728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 29 Januari 2017

    Strategi Busuk dan Licik Pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi

    Kelicikan di acara debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI hari ini sungguh busuk, tetapi sekaligus menyibak sifat asli dari kelompok-kelompok yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan kekuasaan.

    Di saat pasangan nomor urut tiga diberikan kesempatan bertanya kepada pasangan calon nomor urut satu, Sandiaga Uno sebagai perwakilan dari Paslon nomor urut tiga mengajukan pertanyaan kepada Sylvi sebagai Calon Wakil Gubernur dari pasangan nomor urut satu tentang reformasi birokrasi dimasa pemerintahan Ahok-Djarot, dimana Sandiaga uno mengajukan pertanyaan tersebut karena Sylvi yang merasakan langsung berada dipemerintahan Ahok-Djarot.

    Apapun jawabannya, menurut saya adalah tidak bisa dijadikan patokan, mengapa demikian? Karena itu adalah pernyataan sepihak, pernyataan sepihak dari Sylvi yang digunakan untuk menyerang pasangan Calon nomor urut 2 ( Ahok-Djarot), dan sungguh hal yang buruk, karena disini pasangan nomor urut dua tidak bisa memberikan penjelasan atau klarifikasi tentang pernyataan yang diberikan oleh Sylvi, padahal sebelumnya menurut Ahok, Sylvi adalah salah satu birokrat senior yang kurang mengerti tentang aturan, dimana aturan yang dicontohkan tentang keuangan berbasis kinerja, bahkan Ahok menegaskan, jika apa yang dilakukan salah menurut aturan yang dinyatakan Sylvi, pasti ada temuan, dan Ahok akan mendapatkan masalah, karena melanggar aturan.

    Kesempatan yang diberikan yang semestikan digunakan sebagai adu program, mengkoreksi dan saling memberikan masukan untuk lawan yang telah ditentukan, tetapi malah dijadikan ajang menyerang pasangan nomor urut dua dengan licik tanpa memberikan kesempatan klarifikasi dan penjelasan.

    Bukankah birokrasi Ahok yang bahkan telah dibentuk badan pelayanan bukan perizinan, dimana rakyat bukan lagi datang untuk meminta izin, tetapi pemerintah yang ada untuk melayani, dan untuk menekan adanya pungli, pemerintahan Ahok-Djarot memberikan reward dan punishment , dimana reward ditujukan untuk memberikan tambahan pendapatan supaya para PNS tidak melakukan korupsi, begitu juga dengan Punishment, jadi mengapa harus takut kepada Ahok-Djarot jika tidak melakukan kesalahan? Dan satu lagi, lelang jabatan membuat semua PNS memiliki kesempatan yang sama untuk naik jabatan, jika memiliki kemampuan, tidak perduli itu dari lulusan dibagian apa, toh akademisi tidak menjadi jaminan, itu buktinya ibu Susi yang dulu dicerca karena tidak lulus SMA sekarang menjadi menteri yang membanggakan, dan masih banyak contoh-contoh nyata lainnya, dimana orang mahir melakukan sesuatu diluar pendidikannya, karena semua dapat dipelajari dari mana saja, karena zaman sekarang bukan zaman batu.

    Selain itu, waktu yang seharusnya digunakan untuk pasangan calon nomor urut satu dan tiga untuk beradu argumen, tetapi digunakan untuk menyerang dan berkampanye masing-masing secara gratis, padahal pemaparan visi misi sudah diberikan diawal acara.

    Kerja sama yang apik seperti memang sudah dirancang, terlepas dari kapan itu dirancang, entah jauh-jauh hari ataupun pikiran spontan saat diatas panggung, tetapi itu membuktikan sebuah rancangan, karena tidak mungkin momen besar yang akan mempengaruhi para pemilih tanpa persiapan, dan pertanyaan yang pas untuk mewujudkan misi busuk dan licik mereka.

    Setelah kelicikan pasangan nomor urut tiga, kini giliran pasangan nomor urut satu yang melakukan kelicikan, dengan mempertanyakan pergub-pergub yang dibuat dimasa pemerintahan Ahok, diantaranya menyiggung RW yang seperti tidak difungsikan, masyarakat yang seperti tidak diikut sertakan dalam membangun Jakarta, disitu saya menganggap ingin membuat seolah-olah Ahok sebagai sosok yang anti masyarakat, disini kita juga tidak tahu sebenarnya apa maksud dari pergub yang dipertanyakan oleh ibu Sylvi, karena Ahok-Djarot juga tidak ada kesempatan untuk menjelaskan, apa maksud dan tujuan dari pergub yang dipermasalahkan oleh Sylvi yang dilontarkan kepada Anies.Kan aneh, bertanya pada orang yang tidak tepat, sama saja mau beli semen di warung gado-gado.

    Dan aksi kroyokanpun sepertinya memang menjadi nasib Ahok, setelah dikroyok sama gerombolan DPR, grobolan FPI dan kroni-kroninya, sekarang dikroyok dengan dua rivalnya dalam pilkada DKI, tetapi tenang saja Ahok-Djarot, masih banyakan rakyat yang mendukungmu kok, hehe….

    Kelicikan yang menurut saya dirancang, walaupun Agus melemparkan kata, strategi yang bagus dari paslon nomor 3, dimana pertanyaannya digunakan untuk menyerang Ahok-Djarot, tetapi itu tetap saja tidak menghilangkan prasangka buruk, bahwa dia tidak ikut merencanakan itu, karena kubu merekapun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh kubu Anies-Sandi.

    Intinya, tidak masalah mereka menyerang Ahok , tetapi menjadi tidak etis dan busuk jika Ahok-Djarot diposisikan tidak dapat memberikan klarifikasi atas apa yang paslon nomor urut satu dan tiga nyatakan, katanya harus tabayun? Sedangkan tersangka didalam persidangan saja diberikan waktu untuk melakukan pembelaan lohh…


    Penulis : Cak Anton   Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Strategi Busuk dan Licik Pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top