728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 20 Januari 2017

    Rizieq, Munarman, dan Novel Berurusan dengan Hukum: Skakmat untuk FPI

    Jakarta, Warta.co - Ada sebuah istilah “Kalau mau tangkap ular, pegang kepalanya”. Karena kalau pegang ekor atau badannya, rahangnya akan reflek menggigit tangan.

    Itulah yang sedang dihadapi sebuah ormas besar bernama Front Pembela Islam (FPI). Tiga orang petingginya sedang berurusan dengan hukum. Penyebabnya sama semua. Gara-gara mulut yang tidak diajarkan sopan-santun. Padahal, mereka selalu menyerang Ahok dari titik ini. Ahok mulutnya kayak comberan lah. Kini, mereka pun merasakan akibat dari tidak bisanya menjaga mulut.

    Rizieq mendapat sebelas aduan dari lima kasus yang disebabkan mulutnya sembarangan menghina. Pertama, ia menghina adat Sunda. Ia mengganti “sampurasun” menjadi “campuracun”. Rizieq mengira, karena Jawa Barat adalah basis muslim yang agak-agak garis keras, lalu ia seenaknya menghina budaya Sunda. Kenyataannya, tak setiap muslim di Jawa Barat setuju dengan Rizieq. Malahan, Aher, Gubernur Jabar, telah menandatangani petisi pembubaran FPI.

    Kedua, Rizieq telah menghina Yesus Kristus. Umat Kristen sontak bereaksi melaporkan Rizieq. Dalam ceramahnya Rizieq mengatakan, “Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa?” Sepertinya, Rizieq beranggapan bahwa yang berhak hidup di negeri ini cuma Islam. Malah Islam versi dirinya. Agama lain tak berhak. Itulah mengapa ia seenak jidat mengeluarkan kalimat yang menghujat agama lain. Padahal, Quran melarang menghujat kepercayaan agama lain.

    Ketiga, Rizieq menghina Pancasila. Ia mengatakan, “Pancasila Soekarno ketuhanan ada di pantat, sedangkan Pancasila Piagam Jakarta ketuhanan ada di kepala.” Rizieq memang gak tahu sejarah. Orang yang buta sejarah jadinya gini. Asal bunyi. Ia tidak tahu bahwa bangsa kita bisa merdeka karena Pancasila yang mampu menyatukan seluruh anak bangsa. Meski berbeda suku, ras, agama, bahasa, warna kulit, rambut dan lain sebagainya, Pancasila lah yang telah menyatukan kita. Menghina Pancasila sama dengan menghina perjuangan meraih kemerdekaan.

    Keempat, Rizieq telah membuat propaganda imaginer tentang adanya simbol “palu arit” di uang kertas rupiah terbaru. Ia menuduh pemerintah telah disusupi oleh antek-antek PKI. Dalam banyak ceramahnya, isu PKI ini selalu didengungkan. Sampai-sampai uang pun jadi korbannya. Tapi, kalau Rizieq dikasih gepokan yang berwarna merah atau biru, saya yakin tidak menolak, meski ada “palu arit”nya.

    Kelima, Rizieq telah menghina Kapolda Metro Jaya. Ia menyebut Kapolda sebagai “Jenderal otak hansip”. Ini sungguh memalukan. Mengaku seorang Habib (keturunan Rasul yang dicintai) tapi mulut seperti TPA Bantar Gebang. Yang keluar dari mulutnya, ada saja hinaan, hujatan dan cacian. Padahal, Quran menyuruh untuk berkata “qaulan ma’rufa” (perkataan yang baik).

    Nasib Munarman juga seperti Rizieq. Ia dilaporkan oleh tokoh adat, pecalang dan umat muslim Bali. Ia dinilai telah menyebarkan fitnah yang keji dengan melecehkan pihak keamanan adat Bali yang dikenal dengan “pecalang”. Begini kata-kata Munarman yang dianggap telah memfitnah para pecalang di Bali, “Kompas tidak pernah mengkritik pecalang-pecalang di Bali yang kadang-kadang melempari rumah penduduk, melarang orang shalat jumat, enggak pernah ada kritik dari kompas, bertahun-tahun itu sudah kita saksikan.”

    Ini merupakan fitnah tanpa dasar. Memangnya Munarman tahu dari mana pecalang-pecalang di Bali suka lemparin rumah penduduk (muslim)? Apakah cabang FPI ada di Bali? Malahan, Ketua GP Anshor Kabupaten Badung Imam Bukhori langsung membantah pernyataan Munarman tentang pecalang. Ia berkata, selama ini umat beragama di Bali saling menghormati dan membantu pada setiap acara keagamaan.

    Yang terakhir adalah Novel Bamukmin. Novel sebenarnya, kasusnya lebih ringan dari Rizieq dan Munarman. Ia tidak menghina, tapi memberikan saksi palsu dalam sidang keempat kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Novel yang mendadak terkenal dengan “Fitsa Hats”nya, dilaporkan ke kepolisian atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan memberikan keterangan palsu.

    Novel mengatakan bahwa Ahok telah membunuh dua anak buahnya. Lalu ia mengatakan bahwa Ahok telah merekayasa kasus tersebut hingga Novel yang masuk penjara. Seharusnya, apa yang telah menjadi keputusan pengadilan, tidak usah lagi dikomentari. Ini namanya keterlaluan. Ini namanya tidak menghargai lembaga hukum. Kalau tidak percaya pengadilan, ya ngapain juga bersaksi.

    Kini. Tiga tokoh sentral FPI tengah berurusan dengan hukum. FPI akan dilelahkan dengan serangkaian upaya pembelaan. Rizieq pun mulai mengemis bantuan ke DPR agar kasusnya diselesaikan secara kekeluargaan. Sayangnya, pihak kepolisian akan meneruskan proses hukum Rizieq.

    Kini, Rizieq jadi melunak. Sepertinya ia tahu bahwa posisinya sekarang ini lemah. Malahan, MUI yang merupakan mitra kerjanya, sehingga acara aksi bela islam sukses besar, sepertinya hendak cuci tangan. Mereka yang numpang beken dari aksi bela islam pun tak kunjung bersuara membela Rizieq.

    Kini, Rizieq seperti sebatang kara. Yang harus menghadapi sebelas aduan tersebut dengan ikhlas dan lapang dada. Ia pun, kini, tak ragu-ragu mengemis ampunan yang dalam bahasa kerennya ia sebut sebagai dialog. Padahal, dalam kasus Ahok, mana mau Rizieq dialog.

    Kini, FPI bagai tubuh tanpa kepala. Ia seperti “kecoa” yang mampu hidup berhari-hari, tapi tak tahu harus kemana. FPI sedang menghadapi detik-detik akhir kehidupannya. Menteri, ratu, dan rajanya tengah terancam. FPI berpotensi besar  di-“skakmat”. Padahal, bidak-bidaknya masih banyak. Tapi, apalah artinya bidak. Sepuluh bidak pun takkan mampu melawan pengorbanan si kudah putih (Ahok).

    Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah.


    Oleh : Muhammad Nurdin Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Rizieq, Munarman, dan Novel Berurusan dengan Hukum: Skakmat untuk FPI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top