728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 25 Januari 2017

    Sang Mantan Dan Rakyat Bercuitan; Tak Mau Ketinggalan, Antasari Bikin Rame

    Uhuk. Krkekrk.. Saya keselek nafas sendiri ketika membaca berita yang berjudul Antasari: Daripada “Cuit-Cuit” Bilang Negara Kacau, Mending Pak SBY Bantu Buka Kasus Saya.

    Eng ing eng . Saya bingung mau pilih padanan kata apa untuk menggambarkan perasaan saya ketika melihat fenomena ini. Coba dibantu mana yang lebih pas?

    A. Ya Allah, Tuhan YME. Antasari kok jadi begini?
    B. Saya prihatin
    C. (Pegang dada saja)

    Rasa-rasanya seluruh Indonesia mendadak kegatelan buat menanggapi cuitan sang mantan. Uhuk. Tidak terkecuali Pak Antasari . Risiko jika mantan orang nomor satu di Indonesia yang curhat di media sosial, pasti deh se-Indonesia mendadak gila urusan . Yaelaah, mantan pacar yang hanya ketua ikatan jomblo ngenes yang curhat di media sosial saja sekampung jadi sewot. Apalagi mantan presiden DUA PERIODE yang curhat, sejagad raya menjadi sah-sah saja untuk seword, eh sewot.

    Sebenarnya dari kemarin-kemarin saya ingin bercuit juga. Tapi karena saya sudah menulis tulisan yang berjudul Jokowi Berulah Lagi; Sang Mantan Bakal Baper Lagi? saat pertemuan Jokowi dengan BJ. Habibie dan Try Sutrisno yang memicu keprihatinan, eh kekhawatiran saya kumat lagi bahwa bakal ada yang baper lagi. Sengaja saya tulis buat konde, eh kode buat sang mantan agar setelah pertemuan itu jangan sampai membuat “kekacauan” yang bernada keprihatinan biar sedikit cool gitu sebagai seorang mantan. Tapi sayangnya mungkin tidak dibaca. Karena kalau dibaca, mungkin sang mantu juga akan ikut sewot, “kamu pengamat dadakan ya? Sengaja biar saya baca? Tidak beretika.” Jleb!

    Dan jatuhnya kekhawatiran saya pun akhirnya terwujud . Eneng lelah melihat rakyat Indonesia saling cuit-cuitan karena cuitan sang mantan. Mungkin cuitan burung yang tidak berbalas itu rasa-rasanya kurang seru kali ya?  Jadi mari kita turut meramaikan . Ikut kata pakde — “Mari kita bikin rame.”  Jadi burung yang baru bebas setelah bertahun-tahun terkurung di balik sangkar besi juga tidak mau ketinggalan untuk ikut bercuit. Yihaaaa.. Inikah yang disebut-sebut “mari kita bikin rame” oleh Pakde?  Mari kita tanya pada daun yang terapung.

    Ehm, ini cuitan saya sebagai rakyat Indonesia yang sudah instropeksi diri sesuai anjuran pakar IT. Hachiiimm.

    “Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin….” Pernah dengar kalimat itu? Mungkin itulah yang dialami seorang Antasari. Beliau mungkin tidak membenci orang-orang yang pernah menjatuhkannya duluuu..

    Tapi tunggu, kutipan di atas masih ada sambungannya — “…Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tidak melawan.” Uhuk. Sepertinya ini bukan Antasari banget! Salahkah seorang Antasari yang masih ingin terus berjuang? Mari kita sebut saja berjuang, bukan balas dendam.

    Tergantung konteks!

    Mungkin akan lain cerita jika sang mantan kini berupaya menjadi mantan terindah yang tidak rese’. Seorang Antasari mungkin menganggap masa lalu di antara mereka dulu hanyalah sebuah kekeliruan saja. Atau hanya kekhilafan. Ataukah hanya prasangkanya saja. Tapi ternyata sang mantan sangat konsisten dengan “modus-modusnya” yang akhirnya tercium juga oleh rakyat jelata.

    Jika kita sering mendengar bahwa karakter seseorang diuji saat ia memiliki kekuasaan. Maka kemurnian hati seseorang diuji saat ia sudah menjadi mantan.

    Jangankan seorang Antasari, saya saja yang awalnya menaruh simpati kepada sang mantan, tapi sejak konfrensi pers sang mantan yang “tidak elok itu” membuat saya mendadak lunglai dan membatin, “Sang mantan kok begitu?” Untung saya tidak curhat di media sosial. Karena kalau rakyat jelata yang curhat, tidak akan dapat panggung.

    Saya gemas membaca komentar orang lain bahwa biarkan saja Allah yang membalas, Antasari tabah saja. Onde mandeee. Kurang tabah apa om berkumis nan klimis ini? Jika Abraham Samad hanya terseret dalam kasus main perempuan, nah Antasari dituduh sebagai pembunuh! Orang hukum yang dituduh sebagai pembunuh itu sama sekali tidak beretika dan bisa dibilang keji! Ini menyangkut harga diri lembaga.

    Jika Antasari masih memilih untuk terus berjuang, jelas itu bukanlah upaya balas dendam yang bersifat personal. Tapi upaya dalam memerangi kedzoliman yang terjadi di negeri ini. Seharusnya sang mantan belajar dari Antasari. Meski berstatus mantan ganda — mantan ketua KPK sekaligus mantan narapidana, tapi sikap ksatria Antasari untuk mengatakan TIDAK pada korupsi di negeri ini masih berkobar-kobar tanpa harus haus kekuasaan dan gila hormat.

    Harusnya sang mantan yang populer dengan slogan “Katakan tidak pada korupsi” yang berhasil menjadikannya dulu menjadi presiden 2 periode ini turut memfasilitasi semangat Antasari untuk terus melanjutkan programnya. Jadi Antasari sudah tepat untuk meminta bantuan kepada sang mantan. Karena sesama mantan memang harus saling membantu. Kalau bisa sambil gandeng tangan sang mantan dan bilang, “Yuk, Sayang! Kita lanjutkan perjuangan kita yang sempat kandas dulu.” Mungkin dengan cara itu sang mantan tidak bakalan baper lagi. Karena bukan hanya kesantunan yang perlu dibudayakan, tapi juga keromantisan. Uhuk!

    Toh, berkontribusi untuk negeri ini, tidak harus dengan punya jabatan atau membangun kerajaan dinasti, bukan? Apalagi dengan cara mencoba mengadu domba rakyat. Karena itu benar-benar tidak beretika! Ada banyak sekali cara untuk turut berkontribusi.

    Saya berharap, setelah ini tidak ada cuitan sang mantan lagi. Cukup sudah daun yang jatuh, eh wibawa yang jatuh, tidak perlu lagi hancur berkeping-keping. Karena apa kata dunia jika sejarah mencatat ada mantan presiden Indonesia yang bukan saja hobi bikin album lagu tapi juga hobi caper bin baper?

    Untuk Pak Antasari, “Yuk, ke istana buat nongki-nongki cantik bersama Pakde.”
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Sang Mantan Dan Rakyat Bercuitan; Tak Mau Ketinggalan, Antasari Bikin Rame Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top