728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 24 Januari 2017

    Melihat Sidang Ke-7 Pak Ahok Dari Kacamata Pasien DBD

        “Karena umat Islam bersaudara, Pak. Di mana pun di belahan bumi mana pun, persaudaraan itu ada. Jadi, sama rasa. Pasti sama rasa sakit yang dirasakan,” kata Asroi kepada hakim.

    Luar biasa bapak satu ini. Kalau boleh saya katakan, “Asroy geboy dah lu, Sroi!”. Generalisasi yang sangat super, saking generalisasi, ia menganggap seluruh umatnya uniform, seragam harus sama, baju harus sama, pemikiran harus sama. Wah.. Pintar sekali ini Bapak.

    Sidang ketujuh tersangka penodaan agama oleh Sang Petahana, Basuki Tjahaja Purnama semakin “tidak seru”. Darah muda saya yang awalnya mendidih mendengar berita ini, perlahan menghangat, kemudian mendingin dan normal lagi. Seketika mendengar hal ini, saya melihat bagaimana respon yang sangat bervariasi dan tidak ada habis-habisnya caci maki yang muncul.

    Dari demo yang boleh dikatakan “berhasil” karena mereka tidak buang sampah sembarangan karena takut difitnah, sampai kepada sidang pertama, tentu membuat pendukung-pendukung Sang Petahana juga khawatir. “Wah, jangan-jangan Pak Ahok bisa dipenjara nih…. Massa nya bejibun, tekanan massa juga tentu sangat tinggi karena ada kaum bumi datar yang berkumpul di satu titik, yaitu Jakarta”. Begitulah suara dalam hati kecil yang muncul.

    Sidang pertama dimulai dari nota keberatan yang disampaikan pihak tersangka, dan diresponi bermacam-macam. Air mata yang menetes dari mata Sang Petahana ke pipinya, membuat air mata-air mata lain dari pendukung ikut menetes. Sidang-sidang berikutnya (sudah tidak perlu saya jelaskan seluruhnya) semakin lama semakin lucu. Gelak tawa terhempas secara mendadak dari perut menuju mulut, dan mengisi seluruh ruangan.

    Mengapa lucu? Karena dari Fitsa Hats, lorong waktu kejadian (kejadian tanggal berapa, laporannya tanggal berapa….), sampai pencabutan tuntutan ACTA kepada Pak Ahok ini, justru menjadi sebuah hiburan bagi saya.

    Tuhan punya selera humor yang tinggi… Saking tinggi selera humor-Nya, malah Dia membuat orang-orang yang menganggap diri mereka paling rohani, rohanah, dan romahmud merasa perlu membela-Nya. Benar-benar melampaui penalaran saya. Saya sampai berpikir, mengapa Tuhan harus dibela sebegitunya?

    “Tuhan, hati-hati ya, angin malam terlalu berbahaya buat Tuhan. Tapi tidak apa-apa Tuhan, saya disini melindungiMu, saya selalu siap senjata kalau ada orang-orang yang mau mengancamMu.”

    Loh kok jadi aneh ya? Siapa disini yang playing God? Nah, dari sini pun kita sebenarnya bisa menyimpulkan bahwa kegiatan bela agama, bela Tuhan, dan sebagainya, sangatlah masuk akal. Ups, maksud saya sangatlah tidak masuk akal. Siapa yang bisa membela sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya?

        “Tuhan tidak perlu dibela, meskipun tidak tolak dibela.” – Gus Dur

    Jadi bagi saya, saya melihat kejadian ini seperti orang terkena DBD, selang waktunya 7 hari.

    Hari ke-1 dan 2: Demam mendadak tinggi dan tidak turun meski mengonsumsi obat penurun panas (Demam hanya turun sebentar, tapi kemudian naik lagi!). Anak terlihat lemas, dan menolak makan dan minum karena merasa mual. Hasil tes darah belum menunjukkan penurunan jumlah trombosit.

    Hari ke-3: Demam turun, tapi anak masih tampak lemas dan sering tidur. Tubuhnya terasa dingin. Trombositnya mulai turun.

    Hari ke-4 dan 5: Demam turun, namun anak memasuki fase kritis karena terjadi plasma leakage, yaitu keluarnya cairan plasma dari pembuluh darah akibat kebocoran pada pembuluh darah. Anak mulai menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, seperti bibir kering, jarang buang air kecil, lemas, gelisah, dan tubuhnya terasa dingin. Sekitar 50-60 persen penderita akan mengalami perdarahan pada fase ini. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa menyebabkan anak kehilangan kesadarannya, bahkan meninggal.

    Hari ke-6 dan 7: Bila fase kritis berhasil dilalui, anak akan kembali demam (sekitar 38 derajat), tapi kemudian turun lagi. Perlahan, jumlah trombosit mulai naik dan anak akan segera sembuh.

    Saya bukan kaum naturalis, tapi melalui pengertian tentang DBD, saya sangat berharap kalau kasus ini cepat lah selesai. Fase kritis sudah dilewati kok.

    Lagipula, negara ini masih banyak tugas yang perlu dikerjakan ketimbang melihat hal-hal tidak jelas dikerjakan oleh Bapak Fitsa Hats dan kroni-kroninya.

    Betul kan yang saya katakan?

    Penulis :  Hans Sebastian  Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Melihat Sidang Ke-7 Pak Ahok Dari Kacamata Pasien DBD Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top