728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 23 Februari 2017

    5 Tahun Jokowi-Ahok, Perubahan Yang Nyata Dan Perlawanan Terhadap Ketidakadilan

    Nama Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama adalah 2 sosok yang menjadi poros utama perubahan di Indonesia. Mungkin banyak orang tidak setuju dengan pendapat saya, tetapi perubahan yang nyata dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang mereka kerjakan tidak terbantahkan oleh pernyataan siapapun.

    Sebelum 2 sosok ini menyatu, saya adalah orang paling anti dengan politik. Bagi saya, politik itu kotor dan tidak akan pernah ada seorang pemimpin yang mampu menjaga hati dan pikirannya bersih ketika masuk dalam politik dan menjadi seorang kepala daerah. Budaya politik transaksional dan mahar begitu kuat terasa dalam politik Indonesia, sehingga kepala daerah cenderung koruptif demi mengembalikan modal politik yang begitu besar.

    Pilkada DKI 2012 menjadi tonggak dijungkirbalikkannya politik mahar dan transaksional tersebut. 2 sosok bernama akrab Jokowi dan Ahok, dipinang tanpa transaksi dan mahar apapun. Desakan publik untuk mengusung Jokowi di Pigub DKI 2012 tidak tertahankan lagi. Ahok yang juga ingin maju di Pilkada DKI pun diboyong menjadi cawagub Jokowi.

    Pada saat inilah, yang namanya pergerakan rakyat aktif dalam politik mulai marak. Saya, dan mungkin juga ribuan bahkan jutaan rakyat lain, tersadarkan dan mulai terlibat aktif dalam perpolitikan. Bukan menjadi politisi pastinya, melainkan seorang relawan tanpa nama dan tanpa sorotan. Hal yang saya saksikan pada saat itu dilakukan oleh banyak orang.

    Pada saat itulah muncul brand baju “kotak-kotak” lalu mulai bergeraklah anak-anak muda melakukan kampanye gratisan untuk Ahok dari membuat lagu, game, flasmob, dll. Jokowi-Ahok memberikan semangat baru bahwa perubahan mungkin dilakukan oleh kedua orang ini.

    Dasar kemungkinan tersebut adalah karena Jokowi yang punya jejak rekam bagus selama jadi Walikota Solo dan menjadi nominator Walikota terbaik sedunia. Ahok juga punya rekam jejak bagus selama menjadi Bupati Belitung Timur meski tidak diekspos semassif Jokowi. Kemungkinan itulah yang membuat Jokowi-Ahok berhasil menarik banyak warga Jakarta memilih mereka dan mengalahkan pasangan Foke-Nara.

    JOKOWI PRESIDEN, AHOK GUBERNUR

    Perubahan terjadi pada tahun 2014. Jokowi didorong untuk menjadi capres. Seperti tidak sabar untuk segera merasakan perubahan Jakarta di seluruh Indonesia, Jokowi yang baru saja 2 tahun menjadi Gubernur Jakarta ditarik publik menjadi capres. Sebuah fenomena yang luar biasa dari rasa dahaga rakyat Indonesia akan adanya perubahan yang nyata di Indonesia, bukan hanya di Jakarta.

    Dahaga akan adanya perubahan nyata diakibatkan karena selama 10 tahun, kondisi Indonesia tanpa perubahan. Bahkan jika dibandingkan dengan 2 tahunnya Jakarta dipimpin oleh Jokowi-Ahok, perubahan 10 tahun Indonesia sangatlah minim. Saya yang pada saat itu termasuk orang yang tidak setuju Jokowi maju jadi capres, tidak lagi mampu menolak karena desakan banyak orang untuk mencapreskan Jokowi.

    Seperti yang kita ketahui bersama, Jokowi akhirnya menjadi Presiden dan Ahok diangkat menjadi Gubernur. Kemenangan Jokowi sekali lagi juga adalah perjuangan relawan tanpa nama dan tanpa sorotan yang berjuang demi Indonesia Baru. Orang-orang yang sudah berlipat ganda jumlahnya saat mewakafkan diri menjadi relawan Jokowi-Ahok pada Pilgub 2012.

    Seperti yang menjadi kebiasaannya di Solo dan di Jakarta, Jokowi tetap melakukan blusukkan ke daerah-daerah. Meski menjadi Presiden, kebiasaan blusukkan itu tidak ditinggalkan. Karena itulah karakter Jokowi. Kabinet kerja pun diusung menjadi nama kabinetnya demi penjiwaan menyeluruh visi misi Jokowi yang memang ingin semua elemen bekerja demi memperbaiki Indonesia.

    Menteri yang sebelumnya terlihat santai dan tanpa kerja nyata, kini semuanya jadi berkeringat. Yang tidak kerja dan hanya sibuk beretorika dan berkata-kata direshuffle Jokowi. Menteri yang buat kehebohan di medsos lebih besar dibandingkan kerjanya juga dicopot. Itulah mengapa nama seperti Anies, Rizal Ramli, dan Marwan Jafar diganti.

    Jokowi sudah 2 tahun menjadi Presiden, perubahan nyata pun terjadi seperti yang juga dilakukannya di Solo dan 2 tahun di Jakarta. Jokowi memenuhi janjinya dengan membangun infrastruktur, mengembalikan kedaulatan negara dalam hal kekayaan alam dan wilayah, serta membangun teras Indonesia, daerah perbatasan menjadi cantik dan membanggakan.

    Rakyat pun senang karena semua sekarang sudah semakin baik. Pungli juga ditindak dengan baik. Perekonomian sedang ditata dengan baik. Semua perubahan menjadi memungkinkan saat ini.

    Dilain pihak, Ahok pun terus melakukan perubahan. Jakarta terus berbenah menghadapi banjir, macet, wilayah kumuh, dan perbaikan menyeluruh bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Ahok sebagai Gubernur mengusung tema “mengadministrasi keadilan sosial”. Membuat warga mendapatkan penghidupan yang layak dan manusiawi.

    Tema utama yang terus disuarakan Ahok adalah membuat isi dompet, kepala, dan perut warga penuh sesuai dengan konstitusi yang berlaku. Ahok tidak akan mau melanggar konstitusi dan mengambil uang rakyat demi keadilan sosial. Semua dibela sesuai dengan konstitusi yang berlaku.

    Jokowi-Ahok seiring sejalan. Berjalan berdampingan demi sebuah perubahan di Indonesia dan di Ibukota Jakarta. Semangat perubahan yang terus menjalar dan harus terus kita perjuangkan.

    PILKADA DKI 2017, PERUBAHAN BERLANJUT ATAU DIHENTIKAN

    Pilkada DKI seperti menjadi penentuan apakah perubahan akan dilanjutkan atau tidak. Dua kubu akan kembali berhadap-hadapan. Satu kubu yang menginginkan perubahan terus berlanjut dalam kerangka Jakarta Baru dan Indonesia Baru, sedangkan kubu yang lain menginginkan Gubernur Baru dengan gerombolan pembawa model Jakarta Lama dan Indonesia lama.

    Pilkada DKI memang pada akhirnya kembali membawa isu politik Pilpres 2014. Isu yang sebenarnya sudah mengemuka saat Ahok mencalonkan diri menjadi Gubernur. Isu Pilpres 2014 paling kental dirasakan ketika lawan politik menyerang Jokowi dengan isu membela dan berpihak kepada Ahok. Isu ini terus digaungkan supaya Jokowi tidak memberikan dukungan secara terang-terangan kepada Ahok.

    Di lain kesempatan, lawan politik malah dengan terus terang menurunkan Prabowo yang adalah capres di 2014 untuk menjadi juru kampanye. Bahkan isu Pilpres 2019 pun dipakai. Jika ingin Prabowo jadi Presiden maka jadikan Anies Gubernur DKI. Pernyataan yang sama tidak mungkin disuarakan oleh Jokowi karena Jokowi sudah tersandera isu berpihak kepada Ahok.

    Jokowi yang memang pada dasarnya ingin bekerja dan terus membangun Indonesia tidak mau masuk dalam kegaduhan politik tersebut. Jokowi sadar betul bahwa lawan politiknya ingin menyeret dia masuk dalam kegaduhan tersebut dan menghalangi Jokowi semakin banyak berbuat bagi Indonesia. Hal yang berbahaya bagi mereka untuk menghadapi Pilpres 2019.

    Karena itulah, Ahok dibiarkan Jokowi berjuang sendiri. Meski begitu, Jokowi saya yakini tidak akan diam dan akan membantu Ahok. Pastinya bantuan tersebut terlihat nyata dengan bergeraknya para relawan Jokowi yang turun membela Ahok dan memperjuangkan Ahok menjadi Gubernur.

    Pendukung Jokowi pasti sadar kalau perubahan dan pembangunan yang dilakukan Jokowi tidak lepas dari dukungan Gubernur Jakarta. Berbicara mendukung Jokowi adalah berbicara mendukung Ahok. Apalagi, Ahok mengakui bahwa visi misinya sekarang mirip dengan visi misi Jokowi-Ahok.

    “Intinya masih mirip, cuma kami lebih pertajam sampai program jelas. Saya ingin setiap visi bisa terukur,” kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu (5/10).

    Dani Prabowo

    Pimpinan DPP Hanura berfoto dengan Presiden Joko Widodo usai pengukuhan DPP Partai Hanura 2016-2020 di Sentul International Convention Center, Bogor, Rabu (22/2/2017).

    Jadi, sebuuah kekeliruan jika pendukung Jokowi bukanlah pendukung Ahok. Apalagi, Jokowi dengan jelas dan gamblang memberikan dukungan kepada Ahok dengan pernyataannya yang menyebutkan bahwa politik kita saat ini sudah kebablasan dan tidak sehat lagi.

    Hal tersebut disampaikan Jokowi saat berpidato dalam pengukuhan pengurus DPP Hanura di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/2/2017).

    “Banyak yang bertanya pada saya, apa demokrasi kita keablasan? Saya jawab ya, demokrasi kita sudah kebablasan,” kata Jokowi.

    “Penyimpangan praktik itu mengambil bentuk nyata seperti kita lihat belakangan ini, politisasi SARA seperti yang disampaikan Pak OSO, saling memaki dan menghujat kalau diteruskan bisa menjurus pada memecah belah bangsa kita,” ucap Jokowi.

    Tentu yang dimaksud Jokowi adalah Pilkada DKI 2017 yang sangat kebablasan politiknya dengan isu SARA yang melukai tenun kebangsaan dan kebhinekaan. Hal yang saya pikir akan tetap diusung dalam putaran kedua.

    Jakarta dan Indonesia mulai berubah saat dua orang ini dipasangkan di Pilgub DKi 2012. Kalau kubu yang onoh sebut alumni 411 dan 212, maka saya adalah angkatan muda 2012 yang menaruh kepercayaan akan adanya perubahan di Indonesia karena dua sosok ini.

    Saya percaya perubahan akan terus terjadi ketika 2 orang ini diijinkan memimpin Jakarta dan Indonesia. Pilkada DKI 2012 adalah penentuannya. Apakah perubahan akan terus terjadi atau berhenti dan kembali dalam kondisi jakarta dan Indonesia yang lama?? Rakyatlah penentunya.

    Saya berharap kita semua pertahankan kombinasi Jokowi-Ahok. Bukan hanya demi Jakarta, tetapi juga demi Indonesia. Karena Jakarta adalah poros utama perubahan di Indonesia.

    Salam Jokowi-Ahok.


    Penulis : Palti Hutabarat Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: 5 Tahun Jokowi-Ahok, Perubahan Yang Nyata Dan Perlawanan Terhadap Ketidakadilan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top