mengikuti. 

    Merangkul Demokrat di putaran ke-2 justru malah akan menjadi blunder untuk Badja.
    Lalu apa yang seharusnya dilakukan pasangan Badja? Untuk mendapatkan strategi yang tepat, mari kita kupas dulu penyebab kekalahan AHY-Sylvi. Apa saja itu?

    Pertama , isu Antasari. “Nyanyian” Antasari yang justru kemudian di-loudspeaker melalui cuitan twitter SBY tak pelak dianggap banyak pihak sebagai biang gembosnya suara AHY.

    Kedua, pemilih Agus yang basisnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah tak datang ke tempat pemungutan suara. Ini pendapat Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun. Menurut Marbun, mereka tak datang karena berhubungan dengan faktor ekonomi, tak kerja tak makan.

    Ketiga, masih menurut Marbun, daya tarik tokoh partai pendukung yang tidak terlalu masif. SBY seperti sendirian, sementara Ketum PPP, PAN, dan PKB nyaris tidak terlihat.

    Ke-empat, pemilih AHY-Sylvi tidak solid. Karakteristik pemilih mereka beririsan dengan pemilih Anies-Sandy. Ini dikemukakan oleh Manajer JSI, Rudi Ruswandi. Dari sejumlah survei yang dilakukan pihaknya, menunjukkan ketika pasangan Agus-Sylvi naik, pasangan Anies-Sandi menurun. Demikian juga sebaliknya.

    Kelima, -masih menurut Rudi- isu agama yang selalu digoreng oleh pasangan ini tidak laku di Pilkada DKI. Isu yang selalu dihembuskan sejak awal kampanye hingga akhir masa kampanye tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap pemilih Jakarta. Bahkan Perselisihan antara Ahok dengan Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin juga dianggap tidak berpengaruh.

    Ke-enam, sasaran kampanye pemilih pemula kurang tepat. Pemilih pemula mayoritas adalah abg yang secara psikologis masih labil. Mereka jelas sangat terpengaruh oleh lingkungan dan dengan siapa mereka “bersentuhan” sebelum waktu pemilihan.

    Ketujuh, massa NU di PPP dan PKB tidak solid mendukungnya. Kehadiran FPI dan Islam garis keras di kubu Agus rupanya “mengganggu” perasaan warga Nahdliyin.
    Nah, dari ketujuh kelemahan itu, mana yang bisa digarap oleh Badja untuk mengalahkan Anies-Sandi? Mari kita analisa.

    Pertama, isu Antasari jelas tidak bisa diexplore lagi. Anies-Sandi tak ada hubungan langsung dengan SBY.

    Kedua, pemilih Agus yang basisnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah bisa didekati secara massif. Ajak mereka bicara, kawal di hari pemilihan, beri kompensasi ( bukan uang, nanti jadi money politics). 

    Sebagai contoh, CNNIndonesia sempat mewawancarai seorang mantan penduduk Kampung Pulo, Wawan Setyawan,yang tak ingin Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali memimpin Jakarta. Pria berusia 54 tahun itu mencoblos gambar pasangan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni. “Saya ini korban gusur. Jangan hanya masyarakat kelas atas saja yang diperhatikan,” ujarnya. 

    Namun -ini yang menarik- walaupun menyebut dirinya sebagai korban penggusuran era pemerintahan Ahok, dia mengakui calon gubernur nomor urut dua itu memiliki program pembangunan Jakarta yang jelas. “Sepak terjang pembangunan Jakarta memang baik, tapi cara yang digunakan tidak bijaksana,” tuturnya. Got the clue?

    Ketiga, daya tarik tokoh partai pendukung bisa dimaksimalkan. Selama ini yang sempat muncul cuma Megawati. Hal ini lebih baik lagi bila berhasil menarik masuk PPP, PKB, dan PAN  yang notabene partai pendukung pemerintah. Demokrat? Lupakan saja, banyak “jin” nya hehe. Kolaborasi kemunculan Megawati, Muhaimin Iskandar, Surya Paloh, Oesman Sapta dan Zulkifli Hasan bisa memboost bagian ini. Setya Novanto mending disimpan dulu, jangan terlalu sering muncul, mengingat track recordnya yang kurang baik.

    Keempat, karakteristik pemilih Badja sudah cukup solid, kecil kemungkinan Anies-Sandi mencurinya. Di sisi lain, Badja masih bisa mencuri suara Anies-Sandi dari kantong-kantong NU yang sebenarnya tidak nyaman berdampingan dengan PKS. 

    Cukup banyak kasus gesekan para kyai NU dan ustadz PKS di akar rumput. Manfaatkan ini, gunakan pendekatan personal. Saya kira cukup banyak relawan Badja dari kalangan santri. Yang paling penting jangan pelit, santri itu yang penting konsumsi dan akomodasi ditanggung, mereka sudah senang (kok tahu? Saya mantan santri hehe). 

    Gak usah dikasih uang nanti dianggap money politic, jangan dikasih nasi bungkus, nanti disebut panasbung. Jadi? Ajak ke warteg atau restoran sekalian, biar nanti jadi panasteg dan panastoran.

    Kelima, isu agama yang dianggap tidak memiliki dampak yang signifikan bagi AHY-Sylvi jelas beda untuk Badja. Kondisikan Ahok untuk selalu menjadi Basuki (hehe). Jangan sampai melakukan move-move yang blunder semacam membuka front perang terbuka dengan Makruf Amin baru-baru ini. Usahakan Ahok selalu tampil cool, calm dan confident (minjam iklan dikit). Ingat, NU teman Badja, jangan dilukai secuilpun.

    Keenam, pemilih pemula harus digarap Badja lebih serius. Pendekatan mereka juga lebih baik personal. Rekrut para ketua organisasi pemuda. Bila sekolah-sekolah formal sulit ditembus karena sudah dikuasai Rohis yang PKS banget, Badja bisa bergerak ke sekolah-sekolah milik pesantren dan NU

    Ketujuh, ambil massa NU di PPP dan PKB yang di putaran 1 memilih AHY-Silvy. Ingatkan prinsip Islam toleran ala NU yang tidak akan bisa berdampingan dengan Islam garis keras ala FPI dan PKS. Sejarah sudah membuktikan bagaimana NU selalu menjadi sasaran tembak, bahan olok-olokan dan pengkafiran saudara-saudaranya itu.

    Jadi itulah urun saran dari saya untuk kemenangan Badja. Terakhir, saya ingin menyampaikan bahwa ontran-ontran yang dilakukan FPI, GNPF-MUI, MUI, FUI dan lain-lain sepertinya memang tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil Pilkada DKI ini. Jadi jangan putus asa, dan tak ada yang harus disesali dan dijadikan kambing hitam. 

     Apa buktinya? Merujuk pada hasil survei Poltracking Indonesia pada awal September 2016 lalu, simulasi Anies yang berpasangan dengan Sandiaga Uno menghasilkan angka 37,95 persen versus 36,38 persen bagi Badja. Jadi memang dari awal, Pilkada DKI diprediksi 2 putaran dengan munculnya Anies-Sandi.

    Selamat bekerja, dan salam damai!

     Penulis : Noor Cholis   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: 7 Cara Kalahkan Anies-Sandi di Pilkada DKI Putaran 2 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top