728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 04 Januari 2017

    Menelaah Isi Buku Ahok "Merubah Indonesia" Sebagai Barang Bukti FPI

    Jakarta, Warta.co - Pada saat persidangan keempat kasus dugaan penistaan agama dengan tersangka Calon Petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Para petinggi Front Pembela Islam (FPI) mengajukan barang bukti berupa buku berjudul "Merubah Indonesia" untuk meyakinkan hakim bahwa Ahok telah menistakan agama Islam sejak 2008 ketika buku itu terbit.

    Buku itu, yang ditulis terdakwa sendiri, secara garis besar berisi biografinya dari masa kecil di Belitung Timur, dorongan orangtuanya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin, dan keputusannya yang berani untuk terjun ke dunia politik meskipun banyak ditentang orang-orang dekatnya.

    Akan tetapi yang menjadi fokus para anggota FPI yang dihadirkan jaksa sebagai saksi adalah halaman 40, di mana Ahok menyebut ayat 51 surat Al Maidah dalam Alquran.

    Mantan Bupati Belitung Timur tersebut menjadi terdakwa kasus penistaan agama gara-gara menyebut ayat yang sama dalam sebuah pertemuan dengan warga di Kepulauan Seribu akhir September 2016 dan setelah demonstrasi ratusan ribu orang di ibu kota pada November dan Desember lalu.

    Sekretaris Jenderal Dewan Syuro FPI Jakarta Novel Chaidir Hasan mengatakan halaman 40 buku itu merupakan bukti bahwa Ahok telah "menyerang Al Maidah", setelah usai bersaksi di persidangan, Selasa 3 Januari 2016.

    Apakah benar Ahok telah menyerang Al Maidah 51, atau menyerang para lawan politiknya yang menggunakan ayat itu untuk menyingkirkan dia?

    Berikut ini kutipan-kutipannya.

    -----

    Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti pemilu, kampanye pemilihan bupati, bahkan sampai gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan "roh kolonialisme".

    Ayat itu sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elite karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung di balik ayat-ayat suci itu agar rakyat dengan konsep "seiman" memilihnya.

    -----

    Ahok memang menyebut Al Maidah 51 sebagai senjata elite politik yang beragama Islam, namun juga menyebutkan elite politik yang beragama Kristen menggunakan surat Galatia 6:10 untuk tujuan yang sama.


    Basuki Tjahaja Purnama bersama mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam foto tahun 2007.

    Dari oknum elite yang berlindung di balik ayat suci agama Islam, mereka menggunakan surat Al Maidah 51. Isinya, melarang rakyat menjadikan kaum Nasrani dan Yahudi menjadi pemimpin mereka. Intinya, mereka mengajak agar memilih pemimpin dari kaum yang seiman.

    Padahal, setelah saya tanyakan ke teman-teman saya, ternyata ayat ini diturunkan pada saat adanya orang-orang Muslim yang ingin membunuh Nabi Besar Muhammad SAW dengan cara membuat koalisi dengan kelompok Nasrani dan kelompok Yahudi di tempat itu. Jadi, jelas bukan dalam rangka memilih kepala pemerintahan karena di NKRI kepala pemerintahan bukanlah kepala agama/imam kepala.

    -----

    Dalam sebuah wawancara salah satu tv swasta Beritasatu News Channel, pada tanggal 3 November 2016, Ahok mengatakan salah satu teman yang pernah dia tanya pendapatnya soal itu adalah mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

    Kutipan lain soal elite politik penganut Kristen yang juga memakai ayat suci untuk berpolitik:

    -----

    Bagaimana dengan oknum elite yang berlindung di balik ayat suci agama Kristen. Mereka menggunakan ayat di surat Galatia 6:10. Isinya, selama kita masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

    Saya tidak tahu apa yang digunakan oleh oknum elite di Bali yang beragama Hindu, atau yang beragama Buddha. Tetapi saya berkeyakinan, intinya pasti, jangan memilih yang beragama lain atau suku lain atau golongan lain, apalagi yang rasnya lain. Intinya, pilihlah yang seiman/sesama kita (suku, agama, ras, dan antar golongan). Mungkin, ada yang lebih kasar lagi, pilihlah yang sesama kita manusia, yang lain bukan karena dianggap kafir, atau najis, atau binatang!

    -----

    Kalau hanya melihat dari tulisan ini, Ahok secara gamblang mengatakan "oknum-oknum elite" yang menggunakan ayat-ayat suci dalam agama -- entah Islam, Kristen atau yang lainnya -- untuk meraih kekuasaan.

    Dia tidak menuliskan atau mengisyaratkan bahwa Al Maidah 51 atau Galatia 6:10 jelek atau salah, tetapi bahwa ayat itu disalahgunakan "oknum-oknum elite" politik.

    Benar tidaknya tuduhan FPI terkait isi buku ini hanya satu bagian saja dari persidangan Ahok yang akan menjadi bahan pertimbangan majelis hakim.

    Secara prosedur, lima anggota majelis hakim kasus Ahok bisa menerima atau menolak barang bukti yang diajukan saksi dan jaksa, namun hal itu baru bisa diketahui saat pembacaan vonis nanti.
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menelaah Isi Buku Ahok "Merubah Indonesia" Sebagai Barang Bukti FPI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top