728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 18 Januari 2017

    Kecerdasan Jenderal Polisi Tito Karnavian

    Jakarta, Warta.co - Sebagai wong Palembang yang sama-sama cerdas (cieeeee ngaku-ngaku….), saya turut bangga atas sepak terjang Pak Tito Karnavian belakangan ini. Ia memang seorang Jenderal yang cerdas dan cermat. Dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi bangsa saat ini, beliau bermain cantik. Kecantikan permainan Pak Tito memang tidak bisa dibaca oleh sebagian orang secara kasat mata, namun jika kita mau mencerna berbagai langkah yang beliau ambil, kita dapat lihat dan mengerti apa yang sebenarnya sedang beliau lakukan. Mundur selangkah demi maju tiga langkah, inilah kalimat yang tepat untuk menggambarkannya.

    Sejujurnya saya pribadi sempat menilai Bapak polisi yang satu ini tidak baik ketika dirinya dengan begitu semangatnya berdebat dengan Prof. Sahethapy di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) tentang cara penangkapan terhadap Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kala itu Pak Bambang Widjojanto oleh polisi yang memborgol dan mem-perban mulut Pak Bambang. Saya secara pribadi waktu itu juga sangat kecewa terhadap perlakuan Polri terhadap seorang pemimpin lembaga negara yang terhormat dengan alasan yang diberikan Pak Tito kala itu yang lucu terdengar di telinga saya: equality before the law (maka diborgol dan diperban mulutnya Pak Bambang).

    Namun, saya mulai merasakan kecerdasan Pak Tito ketika dirinya menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya (Juni 2015-Maret 2016). Pada saat itu, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ingin melakukan penertiban di wilayah Kalijodo yang merupakan sarang prostitusi dan perjudian. Daeng Azis saat itu sebagai tokoh masyarakat di Kalijodo (yang juga memiliki bisnis kafe disana) yang katanya mewakili warga setempat menolak penertiban dan mendatangi Komnas HAM serta juga DPRD untuk meminta dukungan “politik” dari Kebon Jeruk.

    Berbagai ancaman dari preman terhadap polisi dan juga ancaman terhadap warga yang mendaftar rumah susun cukup membuat saya khawatir. Ditambah lagi ada ancaman telanjang dari pelacur Kalijodo yang membuat kita resah akan potensi konflik yang mungkin terjadi pada saat penertiban dilakukan. Namun ternyata Kapolda Metro Jaya Pak Tito yang kala itu masih berpangkat Irjen tahu benar bagaimana cara jitu untuk mengatasi masalah penolakan penertiban dan disaat yang sama juga melaksanakan perintah Gubernur Ahok.

    “Perang” dengan Kalijodo pun lalu dimulai Polda Metro Jaya dengan melemahkan Daeng Azis terlebih dahulu. Serangan pertama adalah dengan melakukan razia di kafe milik Daeng Azis dan menyita ratusan senjata tajam. Serangan kedua, Daeng Azis pun ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan prostitusi di Kalijodo. Setelah tidak memenuhi panggilan pemeriksaan polisi sebagai saksi kasus tersebut, dua hari kemudian Daeng Azis ditangkap terkait kasus dugaan pencurian listrik di kafenya.

    Tanpa Daeng Azis, di akhir Februari 2016 pun lalu wilayah Kalijodo berhasil ditertibkan tanpa perlawanan warga dan konflik apapun setelah “boss” mereka diamankan polisi. Tidak sampai disitu saja, kemudian Daeng Azis juga dikenakan kasus dugaan pencurian air setelah ditemukan bukti permulaan penyambungan air ilegal ketika dilakukan penertiban.

    Saya luar biasa bahagia setelah mengetahui akhir cerita penertiban Kalijodo dan luar biasa puas atas strategi yang diterapkan Pak Tito kala itu. Ibarat dalam peperangan, Pak Tito sebagai “panglima” yang memegang titah dari sang raja dapat bermain cantik dengan melucuti senjata lawan, dan di saat yang sama menyusun strategi jitu bagaimana untuk melemahkan dan menangkap sang raja agar dapat memenangkan pertarungan tanpa pertumpahan darah antar prajurit-prajurit kecil dari kedua belah pihak.

    Akhir cerita, Bapak (Ahok) senang, warga tenang, dan preman pun kejang-kejang. Semua selesai dengan sukacita, kejahatan diberantas dan keadilan ditegakkan tanpa konflik dan hambatan yang berarti.

    Selanjutnya, saya akan melanjutkan ke kasus berikutnya, tapi maaf ya saya memutuskan untuk membagi tulisan ini menjadi dua bagian. Karena analisa saya atas kecerdasan Pak Tito dalam menangani kasus dugaan penodaan agama yang menjerat Ahok memang lebih panjang lagi dari ini. Agar pembaca tidak lelah membacanya, saya pikir lebih baik dibagi menjadi dua bagian.

    Kecerdasan seorang Tito Karnavian juga dapat dilihat dari kasus dugaan penodaan agama yang menjerat Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang memang cukup membuat repot seluruh negeri ini. Akibat dari slip of tongue sedikit, Ahok yang memang memiliki banyak lawan politik akibat kebijakan-kebijakannya yang non-parsial dan memihak kepada rakyat banyak ini terlihat seolah tak berdaya ketika harus diserang dengan isu agama.

    Memang sebagian pihak yang kontra Ahok bilang bahwa Ahok telah memecah belah negeri ini. Namun menurut saya itu keliru. Menurut saya pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Ahok dengan cara menggunakan kasus ini lah yang sesungguhnya memecah belah negeri ini. Ini pendapat saya, Anda boleh saja tidak setuju.

    Mohon maaf dulu sebelumnya untuk umat Muslim yang mungkin berbeda pendapat, namun saya meyakini bahwa tidak sedikit umat Muslim dan Kapolri Tito juga merasakan bahwa respon dan proses hukum yang terjadi pada diri Ahok memang dipaksakan karena kepentingan politik.

    Bagi saya, penodaan agama yang dituduhkan dengan bukti kalimat Pak Ahok ini hanya masalah hati yang bisa ditarik-tarik dan dikena-kenakan sesuai keperluan dan kepentingan yang lain. Memang ketersinggungan agama berdasarkan ucapan ini sulit sekali dibuktikan secara obyektif karena bisa ditarik-tarik dan dirasa-rasakan oleh para pembenci dan lawan politik Ahok. Ketersinggungan kecil bisa dibesar-besarkan menjadi dendam hidup dan mati seolah-olah Ahok telah membunuh semua anggota keluarga mereka.

    Kapolri Tito memahami dan mengerti gejolak yang terjadi di masyarakat. Di satu sisi, dari pernyataan Pak Tito di acara Maja Najwa, saya berkeyakinan bahwa Pak Tito meragukan agar kasus Pak Ahok dinaikkan ke proses penyidikan, namun di sisi lain begitu banyak warga Indonesia yang melakukan demonstrasi 411 itu, yang entah murni dendam hidup mati dan entah dibayar atau tidak, juga merupakan warga negara Indonesia yang sah, yang memiliki hak untuk diayomi dan dilindungi oleh Kepolisian Republik Indonesia.

    Pak Tito tahu bahwa ditetapkan sebagai tersangka bukanlah akhir dari sebuah kasus hukum. Beliau juga tahu bahwa status tersebut akan digunakan sebagai senjata politik untuk menghajar elektibilitas Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta yang akan segera berlangsung. Namun langkah itu memang mau tidak mau harus diambil demi kepentingan yang lebih besar: ketentraman dan keamanan negeri ini. Yaitu apabila setelah ditetapkan sebagai tersangka masih juga melakukan aksi-aksi yang meresahkan masyarakat, ia bisa menggertak balik para aktor demonstrasi dengan tudingan memiliki agenda lain.

    Mundur selangkah dengan “meridhoi” langkah Bareskrim yang menetapkan Ahok sebagai tersangka. Namun Pak Tito melihat jauh ke depan untuk maju tiga langkah, langkah yang akan membuat bangsa ini lebih maju dalam pembinaan jasmani dan rohaninya. Yang pertama, beliau berhasil menekuk berbagai tokoh yang secara liciknya menunggangi kasus Pak Ahok ini dengan tujuan lain (makar).

    Dengan ditetapkannya Ahok sebagai tersangka, berbagai pihak yang berniat meminjam kekacauan negeri kita saat itu untuk ambisi menjatuhkan pemerintahan Pak Jokowi pun merasa seolah di atas angin. Mereka semakin gencar merencanakan aksi berikutnya yang akan diambil pada tanggal 2 Desember 2016 lalu. Namun sayangnya mereka tidak sadar bahwa Pak Tito yang cerdas telah membidik mereka, dan pada akhirnya seperti yang kita ketahui, mereka dibuka kedoknya dan dipermalukan di tengah masyarakat.

    Memang Polri belum berhasil menangkap pemberi atau penyokong dana makar, namun digulirkannya kasus makar ini telah menembak mundur berbagai pihak yang berniat menggulingkan pemerintahan Presiden Jokowi yang sah secara hukum dan konstitusi.

    Kedua, Polri kini sedang on the track untuk meredam penyebaran aksi-aksi radikalisme yang dianggap coba disebarkan oleh ormas “X” di Indonesia. Sudah sejak lama bangsa ini bertahun-tahun membicarakan tentang ormas ini yang kerap mengganggu ketertiban umum dan mengakibatkan keresahan masyarakat. Kali ini kesempatan pun akhirnya tiba.

    Ditambah dengan bantuan dari berbagai elemen masyarakat dan juga kecerobohan mereka sendiri, kini ormas ini sedang berada di ujung tanduk ketika berbagai tokoh mereka dilaporkan ke polisi dan sudah ada yang sepertinya tidak lama lagi akan menjadi tersangka. Lewat kasus Ahok yang mereka sendiri paksakan ini, Polri sedang dalam proses yang nyata untuk menghentikan atau mungkin bahkan meruntuhkan ormas ini secara legal dan melalui proses hukum yang tak bisa mereka bantah lagi.

    Ketiga, melalui kasus Ahok ini, masyarakat Indonesia mendapatkan pendidikan sosial dan politik yang luar biasa. Pendidikan bahwa Ke-Bhinekaan bangsa ini sudah harga mati dan tidak bisa diganggu-gugat oleh siapa pun. Pelajaran bahwa kita sebaiknya politik dan agama jangan dicampur-aduk oleh siapapun demi kedamaian dan ketertiban kehidupan seluruh elemen bangsa ini. Pencerahan kepada rakyat Indonesia bahwa Islam adalah agama yang damai di negeri kita ini, hanya segelintir kelompok saja yang menggunakan nama Islam dengan tidak tepat.

    Tidak hanya itu, bergulirnya kasus ini hingga sekarang juga memberikan tontonan kepada seluruh pelosok negeri ini tentang salah satu putra terbaik bangsa yang begitu bersih dan jujur, yang tulus ingin mensejahterakan rakyatnya, yang mencintai dan dicintai oleh rakyatnya, yang lalu coba dijatuhkan oleh lawan politiknya dan harus kita dukung serta doakan keselamatannya. Ya, putra bangsa yang biasanya dipanggil Ahok itu.

    Dan kini, Pak Tito yang cerdas ini pun lalu melihat kesempatan yang tepat untuk “mengkritisi” fatwa dari lembaga keagamaan MUI yang kala itu sedikit banyak telah membuat “panas” banyak umat Muslim.

    Mungkin MUI bisa berdalih bahwa fatwa dikeluarkan sesuai keperluan dan permintaan, namun saya rasa MUI saat itu juga tidak mengira dampak dari fatwa tersebut turut berperan dalam mengguncang kestabilan dan keamanan negeri ini (Ini Pak Tito yang bilang loh). Inilah juga salah satu pelajaran yang ingin Pak Tito berikan kepada MUI agar ke depannya bisa lebih berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa.

    Andai kata dulu kasus Ahok dihentikan karena tidak cukup bukti, saya rasa ada banyak pihak yang tidak puas dan akan terjadi resistensi yang sangat besar ketika situasi begitu panas saat itu. Berbagai kepentingan bisa bercampur aduk dan entah apa yang akan terjadi pada bangsa ini, saya tidak berani membayangkannya.

    Andai kata saat itu kasus Ahok dihentikan karena tidak cukup bukti, saya rasa ilmu yang diajarkan kepada seluruh elemen bangsa Indonesia lalu tidaklah akan sebanyak ini. Jika kita berhasil melalui kasus ini dengan baik, saya percaya kedepannya bangsa ini akan lebih kuat dan lebih berwibawa lagi.

    Jangan-jangan Pak Tito telah melihat dan memprediksi semua ini ya? Saya curiga jawabannya iya.

    Terima kasih Pak Jokowi telah mengangkat seorang Kapolri yang luar biasa cerdas ini.

    Oleh : Power Aryanto Famili  Sumber : Seword.com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kecerdasan Jenderal Polisi Tito Karnavian Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top