728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 22 Januari 2017

    Merongrong Pancasila dan Indonesia? Hadapi Dulu NU!

    Jakarta, Warta.co - Membela NKRI, membela Pancasila dan mengawal konstitusi Indonesia adalah jihad menurut NU. Bagi NU, Pancasila dan NKRI adalah harga mati yang tidak bisa di tawar kembali. NU memahami betul bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Bahkan, sebelum agama Islam ada di Indonesia, sebelum agama Hindu dan Buddha ada di Indonesia, Indonesia sudah majemuk dengan kebudayaan dan sukunya. Ketika Islam hadir di Indonesia, Islam merawat itu. Menjadikan budaya sebagai basis dakwah, sehingga yang terlihat dakwah penuh dengan damai.

    NU tahu betul Indonesia. NU adalah organisasi Islam Ahlussunnah Wal Jamaah yang corak pemikirannya khas Indonesia. Kenapa bisa demikian? Karena slogan NU adalah “Meneruskan ajaran Wali Songo.” Wali songo adalah para penyebar Islam yang damai di Indonesia. Mereka menggunakan kebudayaan untuk dakwahnya, sehingga dakwahnya menjadi lembut dan mampu diterima di masyarakat. Wali Songo ketika berdakwah tidak menghilangkan kultur asli bangsa Indonesia, justru Wali Songo mewarnai dengan Islam. Sehingga NU berdakwah menggunakan metode Wali Songo yang penuh dengan kedamaian dan toleransi.

    Sekarang kelompok yang berdakwah di Indonesia hamper rata-rata menggunakan politik. Politiknya juga adalah politik khas Timur Tengah, yang ingin mendirikan Negara Islam, bahkan Islam ingin dilegalkan. Sehingga, terkadang dakwahnya terlihat keras dan berusaha menaklukkan daerah lain. Bahkan mereka ingin Indonesia menjadi Negara Islam. Hal ini berbeda dengan konsep Wali Songo yang tidak melegalkan Islam. Islam dijadikan sebagai pedoman hidup tanpa harus dilegalkan, sehingga Wali Songo ketika dakwah lebih mengambil inti sari dari Islam. Jarang Wali Songo berdakwah dengan membawakan dalil dan ayat, melainkan dengan memainkan wayang dan syair syair yang menunjukkan perbuatan yang dilarang dan di puji dalam Islam.

    Dalam sejarah, sebelum Indonesia merdeka, NU tidak pernah ada niatan mendirikan Negara Islam di Indonesia, apalagi melegalkan Islam sebagai konstitusi. NU memahami bahwa, istilah Negara Islam tidak pernah ada di dalam Al-Quran, Hadis dan Kitab Fiqih klasik. Itu ada karena politik Islam yang pada waktu itu menguasai sebagian Eropa dan Asia. KH. Said Agil Siradj juga menegaskan bahwa ketika mukhtamar NU di Banjarmasin 1936, NU mempunyai konsep Darus Salam (Negeri yang aman dan damai), bukan Darul Islam (Negara Islam). Indonesia sudah aman dan damai itu sudah bagus, Islam bisa berkembang di Indonesia jadi tidak perlu lagi menjadi Negara Islam.

    Saat Indonesia telah merdeka, NU setia mengkawal Pancasila dan UUD 45. Bahkan, panitia sembilan salah satunya adalah KH. Wahid Hasyim, anak dari KH. Hasyim Asyari pendiri NU. Hal ini menjelaskan, bahwa Pancasila adalah hasil rumusan anggota NU. Maka, NU terus akan mengawal Pancasila sampai hari kiamat.

    KH. Ahmad Shidiq yang pada waktu itu menjadi Rasi Aam PBNU juga menegaskan bahwa Pancasila adalah final, tidak perlu dirubah rubah, dikurangi atau ditambahi. Kemudian ini diteruskan oleh KH. Said Agil Siradj dan Habib Lutfi bin Yahya yang terus mendengungkan nasionalisme di tengah-tengah masyarakat.
    Pada bulan 17 Januari 2016, NU mengadakan apel kebangsaan lintas iman di lapangan banteng Jakarta Pusat dan berikrar setia untuk NKRI, adapun ikrarnya,
    1. Setia mempertahankan Pancasila sebagai ideologi final sebagai bernegara dan bernegara di Republik Indonesia
    2. Setia menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI menghormati keberagaman suku, agama, ras dan budaya dan siap bersama-sama menjunjung tinggi persatuan dalam kebhinekaan dan perdamaian dunia
    3. Setia mengamalkan prinsip sikap toleran menjaga kerukunan serta mewujudkan tatanan kehidupan yang berprikemanusiaan dan berpri-keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia
    4. Menolak segala bentuk terorisme, radikalisme dan paham ekstrim lainnya serta senantiasa waspada dan bersiap-siap melawan segala bentuk ancaman yang berpotensi memecah belah bangsa
    5. Menyatakan perang terhadap narkoba yang nyata-nyata merusak karakter fisik dan mengganggu daya saing generasi penerus bangsa
    Dari adanya Ikrar lintas iman ini, NU dan seluruh elemen masyarakat apapun agamanya dan sukunya, setia kepada Pancasila dan anti narkoba. Maka jika ada kelompok yang ingin mengubah Pancasila dan dan mengancam kedaulatan Indonesia, NU siap untuk menghadapinya. Silahkan kalian kesana kemari memfitnah Ulama NU sebagai Ulama liberal, sesat bahkan kafir.

    Tapi jika sudah mengancam dan merongrong Pancasila, NU tidak akan diam, apalagi dengan slogan-slogan syariat Islam versi mereka. Pancasila sudah final tidak perlu dirubah biarkan negara dan agama jalan bergandengan tangan apapun agamanya itu berhak hidup di Indonesia.

    Oleh :  Ardi Yansyah Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Merongrong Pancasila dan Indonesia? Hadapi Dulu NU! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top