728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 19 Januari 2017

    Lagi-lagi Saya Tertegur Ahok: Refleksi Seorang Pendendam

    Jakarta, Warta.co - Ngomongin Ahok memang tiada habisnya. Ibarat makan, ngomongin Ahok itu macam makan di Chinese Buffet di kota saya tinggal ini. All you can eat, asal perut kuat dan muat aja. Namun bagi saya, ngomongin Ahok itu juga seperti makan makanan yang menyehatkan badan. Bedanya, kalau ngomongin Ahok, yang mendapat makanan adalah jiwa saya. Selalu ada pelajaran baru bagi hidup saya.

    Dan lagi-lagi, pelajaran dari Ahok harus mulai dari saya tersinggung…eh, tertegur tepatnya. Saya harus mengakui, bahwa saya adalah seorang pendendam. Kalau orang melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan pada saya, saya akan merasa puas kalau bisa melakukan hal yang sama, atau bahkan yang lebih kejam. Tapi Ahok kemudian menyadarkan saya dan memberi saya motivasi untuk berubah.

    Saya tidak mau membahas Badja di Mata Najwa semalam. Sudah banyak yang mengulasnya. Kali ini ada kisah Ahok di masa lalu yang memberikan sebuah pelajaran berharga bagi saya.

    Adalah kisah Ahok sebagaimana dituturkan oleh pemilik akun twitter @kurawa, yang dimuat dalam Kompas, 16 Januari 2017.  Diceritakan di sana bahwa ada satu pembenci Ahok yang kemudian menjadi pendukungnya nomor satu di Belitung. Merasa penasaran, saya mencoba mencari kisahnya, dan saya menemukannya di Tribunnews, 16 Januari 2017.
    Apa dilakukan Ahok terhadap Kani mengingatkan saya akan sebuah kata bijak, Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!
    Tindakan sederhana Ahok itu mengajak saya, mungkin juga kita, untuk berpikir bahwa kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan. Bayangkan jika Ahok melakukan yang sebaliknya terhadap Kani, tidak membantunya dalam pembangunan masjid. Andai Ahok malah mengejek dan nyukurin Kani sebagai akibat dia tidak mendukungnya. Saya yakin, hingga saat ini Kani akan tetap menjadi musuh nomor satu bagi Ahok.
    Satu hal yang saya, atau kita semua, perlu syukuri adalah bahwa semangat itu tidak luntur dari diri Ahok.

    Ingat peristiwa Pulau Seribu? Ah, pertanyaan bodoh, hehehehe… Bagaimana kita bisa lupa sementara persidangan kasus itu belum selesai. Yang saya maksudkan adalah kata-kata Ahok sebelum kalimat yang dipermasalahkan oleh para “saksi palsu.” Ahok mengatakan bahwa biarpun masyarakat Pulau Seribu tidak memilihnya dalam pilgub mendatang karena bla..bla..bla.. itu, tidak berarti bahwa Ahok akan menghentikan programnya selama ia menjabat sampai Oktober 2017. Mengerti yang saya maksudkan, bukan?

    Bandingkan sikap Ahok itu dengan perilaku RS. Eh, RS yang saya maksud bukan Si Sukro, Sang Mantan Panci. RS yang saya maksud itu RS yang Sekjend PDIP (mengikuti pendapat KH Said Aqil Siradj) tidak mau menyebutnya Habib. Tahu kan maksud saya? Masih belum kadaluarsa kan kalau saya ngomongin dia? Toh kasus lapor-melapor dan adu-mengadunya masih belum kelar kan?

    Saya tak akan merinci perilaku si RS itu di sini. Namun, kalau kita kembali bicara soal perilaku lucu RS, barangkali kata-kata Nietzsche soal balas dendam ini berlaku bagi si RS:
    “If our honor has suffered from our opponent, then revenge can restore it… our opponent thus demonstrated that he did not fear us. By revenge we demonstrate that we do not fear him either.” (Basic Writings of Nietzsche, terj. & editor: Walter Kaufmann, hlm. 161).
    Kalau saya artikan secara bebas, bagi si RS berlaku hukum “yang paling kuat gertak, dia yang menang.” Perilaku si RS ini jadi mengingatkan saya pada cerita anak-anak yang berdebat tentang ayah siapa yang paling hebat
    • Dudul     : oh iya….kalian tau Monas kan… itu ayahku yang buat loh…..
    • Dodol   : ayahku lebih hebat…soalnya dia yang buat Candi Borobudur..
    • Dudul     : ayahku kemaren baru saja dipanggil menteri pendidikan…
    • Dodol    : ayahku malah dipanggil presiden…
    • Dumbi    : ayahku lebih hebat lagi…..
    • Dudul    : emang ayahmu dipanggil siapa, Dumb…?
    • Dodol    : iya Dumb, emang ada yang lebih hebat dibanding dipanggil presiden?
    • Dumbi    : ada lah… baru saja kemarin ayahku dipanggil TUHAN…..
    Merenung sejenak, saya kemudian jadi bertanya-tanya, kalau saya mau melibas balas dendam, apakah berarti saya tidak boleh marah? Apakah saya tidak boleh mendongkol? Tidak boleh merasa apa-apa? Tidak boleh membela apa-apa? Tidak boleh memperjuangkan sesuatu?

    Sekali lagi, saya kira Ahok memberikan jawabannya. Ahok menunjukkan bahwa memberikan pipi kiri bila ditampar pipi kanan bukan berarti diam di mana ketidakadilan muncul. Ahok mengajarkan saya bahwa situasi keburukan yang diterima adalah sarana untuk memberi kesempatan baru bagi sesama yang menjadi saingan, yang menyakiti, dan yang memusuhi untuk dibalik ke dalam kebaikan.
    Marcus Aurelius (Kaisar Romawi pada abad ke-2), dalam Meditations, Buku ke VI, mengatakan, “The best revenge is to be unlike him who performed the injury.”
    Saya setuju, diguncang, difitnah, dilecehkan itu tidak enak. Namun, kalau terus harus saling membalas, bukankah lingkaran setan balas dendam itu tidak akan pernah putus, bahkan makin parah?

    Ah, sudahlah…. Daripada saling balas dendam dan buat hidup nggak tentram, kan mendingan saling balas budi, biar hidup lebih berarti. Terima kasih, Pak Ahok, atas pelajaran hidupnya. Semoga saya, dan mungkin kami semua, bisa belajar bagaimana melibas balas dendam.

    Oleh :  armand kelik  - Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Lagi-lagi Saya Tertegur Ahok: Refleksi Seorang Pendendam Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top