728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 23 Januari 2017

    MUI Bicara Merawat Kemajemukan, Fatwanya Malah Buat Perpecahan

    Ketua MUI Dr. KH Maruf Amin, dan Sekretaris MUI, Asrorum Niam, saat konpers tentang Gafatar di Kantor MUI, Jakarta, 3 Februari 2016. TEMPO/Amston Probel
    Jakarta, Warta.co - Majelis Ulama Indonesia (MUI), kembali menyuarakan wacana dialog nasional atau rujuk nasional. Entah kebetulan atau tidak, pernyataan ini sama dengan yang disuarakan oleh Rizieq Shihab yang juga minta dialog dan mediasi karena terdesak oleh banyaknya kasus yang menjeratnya. Hal ini disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin.

    “Tujuannya adalah meluruskan kesalahpahaman itu,” tutur Ma’ruf, yang juga Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

    MUI berniat akan memprakarsai dialog dan rujuk nasional karena tidak direspon dengan baik oleh pemerintah. MUI sepertinya ingin agar semua kembali kepada pemahaman yang utuh dan tidak ada lagi salah paham. Melalui rujuk nasional ini MUI juga akan berharap kemajemukan bisa terus dirawat.

    “Kita sama-sama merawat kemajemukan,” katanya.

    Benarkan rujuk nasional adalah solusi untuk memperbaiki kondisi yang sudah terjadi saat ini?? Bukankah hukum adalah panglima dan solusi yang tepat agar tidak ada lagi ormas atau sekelompok orang yang semena-mena dan menginjak-injak kemajemukan. Jangan terlalu banyak dialog kalau hukum tidak ditegakkan.

    Rujuk nasional juga bukan berarti kasus hukum menjadi diabaikan. Kasus Ahok tetap jalan, kasus Rizieq juga tetap jalan. Supaya tidak ada lagi sekelompok masyarakat yang menganggap diri paling benar dan bisa main hakim sendiri atas nama mayoritas. Kemajemukan harus dipahami dalam konteks Mayoritas melindungi Minoritas, dan Minoritas mengharmati Mayoritas.

    MUI juga harus konsisten dalam konteks merawat kemajuemukan. Kalau bisa buat Fatwa untuk merawat kemajemukan untuk dipatuhi oleh GNPF MUI yang dianggap sebagai kumpulan orang anti kemajemukan. Bahkan dengan memesan Fatwa, mereka punya legalitas untuk melakukan sweeping ke mall dan pusat perbelanjaan melarang pemakaian topi santa yang diklaim sebagai atribut keagamaan.

    MUI harus proaktif untuk memberi pendapat keagamaan yang menyejukkan dan mendamaikan serta memprioritaskan tabayyun supaya tidak terjadi lagi kasus seperti Ahok yang mengancam kemajemukan. Tanpa minta penjelasan Ahok dan tanpa memberikan sebuah peringatan MUI sudah mendakwa Ahok menistakan Islam. Sebuah tindakan keliru dan malah mengancam kemajemukan.

    Kalau memang tidak suka dengan Ahok, MUI tidak perlu terikut dengan suasana politik dan dipakai sebagai alat untuk memperkeruih suasana. MUI harus menjadi penyejuk dan pendamai supaya tidak terjadi lagi masalah seperti saat ini. Itu adalah tindakan yang lebih tepat dibandingkan dialog dan rujuk nasional yang kurang solutif dan praktis.

    Semoga saja ke depan MUI, kalau memang serius ingin merawat kemajemukan, menjadi garda utama mencegah ormas Islam anarkis yang mendompleng MUI dengan nama GNPF berbuat kericuhan nasional. Jangan lagi ikut-ikutan menjadi pihak yang memperkeruh suasana dan tidak mendamaikan.

    Salam Kemajemukan.


    Penulis : Palti Hutabarat   Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: MUI Bicara Merawat Kemajemukan, Fatwanya Malah Buat Perpecahan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top