728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 22 Januari 2017

    Panahan Presiden Jokowi dan Arahannya Bagi Pilkada DKI

    Jakarta, Warta.co - Joko Widodo, atau yang biasa disapa sebagai Jokowi memang merupakan sosok yang dibutuhkan zaman. Secara khusus di Indonesia, setelah 10 tahun bangsa ini dipimpin oleh sekelompok orang, yang bisa kita katakan, telah membuat Indonesia jalan di tempat (atau bahkan mundur); Pakde hadir bagai sebuah oase yang muncul untuk menyegarkan kembali semangat masyarakat Indonesia.

    Sikap skeptis dan apatis yang sebelumnya muncul terhadap pemerintah, karena era pemerintahan yang sebelumnya cenderung lepas tangan, sekarang mulai berangsur-angsur pulih. Banyak orang yang tadinya bersikap apolitis, sekarang mulai melihat bahwa ada harapan pada pemerintahan yang baru.

    Foto Presiden Jokowi Pada Salah Satu Transportasi Massal di London, Terpampang Bersama Tokoh-tokoh Internasional.

    Jokowi dan Nasihat Seorang Abdi Negeri

    Pakde ini orang yang sangat menarik, dan salah satu yang menarik dari diri beliau adalah gaya komunikasi politiknya. Beliau biasa menggunakan gambaran-gambaran dari kehidupan masyarakat umum untuk menyampaikan pesan yang jelas, sederhana, namun kuat dan mendalam. Baru-baru ini ada pesan yang menarik lagi dari tindak-tanduk Pak Presiden RI yang ketujuh ini.

    Pesan ini disampaikan beliau setelah mengikuti Kejuaraan Panahan Terbuka 2017 di Bogor[1]. Berikut ini saya tampilkan gambar dari pesan beliau melalui Facebook resmi milik Presiden:


    Pesan Presiden Setelah Mengikuti Perlombaan Panahan di Bogor (22/01/2017).
    Sumber: Akun Facebook Presiden, status terverifikasi.

    “Tapi memang begitulah sebuah kompetisi. Latihan dan bertanding harus dimulai sejak usia dini. Bukan seperti saya yang baru berlatih di usia 50-an.”, demikian tuturnya. Tidak mungkin muncul sebuah prestasi tanpa ada upaya yang konsisten di dalam membangunnya. Latihan panjang selama delapan bulan saja belum cukup, apalagi yang dadakan; kira-kira begitu pesan implisit dari beliau. Sama seperti pekerjaan lainnya, semua harus dibangun dari bawah supaya punya pemahaman, penguasaan dan kecakapan yang cukup untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar.

    “Panahan, sebagaimana pekerjaan apa pun, membutuhkan fokus dan konsentrasi. Dan yang terpenting dalam setiap kegiatan targetnya harus jelas.”, begitu sambung Pakde. Dari sini saya menariknya kepada sudut pandang sebagai seorang abdi Negara. Sebagai pimpinan tertinggi di Republik ini, suara Pakde merupakan suatu nasihat bagi setiap jajaran dan birokrat di bawahnya. Langsung terbayang di dalam benak saya sebuah parafrase dari kalimat Pakde. Kalau mau jadi abdi Negara, fokus dan konsentrasilah pada upaya memajukan masyarakat. Abdi itu mengabdi, sehingga targetnya jelas, bukan untuk diri pribadi, bukan untuk keluarga maupun dinasti, melainkan masyarakat dan bangsa yang dibangun.

    Pakde sadar, dan harusnya ini pun menjadi kesadaran bagi semua orang. Bahwa segala sesuatu yang baik harus dibangun sedari dini, sedari pondasinya. Segala sesuatu yang dibangun secara instan hasilnya pasti tidak akan terlalu baik. Ini pemahaman yang universal sebenarnya, tetapi seringkali demi keuntungan pribadi atau golongan tertentu, pemahaman yang sedehana ini seringkali dikebiri.

    Pemimpin yang Tulus Bukan Pemimpin yang Instan dan Karbitan
    Bicara soal kepemimpinan, terutama di dalam konteks birokrat di Negara kita, pemimpin yang tulus selalu memulainya dari tingkat akar rumput. He start from the very humble beginning. Tangga kepemimpinan Pakde sebagai seorang Presiden dimulai sedari ia masih seorang tukang kayu[2]. Tergerak oleh kondisi kota Surakarta yang begitu tertinggal ketimbang kota-kota yang lain, beliau menjejakkan langkahnya dengan mantap untuk mengabdi sebagai walikota Solo pada saat itu. Ini baru motivasi seorang abdi negeri. Dua periode kota Solo dipimpin beliau. Dari pilkada pertama yang hanya dimenangi dengan perolehan suara 36,62%, pada periode kali kedua, kemenangan beliau langsung melejit menjadi 90,09%[3].
    Presiden Joko Widodo Menjadi Narasumber di Brookings Institution, salah satu institusi think-tank berpengaruh di AS (2015).

    Kita melihat di sini, jikalau memang serius mau mengabdi, dan motif pengabdian itu memang bagi kemajuan Ibu pertiwi, maka mulailah dari bawah; dan bukan hanya pada saat sedang pilkada. Jikalau seseorang memang sungguh-sungguh memikirkan perbaikan nasib masyarakat, masyarakat pasti akan mengakui. Inilah mengapa saya katakan Pakde dibutuhkan zaman, sebab keteladanan beliau mengembalikan identitas dan kualitas seorang abdi kepada tempatnya yang asali.

    Melihat konstelasi politik saat ini di DKI Jakarta, to the point saja, saya prihatin dengan Mas Agus. Karirnya cemerlang di dunia kemiliteran, namun dibunuh oleh keluarga sendiri. Agus memang belum siap untuk gubernur sekelas DKI. Kita semua tahu bagaimana keputusan dimajukannya Agus untuk pilgub DKI hanya ditentukan dalam beberapa hari. Saya tidak meragukan kepemimpinan Agus pada bidang kemiliteran, tetapi menjadi gubernur merupakan suatu bidang yang berbeda. Maka dari itu, tidak heran pemaparan-pemaparan konsep dan peta kerja dari Agus masih mengapung. Ini semua karena terlalu terburu-buru. Tapi, apa mau dikata? Semua sudah terjadi, dan pilkada sedang berjalan.

    Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword.com), mari memilih pemimpin yang sudah teruji ketulusannya dalam mengabdi. Yang untung adalah Anda, masyarakat sendiri. Sebab, pilkada DKI itu bukan hanya soal bagaimana lima tahun ke depan, melainkan bagaimana arah kemajuan bangsa untuk hari-hari yang akan datang; dan arah kemajuan itu ditentukan dari seberapa bijak masyarakatnya di dalam menentukan siapa abdi Negara yang cakap.

     Oleh :  Nikki Tirta Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Panahan Presiden Jokowi dan Arahannya Bagi Pilkada DKI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top