728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 29 Januari 2017

    Pernyataan Ruhut tentang Kasus Sylviana seperti Mengisyaratkan Sesuatu

    Kemarin malam pada diskusi di TV One mengenai debat kedua Pilkada DKI Jakarta 2017, Ruhut Sitompul mengeluarkan pernyataan yang sedap dan asam manis. Pernyataan yang sedap adalah bagi kubu nomor 2 pada perhelatan Pilkada DKI Jakarta 2017, dan yang asam manis tertuju untuk kubur nomor 1.

    Seperti yang kita ketahui, mantan politisi partai Demokrat ini kini tergabung sebagai juru bicara pasangan nomor urut 2: Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat. Ruhut yang kini telah bertransformasi menjadi pendukung setia Ahok secara full-time ini memang telah kita kenal lama di dunia perpolitikan Indonesia. Kehadirannya sebagai juru bicara pasangan nomor 2 pun tentunya sangat membantu pasangan petahana dikarenakan kemampuan komunikasi yang baik yang dimiliki Ruhut.

    Kemarin malam, Ruhut Sitompul mengeluarkan pernyataan yang menurut saya unik untuk dibahas disini. Ketika ditanya oleh host mengenai gestur jempol ke bawah dari Mpok Sylvi, Ruhut dengan cerdasnya menjawab dengan sindiran halus dan serangan tajam. Menanggapi pernyataan Ruhut, wakil dari kubu nomor 1 pun menyindir pemerintah. Mari kita baca pernyataan mereka berdua. Videonya dapat Anda tonton disini.

        “Kita ngerti lah Mpok Sylvi ini kan lagi banyak permasalahan mungkin jadi kurang fokus. Jadi kita ngerti lah. Kita nggak tahu minggu depan dia akan jadi gimana kan,” kata Ruhut

        “Itu yang saya katakan tadi, kalau Ahok badai sudah berlalu, mpok Sylvi badai akan datang. Padahal tanggal 15 sudah coblos,” ujar Ruhut.

        “Ya itu kita merasakan penggunaan kekuasaan secara semena-mena, karena seperti kasus masjid itu kan diputuskan saat Mpok Sylvi lagi Lemhannas (sedang ikut diklat), ditandatangani oleh orang lain, kemudian kalaupun ada pembengkakan biaya itu terjadi pada periode setelahnya dan kemudian juga sudah dikembalikan,” ujar wakil dari nomor 1 yang saya tidak tahu namanya.

        “Kasus pramuka itu juga keputusan ditandatangani Pak Jokowi, hanya dijalankan (oleh Sylvi). Ada kelebihannya (telah) dikembalikan. Jadi (ini) dicari-cari dan saya rasa nggak sehat buat demokrasi,” ujar wakil dari nomor 1.

    Mari kita bahas perkataan bang Ruhut. Kalau pernyataan kubu nomor 1 tidak usah dibahas lagi lah ya, karena memang udah basi yang seperti ini. Playing victim memang keahlian kubu Cikeas dari dulu, semua juga sudah hafal.

    Badai Sudah Berlalu untuk Ahok

    ‘Badai sudah berlalu’, apakah benar untuk menggambarkan situasi yang sedang dialami oleh Ahok sekarang? Badai topan yang begitu besar yang mengguncang Ahok pada akhir tahun 2016 lalu memang dikhawatirkan akan membalikkan konstelasi politik di Ibu Kota dan ini dibuktikan dari berbagai hasil survei pada bulan Desember 2016 dimana pasangan petahan ini sangat tergerus elektabilitasnya.

    Kasus penodaan agama yang dituduhkan kepadanya dan memaksanya untuk bersidang di pengadilan setiap minggu memang awalnya sangat mengkhawatirkan bagi saya. Saya sempat kehilangan kepercayaan kepada negeri ini yang memaksa seorang Ahok untuk duduk di kursi pesakitan itu. Rasa keadilan di dalam hati saya begitu terusik ketika terjadi demonstrasi 411 dan langit saya rasanya runtuh ketika Ahok dijadikan tersangka.

    Mungkin memang benar kata pepatah bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya, terutama sakit hati karena putus cinta (hahaha). Seiring berjalannya waktu dan berbagai kesalahan yang dilakukan oleh pihak yang kontra Ahok baik di luar ataupun di dalam persidangan, kini memang rasanya angin keadilan sedikit mulai sedikit berhembus ke arah Ahok. Dengan FPI yang mulai lemah, pengungkapan berbagai fakta di persidangan, dan juga tindakan-tindakan cerdas dari Kepolisian RI, memang sekarang rasa-rasanya kita semakin yakin bahwa Ahok dapat terbebas dari tuduhan ini.

    Namun, saya tidak ingin terlalu jumawa jika mengingat kualitas peradilan di negeri ini. Lihat saja bagaimana seorang hakim MK yang terhormat sekalipun ternyata tertangkap korupsi, bagaimana mungkin tidak akan mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap integritas sistem peradilan kita? Ditambah lagi, saksi-saksi ahli yang dari jaksa yang dapat kita pastikan akan memberikan keterangan yang merugikan Ahok pun belum dihadirkan.

    Jadi sebenarnya bagi saya belum benar-benar dapat dibilang badai sudah berlalu, hanya saja kekuatan perputaran badai anginnya mulai melemah dan kubu nomor 2 yang memang tidak bersalah jadi terlihat lebih kokoh. Tapi saya setuju jika dikatakan masa-masa kritis sudah berlalu.

    Badai Akan Datang untuk Sylvi

    ‘Badai akan datang’, apakah benar untuk menggambarkan situasi yang sedang dialami oleh mpok Sylvi sekarang? Badai topan yang begitu besar yang dapat kita lihat dari jauh sekarang memang sepertinya sudah dekat. Jika badai itu benar-benar menghajar mpok Sylvi, dikhawatirkan akan mengubah konstelasi politik di Ibu Kota ini.

    Seperti yang kita ketahui, kasus dugaan korupsi pembangunan Masjid Al-Fauz dan kasus dugaan dana bansos pramuka yang katanya melibatkan Sylviana Murni telah dinaikkan statusnya ke penyidikan baru-baru ini. Artinya, tindak pidana berupa penyelewengan penggunaan anggaran atau bantuan telah ditemukan. Sekarang tinggal dicari siapa yang harus bertanggung jawab, siapa yang harus menjadi tersangka.

    Ketika dinaikkan ke penyidikan, ibaratnya hembusan angin ketika tahap penyelidikan yang awalnya dikira sepoi-sepoi dan akan menggelitik saja ternyata adalah sebuah badai topan yang besar yang belum diketahui akan berjalan ke arah siapa. Jika berjalan ke arah mpok Sylvi, ya game over untuk nomor 1, karena sentimen masyarakat kita sangat buruk untuk para koruptor.

    Menurut bang Ruhut, badai akan datang untuk mpok Sylvi. Apakah mengisyaratkan sesuatu? Kok bang Ruhut tahu sebelum badai benar-benar datang menghantam?

    Nggak Tahu Minggu Depan Sylvi Akan Jadi Gimana

    Bang Ruhut berkata bahwa ‘kita nggak tahu minggu depan dia (Sylvi) akan jadi gimana’. Entah ini hanyalah sebuah candaan dari seorang Ruhut Sitompul ataukah pernyataan yang mengisyaratkan sesuatu.

    Yang saya ketahui, sebelum diumumkan oleh polisi pun, hasil penyelidikan polisi kadang-kadang memang kerap bocor duluan. Ya ini karena koneksi polisi dengan wartawan, atau karena laporan kepada atasan penyidik, atau karena komunikasi di belakang layar. Pada malam sebelum Ahok diumumkan jadi tersangka pun saya sudah melihat beberapa ‘bocoran’ di Twitter yang entah hanya tebakan belaka atau memang informasi non-resmi yang telah dikomunikasikan terlebih dahulu kepada sebagian pihak.

    Karena sudah dinaikkan menjadi penyidikan, kini penyidik (polisi) tinggal mencari bukti-bukti yang cukup untuk menjerat tersangka, yang tentunya kita belum tahu siapa. Tapi pernyataan dari bang Ruhut ini membuat saya berimajinasi, jangan-jangan minggu depan akan ada yang jadi tersangka? Tidak tahu ya, karena perkataan bang Ruhut tidak jelas, ya akhirnya imajinasi saya kemana-mana. Hahaha.

    Komentar Penutup

    Bang Ruhut, kasitau saya lah sebenarnya maksudnya pernyataan bagian ini hanya bercanda saja atau spekulasi pribadi saja atau memang sudah ada kabar sayup-sayup terdengar oleh Anda?

    Apapun itu, terima kasih ya bang Ruhut atas pernyataannya yang telah menginspirasi saya untuk menulis tulisan ini. Saya berharap Pak Ahok yang kita dukung bersama akan dapat terus berdiri kokoh dan tegar hingga sang badai benar-benar berlalu.

    Dari sebatang pohon yang ingin berdiri kokoh dan tegar di tengah badai dan topan………

    Penulis : Power Aryanto Famili  Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pernyataan Ruhut tentang Kasus Sylviana seperti Mengisyaratkan Sesuatu Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top