728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 18 Januari 2017

    Kapolri : Enggak Ada, Pokoknya Kapolda Metro & Jabar Enggak Ada Dicopot

    Jakarta, Warta.co - Perseteruan Imam besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Syihab dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan dan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Anton Charliyan kian memanas. Penyebabnya, Rizieq meminta agar Iriawan dan Anton dicopot dari jabatannya.

    Tuntutan pencopotan itu juga dilakukan ribuan orang anggota FPI yang menggelar demonstrasi di Mabes Polri, Senin 16 Januari 2017 lalu.

    Rizieq menuding Irjen M Iriawan dan Irjen Anton Charliyan telah menyalahgunakan wewenangnya untuk mengkriminalisasi para ulama. Rizieq berencana melaporkan keduanya ke Divisi Propam Mabes Polri untuk diperiksa secara hukum.

    “Oknum-oknum di Polri yang menyalahgunakan jabatan, yang mengkriminalisasi ulama atau yang melakukan pekerjaan di luar komando dari kepolisian itu sendiri harus ditindak,” kata Rizieq di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/1) kemarin.

    “Kita laporkan tentang perilaku Kapolda Jabar, juga Kapolda Metro Jaya karena perilaku semacam ini akan ganggu program Kapolri yang justru merupakan amanat dari presiden tentang penegakan hukum,” sambungnya.

    Rizieq membeberkan pelanggaran yang dilakukan Kapolda Jabar yaitu mengerahkan massa dari Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) untuk menyerang para ulama dan santri saat menghadiri pemeriksaannya pada 12 Januari 2017.

    “Bagaimana Kapolda Jabar mengerahkan preman GMBI untuk menyerang ulama dan santri. Itu perilaku yang tidak terpuji,” jelasnya.

    Sementara, Kapolda Metro Jaya diduga melakukan upaya adu domba saat kericuhan aksi demonstrasi akbar 4 November 2016 lalu. Rizieq menilai Iriawan telah menginstruksikan kepada anggotanya untuk menembakkan gas air mata kepada pendemo. Padahal, proses dialog antara perwakilan GNPF MUI dan Pemerintah tengah berjalan.

    “Kapolda Metro Jaya mengadu domba antar-anak bangsa. Nah, kedua, pada saat itu Ustaz Arifin Ilham sedang berdialog dengan Wapres, Menko Polhukam, Panglima, mewakili para ulama yang ada di depan Istana saat aksi 411. Kapolda Metro menginstruksikan tembak gas air mata dan peluru karet ke arah ulama dan umat Islam yang ada di depan Istana,” terangnya.

    Tembakan itu diklaim tidak sesuai dengan komando Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Sebab, saat Tito dan Gatot memberikan komando untuk menyetop tembakan, polisi yang berjaga tidak mendengarkan instruksi tersebut.

    “Tapi ternyata instruksi Kapolri sampai 3 kali tidak diindahkan. Kemudian sampai Panglima TNI yang mengambil alih untuk menginstruksikan berhenti, tetap tidak berhenti. Nah setelah kita investigasi tenyata yang berikan instruksi adalah Kapolda Metro Jaya,” tegas dia.

    Oleh sebab itu, Rizieq mendesak agar Kapolri mencopot Kapolda Metro Jaya dan Kapolda Jabar. Dia menegaskan tuntutan agar keduanya dicopot bukan karena emosi sesaat tetapi demi menjaga citra kepolisian.

    “Jadi kalau kami menuntut Kapolda Jabar dan Kapolda Metro, bukan karena emosi, bukan karena sentimen pribadi. Tapi justru kami ingin menjaga nama baik Polri, citra Polri. Karena Polri milik bangsa, milik rakyat yang harus kita jaga,” katanya.

    Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun angkat bicara. Jenderal polisi bintang empat ini menolak mentah-mentah permintaan Rizieq dan FPI. Jenderal Tito tidak akan mencopot Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan dan Kapolda Jawa Barat (Jabar) Irjen Pol Anton Charliyan.

    “Enggak ada, pokoknya Kapolda Metro dan Kapolda Jabar enggak ada dicopot,” tegas Tito di Rumah Sakit Polri, Jakarta, Selasa (17/1).

    Sementara itu, Irjen Pol Anton Charliyan menegaskan tak masalah jika dicopot dari jabatan sebagai Kapolda Jawa Barat. Anton menyindir Rizieq dengan bersedia menyerahkan posisi Kapolda Jabar kepada Rizieq.

    Namun, dia kembali menyindir Rizieq harus sekolah dulu di Lemhanas jika mau menjadi Kapolda. “Kalau saya mau dicopot silakan saja. Kalau Rizieq mau jadi Kapolda saya berikan, tapi Lemhanas dulu, sekolah dulu. Saya berikan sekarang juga,” kata Anton usai bersilaturahmi ke rumah sesepuh Jabar, Solihin GP di Kawasan Cisitu, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Selasa.

    Dia menegaskan jabatan yang diembannya saat ini adalah amanah dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Sehingga dirinya bersedia dicopot jika memang benar melakukan kesalahan mendasar apalagi mencoreng institusi Polri.

    “Copot saya silakan kalau saya salah. Emang gampang? Sekarang kalau enggak setuju copot. Kalau tidak setuju copot. Sekarang jelas ada yang bakar rusak (markas GMBI di Bogor). Kalau saya ada begitu mundur. Kemudian ini malah berkelit bukan massanya,” tambah Anton dengan nada kesal.

    Sementara Irjen Pol M Iriawan tampak geram saat dikonfirmasi terkait adanya tuntutan FPI meminta Kapolri mencopot dirinya dari jabatannya.

    “Siapa yang mau nyopot? Emang siapa dia mau copot saya? Enak aja,” kata Iriawan dengan nada tinggi di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (16/1).

    Menurut dia, seharusnya Rizieq tak perlu membawa massa saat diperiksa oleh Polda Jabar beberapa waktu lalu. Sehingga persoalan dengan ormas GMBI tak terjadi.

    “Oh enggak ada masalah, harusnya Rizieq kan enggak usah bawa-bawa massa kan jadi masalah sekarang,” kata Iriawan.

    Meski demikian, dia tak mau langsung menindak FPI tanpa ada pelanggaran yang dilakukan. Namun bila terbukti melakukan pelanggaran nanti akan ada proses hukum.

    “Ya kita masih tangani hadapi tapi mengarah ke sana ada. Tidak ada kebal hukum nanti kita lihat perkembangannya kalau ada pelanggaran hukum. Enggak ada ragu ragu,” tutup Iriawan.
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kapolri : Enggak Ada, Pokoknya Kapolda Metro & Jabar Enggak Ada Dicopot Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top