728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 18 Januari 2017

    Petinggi Partai Banteng Marah, Nyali Rizieq Langsung Menciut

    Jakarta, Warta.co - Narasi seorang Rizieq Shihab adalah ledakan amarah, caci maki dan hujatan. Sepanjang hidup mendengarnya bicara yang kudengar adalah klaim kebenaran mutlak dirinya. Dirinya adalah penafsir tunggal atas semua persoalan kebangsaan. Setiap ocehan dan koar koarnya adalah sabda kebenaran. Yang lain pasti salah maka harus dihujat dan dicaci maki.

    Dimatanya, seseorang bisa dihina kapan saja. Entah di mimbar khotbah atau mimbar mobil komando. Tiada satupun manusia yang berbeda pikiran dengannya mendapat ucapan apresiasi. Semua yg berseberangan dengannya menjadi musuh.

    Teranyar, Putri Proklamator, Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri juga jadi sasarannya. Sasaran pikirannya yang menjadi hakim dalam memutuskan bahwa pidato Megawati saat Ultah PDIP 10 Januari lalu menista agama.

    Setiap sabda kata yang keluar dari mulut Rizieq adalah kata mutiara bagi pengikutnya. Sabdanya adalah kata suci yang steril salah dan keliru. Maka ucapan Mega adalah dosa di mata Rizieq. Melanggar hukum. Wajib dilaporkan. Jika tidak meminta maaf, Mega akan dilaporkan ke polisi. Itu ultimatum Rizieq.

    Maka untaian kata hina, caci maki sumpah serapah adalah syair indah di telinga pengikutnya. Rizieq seolah berada di ruang hampa yang bebas sebebas bebasnya bertutur tentang apa saja. Tidak peduli di ruang lain ada anak bangsa yang terluka dan terhina akibat ucapannya.

    Rizieq menganggap orang lain pantas dikata katai apa saja. Rizieq merasa dirinya di atas orang lain. Seakan pribadi yang spesial bak raja raja abad pertengahan yang setiap batuk atau bersinnya adalah sabda pandito ratu.

    Rizieq keterusan berlaku dan bertutur angkuh. Hingga pada titik singgung paling ekstrim, Srikandi Banteng yang sedang bertapa mengeluarkan asap dari hidungnya. Srikandi Banteng itu mendengus. Sang Banteng keluar kandang. Tapa bratanya terganggu. Kaki Sang Banteng pasang kuda kuda. Ikan bawal ikan teri, ente jual ana beli.

    Narasi kepongahan Rizieq berbalik 180 derajat. Mak Banteng ini bukanlah Gus Dur yang lebih menuruti mengalah daripada bertumpah darah. Mak Banteng adalah banteng sejati. Sejarah panjang hidupnya sudah begitu memerah. Tak ada warna lain dalam jiwanya selain merah semerah darah. Merah adalah keberanian.

    Tidak tanggung tanggung, Mak Banteng yang punya kekukuhan prinsip bak batu karang, kali ini tidak pake puasa dulu sebelum bertindak. Belum hitungan jam kepongahan Rizieq menuding Mak Banteng penista agama, Mak Banteng menyiapkan alat tempurnya. Satu lawan satu. Siap berhadapan hidung ketemu hidung.

    Pada titik singgung ini, akumulasi keresahan atas ocehan Rizieq telah berada pada titik didih, titik leleh yang membuat banyak anak bangsa mendidih dan marah. Mendidih atas ocehan hinaan pantatchina dan panca gilanya. Marah atas ocehan mulutnya yang penuh provokasi kepada anak bangsa yang berbeda iman dan pikiran.

    Enough is enough. Cukup sudah. Kami muak dengan ocehanmu Rizieq. Kami muak dengan segenap provokasimu tentang revolusi atau intimidasi aksi massa.

    Jika kami diam bukan berarti takut. Jika kami memilih bekerja dan tidak menggubris ocehanmu bukan berarti kami pengecut. Kami diam karena sia sia meladeni omongan hinamu. Kami menghindar karena ada pekerjaan yang lebih penting lagi.

    Tapi ini sudah terlalu jauh tendangan lambungmu. Tendangan lambungmu sudah menabrak benteng pertahanan bangsa dan negara. Pancasila dasar negara hendak kau tenggelamkan dengan ocehan tak beradabmu. Orang yang berbeda iman denganmu kau sebut dengan kutil babi.

    Negeri ini dibingkai dengan nilai peradaban luhur. Dijahit dengan benang berwarna warni ratusan suku bangsa. Disulam dengan jarum bertorehkan ragam iman keparcayaan . Bhineka tunggal ika kata Mpu Tantular dalam kitab Kakawin Sutasoma abad ke 14.

    Pak Rizieq…cukup sudah. Bersiaplah untuk menangguk akibat yang kau sebabkan. Hadapilah dengan ksatria proses hukum. Jika kau tidak faham arti ksatria, belajarlah dengan Bung Karno yang pernah dipenjara penjajah karena ingin memerdekakan bangsanya.

    Saat ditangkap penjajah Belanda, Bung Karno membela dirinya dengan pledoi yang sangat menggetarkan di zamannya. Bung Karno menulis pledoi Indonesia Menggugat. Bung Karno tidak lari atau bersembunyi. Bung Karno tidak ngeles bilang tulisannya editan. Ia malah mengaum di benteng pertahanan penjajah meski 4 tahun penjara dia dapat hadiah dari auman jiwa merdekanya.

    Tapi kali ini, Indonesia datang untuk menggugatmu Rizieq. Ya… banyak anak bangsa menggugat kepongahanmu.

    Kami ucapkan selamat membela diri. Sembari menunggu proses hukum atasmu, kami berseru dengan doa semoga Tuhan melindungi bangsa Indonesia dari pecah belah dan adu domba.

    Salam

    Oleh : Birgaldo Sinaga (Sumber : Seword.com)
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Petinggi Partai Banteng Marah, Nyali Rizieq Langsung Menciut Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top