728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 22 Januari 2017

    Pak Din Syamsuddin, Mau Bela Habieb Rizieq atau ….?

    Bela Kepentingan Umum Atau Kepentingan Pribadi dan Golongan?

    Prof. Dr. KH. Sirajuddin Muhammad Shamsuddin, or known as Din Syamsuddin (born in Sumbawa, West Nusa Tenggara, August 31, 1958, age 56 years), is an Indonesian politician and formerly the Chairman of Muhammadiyah for two terms from 2005 to 2010 and 2010 to 2015. His wife was named Fira Beranata, and has 3 children. He was entrusted to the Chairman of the Indonesian Ulema Council Center, who previously served as Vice Chairman of the Indonesian Ulema Council replaces Center Dr (HC). KH. Sahal Mahfouz, who died on Friday, January 24, 2014. 

    Itulah kalimat yang pertama kali muncul ketika saya coba bertanya kepada kakek google.com siapa Din Syamsudin sebernarnya. 

    Mengapa saya tertarik membahas nama ini, yang tidak lain adalah Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Jadi ceritanya begini sodare…(gaya HRS alias Hebron Rio Sidabutar)
    Rabu 18 Januari 2017 kemarin di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar rapat pleno ke-14 dengan tema “Kerja Sama Ulama-Umara untuk Kemajuan Bangsa”. Adapun tujuan rapat itu adalah mencari solusi atas maraknya pertentangan yang terjadi antar kelompok masyarakat. Baca baik-baik “Maraknya pertentangan yang terjadi antar kelompok kelompok masyarakat”
     
    Sementara kesepakatan yang diambil adalah meningkatkan komunikasi dengan pemerintah dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan masalah kebangsaan. Din mengakui, selama ini komunikasi yang berjalan hanya terjadi pada tingkatan antar individu, sedangkan pada tingkat kelembagaan belum maksimal.
     
    “Kita ingin dialog, ulama dan umara (pemerintah) terutama mencari solusi terhadap masalah terkini, masalah kebangsaan kita akhir-akhir ini menampilkan adanya pertentangan di tubuh bangsa ini,” ujar Din.
     
    Din menuturkan, pertentangan antar-kelompok yang terjadi mengakibatkan posisi umat Islam menjadi terpojok dengan adanya anggapan anti-keberagaman pascaaksi unjuk rasa pada 4 November 2016.
     
    Sementara pemerintah dianggap lamban dalam memroses kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Keadaan tersebut semakin diperparah dengan adanya ketidakadilan dalam bidang ekonomi.
     
    Menurut Din, perekonomian umat Islam pada umumnya sedang terpuruk. Sementara pemerintah dinilai terlalu memberikan keistimewaan kepada pemodal besar dan konglomerat.
     
    “Saya simpulkan dan sebagian anggota wantim berpendapat sama. Umat Islam saat ini merasa terpuruk, tertekan dan tertuduh. Umat Islam mengalami ketidakadilan,” kata dia.
     
    Oleh sebab itu, Din meminta agar semua pihak, khususnya pemerintah, memandang umat Islam yang diwakili ormas Islam sebagai kekuatan strategis untuk membangun Indonesia.
     
    Dia juga mengingatkan bahwa ormas Islam menjadi bagian dari proses berkebangsaan melalui gerakan kultural. “Lewat dialog ini harus disadari umat Islam perlu diperlakukan secara berkeadilan,” kata Din.
    Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Nazaruddin Umar berharap jarak antara komponen negara bisa dihindari dengan jalan dialog. Dia memastikan MUI akan menjadi lembaga keagamaan yang menjunjung kemajemukan. “Kami berharap jarak antara komponen bangsa makin dekat. Dialog antar komponen bangsa bagus untuk cairkan kebekuan. MUI akan menjadi titik peleburan segala perbedaan,” ujarnya. Sumber berita kompas.com

    Ketika saya membaca berita ini ada rasa gimana gitu sama bapak yang satu ini, apakah termasuk golongan yang harus diwaraskankah atau wariskan. Pertanyaan saya mungkin sederhana, ketika negeri ini ribut oleh karena ulah FPI dan MUI yang selalu menebarkan kebencian dan intoleransi antar umat beragama dimana bapak ini berada? ketika MUI dengan segala kepongahannya mengkafirkan yang tidak sepaham dengan mereka dimana bapak ini berada? Ketika Rizieq si iman besar bersama laskarnya melakukan tindakan-tindakan yang intoleran dimana bapak berada? Sebagai Dewan Pertimbangan MUI yang nota bene jam terbang bapak itu sudah sampai ke ujung dunia bukankah seharusnya bertindak sebagai negarawan yang berdiri diatas semua golongan??

    Saya akhirnya jadi suuzon dengan beberapa pernyataan bapak ini “Saya simpulkan dan sebagian anggota wantim berpendapat sama. Umat Islam saat ini merasa terpuruk, tertekan dan tertuduh. Umat Islam mengalami ketidakadilan,” Umat Islam yang mana yang terpuruk itu menurut bapak? Umat Islam yang mana lagi yang mengalami ketidakadilan itu? Apakah karena si Imam besar sudah mulai tidak berdaya lagi? Atau apakah karena gagal menjatuhkan presiden??

    Din juga meminta agar semua pihak, khususnya pemerintah, memandang umat Islam yang diwakili ormas Islam sebagai kekuatan strategis untuk membangun Indonesia. Jika boleh memakai matematika berhitung emang sudah berapa banyak ormas Islam yang tidak dipandang oleh pemerintahan Jokowi? Bahasa kasarnya barang kali seperti ini, emang sudah berapa banyak ormas Islam yang dibekukan oleh pemerintahan Jokowi sehingga pemerintah harus “memandang” ?

    Ahhh… sudahlah… sudah larut malam, terlalu banyak yang ingin saya tuliskan, akan saya biarkan para pembaca seword menganalisa, beropini dan berkomentar tentang semua pernyataan-pernyataan ini. Mungkin tidak perlu Analisa System ala IT seword.com untuk memahaminya

    Salam kura-kura

    Oleh :  Sidabutar Hebron  Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pak Din Syamsuddin, Mau Bela Habieb Rizieq atau ….? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top