728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 23 Januari 2017

    Masih Percaya Warga Kepulauan Seribu Tersinggung? Ini Buktinya !

    Jakarta, Warta.co - Dari awal, saya tidak percaya kalau warga Kepulauan Seribu tersinggung karena ucapan Ahok terkait surat Al-Maidah ayat 51. Meskipun kemarin-kemarin tiba-tiba ada warga Kepulauan Seribu yang mengaku ulama Kepulauan Seribu yang bernama Habib Zein Maula ‘Aidid yang mengaku tersinggung dengan ucapab Ahok. Lebih lengkapnya silahkan baca di https://seword.com/umum/tanggapan-mengapa-tiba-tiba-ulama-kepulauan-seribu-menyatakan-ahok-telah-menistakan-agama/.

    Pengakuan Habib Zein Maula ‘Aidid tentu sesuatu yang sulit diterima secara akal sehat. Apalagi dengan pengakuan yang sangat telat, tentu membuat tanda tanya besar dan kecurigaan. Jika memang Habib Zein Maula ‘Aidid tersinggung dengan ucapan Ahok, harusnya dia yang pertama kali melaporkan ke polisi, bahkan laporan itu seharusnya lebih dulu dibanding postingan Buni Yani beredar. Apalagi belakangan diketahui bahwa dia sendiri tidak menyaksikan secara langsung saat Ahok berpidato. Sungguh hanya akan menambah daftar saksi-saksi lucu dalam persidangan Ahok.

    Jika masyarakat masih ada yang percaya bahwa warga Kepulauan Seribu tersinggung dengan ucapan Ahok, mudah-mudahan secepatnya tercerahkan. Ini salah satu bukti yang akan meruntuhkan kepercayaan itu.

    Gubernur DKI Jakarta Ahok, datang ke Pulau Pramuka September 2016 lalu, untuk melihat program budidaya ikan kerapu. Basuki alias Ahok menebarkan benih ikan kerapu bersama warga di sana.

    Dia juga mengajak warga bergabung melaksanakan program Pemprov DKI tersebut. Namun, hal yang dibicarakan usai kedatangan Ahok ke Pulau Pramuka justru soal dugaan penodaan agama.

    Di pulau itu, Ahok sempat mengutip surat Al Maidah ayat 51 yang kemudian menjadikannya sebagai terdakwa kasus dugaan penodaan agama. Proses persidangannya masih berlangsung.

    Namun, bagaimana kabar program budidaya ikan kerapu itu sendiri?

    Kepala Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Kepulauan Seribu, Sutrisno, mengatakan program tersebut berkembang baik. Menurut Sutrisno, banyak masyarakat yang berminat melaksanakan program itu.

    “Banyak sekali ya, ada 18 kelompok yang sudah pengin segera dibantu untuk budidaya,” ujar Sutrisno, kepada Kompas.com, Minggu (22/1/2017).

    Satu kelompok berjumlah sekitar 10 orang. Maka, ada sekitar 180 orang yang mengikuti program budidaya ikan tersebut dan tersebar di Pulau Panggang, Pulau Pari, Pulau Tidung, serta lainnya.

    Sutrisno mengatakan, sebenarnya program ini diikuti orang per orang. Namun mereka dibentuk menjadi satu kelompok untuk bekerja sama mengurus kotak jaring di satu lokasi.

    “Nah segala fasilitasnya dari kami, termasuk pakan ikan,” ujar Sutrisno.

    Penghasilan UMP

    Sutrisno menjelaskan bahwa Pemprov DKI berupaya memberi warga penghasilan senilai UMP tiap bulannya. Oleh karena itu, jumlah kotak jaring yang mereka urus sudah disesuaikan.

    Ahok pernah menyampaikan daya tarik program ini adalah pembagian untung 80:20. Warga pulau mendapatkan 80 persen keuntungan sedangkan Pemprov DKI mendapat 20 persen.

    Pembagianya, hasil kotor dari budidaya ikan kerapu akan dikurangi biaya benih dan pakan. Setelah itu untuk warga dan untuk pengumpul modal yaitu Pemprov DKI.

    “Sarana dan prasaran enggak usah dihitung karena itu dari kami (Pemprov DKI),” ujar Sutrisno.

    Tapi, warga harus bersabar karena budidaya ikan kerapu baru bisa menghasilkan setelah sekitar tujuh bulan.

    “itulah bedanya budidaya dan tangkap. Kalau budidaya, harus kerja dulu baru membuahkan hasil yang langsung besar. Kalau tangkap, memang cepat penghasilannya tapi hari itu saja dan enggak ada kepastian,” ujar Sutrisno.

    Dorong budidaya

    Sutrisno mengatakan program ini juga mendapat bantuan dari pemerintah pusat. Sebab, pemerintah memang gencar mengajak warga melakukan budidaya ikan sejalan dengan pengetatan penangkapan ikan.

    “Kalau menangkap ikan itu sudah kami atur, misalnya penggunaan alat tangkap berbahaya kami larang. Boleh tangkap, tapi tidak merusak lingkungan,” ujar Sutrisno.

    Sutrisno menuturkan, budidaya ikan akan menjadi tren di Kepulauan Seribu.

    Ahok sudah menebar benih ikan kerapu saat berkunjung ke sana pada November 2016.

    Jika lancar, ikan kerapu bisa dipanen sekitar 6 atau 7 bulan setelahnya yaitu Mei atau Juni 2017. Ahok ingin ikut memanen ikan kerapu bersama warga pulau.

    http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/23/06285081/apa.kabar.budidaya.kerapu.yang.ditawarkan.ahok.di.kepulauan.seribu.

    Logika sederhana, jika memang warga Kepulauan Seribu tersinggung dengan ucapan Ahok, mereka pasti akan menolak mentah-mentah program yang ditawarkan Ahok. Masyarakat justru merasa senang dan berterima kasih dengan program yang ditawarkan oleh Ahok. Program yang ditawarkan Ahok memberikan harapan kepada warga Kepulauan Seribu untuk dapat meningkatkan penghasilan.

    Jika ada lagi warga Kepulauan Seribu yang tiba-tiba merasa tersinggung atas ucapan Ahok jelas itu mengada-ngada dan bukan mewakili warga Kepulauan Seribu. Ketika ada tiba-tiba ada orang yang mengaku sebagai warga Kepulauan Seribu yang mengaku tersinggung atas ucapan Ahok jelas ini menghina warga Kepulauan Seribu. Dia membuat citra warga Kepulauan Seribu menjadi buruk karena pengakuannya tidak sesuai dengan mayoritas warga Kepulauan Seribu.

    Mudah-mudahan masyarakat Indensia semakin menyadari bahwa kasus yang menimpa Ahok adalah murni politik. Agama hanya dijadikan sebagai baju demi memuluskan kepentingan-kepentingan politik. Ahok terlalu tangguh untuk dikalahkan. Apalagi lawan Ahok adalah pendatang baru yang masih hijau dan minim prestasi. Ahok terlalu sulit dicari kelemahannya. Isu penistaan Agama menjadi cara yang paling ampuh untuk menggagalkan Ahok menjadi gubernur DKI 2017-2022.

    Mungkin seperti itu….

    Penulis : Saefudin Achmad   Sumber :  Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Masih Percaya Warga Kepulauan Seribu Tersinggung? Ini Buktinya ! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top